Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Menjaga Dua Nyawa, Menjaga Masa Depan, Jejak Pengabdian Siti Mafruroh di Desa Sumingkir

Khafifah Arini Putri • Selasa, 3 Maret 2026 | 03:51 WIB

Bidan Siti Mafruroh (kerudung hijau) sedang memberikan pengarahan kepada para kader Program SPRING di Desa Sumingkir, Kabupaten Tegal.
Bidan Siti Mafruroh (kerudung hijau) sedang memberikan pengarahan kepada para kader Program SPRING di Desa Sumingkir, Kabupaten Tegal.

RADARSEMARANG.ID, Tegal - Suasana pagi di Pos Kesehatan Desa (PKD) Sumingkir, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, tak lagi sekadar soal timbang badan dan ukur lingkar kepala. Di ruangan sederhana itu, tawa anak-anak bersahutan. Puzzle warna-warni tersusun di lantai. Bola-bola kecil menggelinding. Para ibu duduk melingkar, menyimak, lalu mempraktikkan cara mendampingi anak bermain.

Di tengah suasana itu, ada sosok Siti Mafruroh berdiri tenang. Bidan desa yang sudah mengabdi sejak 1997 itu kini bukan hanya penolong persalinan, tetapi juga garda terdepan dalam menjaga kualitas tumbuh kembang generasi Sumingkir.

“Kalau cuma pertumbuhan, orang tua sudah tahu timbang berat badan. Tapi perkembangan? Cara bicara ke anak? Cara stimulasi yang benar? Itu yang sering terlewat,” ujarnya pelan.

Perempuan kelahiran Pekalongan itu tak pernah membayangkan hidupnya akan lekat dengan panggilan darurat tengah malam. Lulusan perawat yang sempat mendapat tawaran kerja di luar negeri itu justru memilih mengikuti program pendidikan bidan desa dari pemerintah. Keputusan itu membawanya ke Desa Sumingkir.

Tahun-tahun awal bukan hal mudah bagi Siti Mafruroh. Jalan belum beraspal. Telepon genggam belum ada. Ia pun kerap mengayuh sepeda ke rumah pasien. Kadang, persalinan dengan risiko tinggi juga harus ditangani sendiri.

Ia masih ingat, belum genap sebulan bertugas, ia dipanggil menolong ibu melahirkan dalam kondisi kejang. Bayi sudah hampir keluar. Tak ada waktu merujuk. Dengan keputusan cepat, Siti Mafruroh bertindak.

“Alhamdulillah, selamat dua-duanya,” kenangnya.

Ia menyebut dalam sehari pernah menolong lima persalinan. Bahkan, melahirkan anaknya pun dilakukannya sendiri di Polindes, tanpa bantuan rekan. Ia juga pernah berlari mengejar angkutan umum untuk menyelamatkan ibu yang mengalami pendarahan hebat, bajunya penuh darah, tanpa membawa uang sepeser pun. Namun, semuanya dilakukan dengan ikhlas, misinya jelas, meningkatkan kesehatan masyarakat.

Bidan Desa Sumingkir Siti Mafruroh sedang memberikan pengarahan Program SPRING kepada para kader di PKD Sumingkir, Kabupaten Tegal.
Bidan Desa Sumingkir Siti Mafruroh sedang memberikan pengarahan Program SPRING kepada para kader di PKD Sumingkir, Kabupaten Tegal.

Di Desa Sumingkir, Siti mengakui tantangan kesehatan bukan hanya soal akses, tetapi juga pemahaman. Terlebih, mayoritas masyarakat kala itu hanya lulusan SD. Sehingga, kesadaran terhadap pendidikan maupun kesehatan masih minim.

“SDM, utamanya orang tua, itu penting, dan kebetulan di sini kebanyakan lulusan SD. Posyandu dulu juga hanya deteksi umur-umur tertentu, sekilas saja. Tidak ada kelas khusus seperti sekarang,” bebernya.

Orang tua datang, timbang, lalu pulang. Stimulasi di rumah sering tak terpantau. Bahkan, tak sedikit yang menganggap perkembangan anak akan berjalan alami tanpa perlu pendampingan.

Dari situlah peran barunya semakin terasa ketika Program SPRING (Early Stimulation in Primary Health Service Integration) hadir di desa itu.

Program ini merupakan inisiatif Tanoto Foundation yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Tegal. Tujuannya jelas, untuk memperkuat stimulasi tumbuh kembang anak usia 0 sampai 6 tahun melalui kelas terstruktur di layanan kesehatan primer.

Siti dipercaya menjadi Koordinator Desa Program SPRING. Ia pun menjelaskan, jika sebelumnya posyandu hanya fokus pada fisik, kini PKD Sumingkir memiliki kelas stimulasi terpisah berdasarkan usia 0 sampai 1 tahun, 1 sampai 2 tahun, hingga 5 sampai 6 tahun. Setiap kelas berisi 10 sampai 12 ibu dan anak.

Di kelas 0 sampai 1 tahun, ibu diajari pentingnya kontak mata, mengulang ocehan bayi, melatih duduk, dan berdiri. Usia 1 sampai 2 tahun fokus pada bahasa dan eksplorasi. Usia 2 sampai 4 tahun pada imajinasi dan sosial-emosional. Sedangkan usia 4 sampai 6 tahun mulai belajar kontrol diri, menyelesaikan tugas, hingga pengenalan baca tulis.

“Sekarang ibu-ibu bisa praktik langsung. Enggak campur dengan posyandu. Ada waktu khusus. Lebih detail,” katanya.

Sebagai bidan, ia tak hanya mengawasi. Ia mempunyai tugas memberi materi kepada kader, membuka kelas, bahkan melakukan kunjungan rumah bagi yang absen. Awalnya tak mudah. Banyak ibu-ibu yang belum aware terhadap stimulasi anak. Diberikan penyuluhan pun mereka tak mau.

Berkat Program SPRING, hasilnya pun mulai terlihat. Kini anak-anak lebih percaya diri. Anak-anak lebih aktif bersosialisasi. Orang tua lebih sabar. Bahkan, ada ibu yang rela berjalan kaki 15 menit demi mengikuti kelas.

“Anak yang dulu pasif sekarang lebih berani. Yang penting itu ibunya. Sekarang sudah sadar, membentak anak itu enggak boleh,” ujarnya.

Bagi Siti, perubahan itu sudah menjadi bukti bahwa edukasi pelan-pelan mulai diterima. Kendati demikian, perjuangannya belum selesai. Ia tetap harus membagi waktu antara kelas stimulasi, kunjungan rumah, layanan persalinan, hingga program kesehatan lain.

Di usia 49 tahun, setelah hampir 29 tahun mengabdi, Siti masih menyebut dirinya “bidan desa biasa”. Namun, bagi warga Sumingkir, ia lebih dari itu. Ia menjadi saksi perubahan desa, dari jalan tanah hingga beraspal, dari persalinan dengan dukun hingga layanan terintegrasi, dari sekadar timbang badan hingga stimulasi perkembangan.

Ketika ditanya apa yang paling membahagiakan, jawabannya sederhana.

“Kalau bisa nolong orang selamat, itu sudah cukup,” tegasnya.

Kini, melalui Program SPRING, ia tak hanya menyelamatkan dua nyawa di ruang persalinan. Ia ikut menjaga ratusan masa depan di ruang kelas kecil PKD Sumingkir. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#Posyandu #perkembangan anak #kontrol diri #stimulasi anak #bidan desa #orang tua #Kabupaten Tegal #lulusan sd #panggilan darurat #Desa Sumingkir #tanoto foundation