RADARSEMARANG.ID - Tegal menyimpan banyak bangunan bersejarah yang diantaranya masih berdiri kokoh hingga saat ini.
Salah satunya adalah bangunan yang biasa dikenal masyarakat sebagai Gudang Barang yang berlokasi di timur Balai Kota Lama Tegal.
Bangunan besar yang masih berdiri kokoh di Jalan Panggung Timur ini ternyata dahulunya digunakan sebagai Stasiun Kereta.
Sesuai dengan nama dan bentuk bangunannya, Gudang Barang pada era kolonial Belanda digunakan sebagai stasiun kereta api barang.
Saat itu banyak berbagai macam hasil bumi daerah Tegal yang dikirim keluar melalui Pelabuhan Tegal.
Untuk mempermudah proses pengangkutan digunakan moda kereta api dan gudang barang mengambil peran sebagai stasiun penyimpanan hasil bumi saat itu.
Saat itu Gudang Barang terhubung dengan rel kereta api Stasiun Tegal di sisi selatan dan rel menuju Pelabuhan Tegal di utara.
Sedangkan hasil bumi Tegal saat itu termasuk salah satu yang terbesar adalah rempah-rempah dan gula.
Apalagi saat itu wilayah Tegal sisi selatan banyak berdiri pabrik gula maka tak heran produknya memenuhi gudang stasiun saat itu.
Salah satu hasil olahan tebu yang banyak diperjualbelikan saat itu adalah tetes tebu atau biasa dikenal dengan pokhot oleh warga Tegal.
Bangunan Gudang Barang sendiri dibangun oleh perusahaan kereta api SCS pada tahun 1912 dan masih berdiri kokoh hingga saat ini.
Atap bangunan terbuat dari lembaran seng bertingkat dan masih terlihat utuh.
Hanya seng-seng yang ada tampak kusam berwarna coklat, mengesankan kurang terawat.
Sementara daun pintu kembar berjajar memanjang dari arah utara hingga ke selatan dengan satu pintu kecil dan dua jendela yang juga kembar.
Bangunan Gudang Barang bertengger di atas tanah cukup luas terhampar rerumputan hijau.
Namun kini kondisinya sudah tertutup seng tinggi pada sisi depan sehingga sulit terlihat dari jalan utama.
Sedangkan rel yang pernah berdiri disekitarnya kini tak berbekas karena menjadi pemukiman penduduk.
Selain itu didepannya terdapat plang aset milik PT Kereta Api Indonesia wilayah Daop 4 Semarang.
Editor : Baskoro Septiadi