RADARSEMARANG.ID - Bioskop pernah menjadi hiburan populer masyarakat pada medio tahun 70 hingga 90an dengan pesatnya industri perfilman.
Tak terkecuali di wilayah Tegal, pusat pemutaran ini mejamur di berbagai tempat baik di pusat kota maupun pinggiran.
Tercatat belasan lokasi bioskop pernah berdiri baik di wilayah Kota Maupun Kabupaten Tegal dengan beberapa peninggalannya.
Saat itu banyak pengusaha yang mendirikan bioskop di wilayah Tegal baik yang memutar film luar negeri maupun lokal.
Hiburan ini sangat digandrungi berbagai kalangan masyarakat saat itu baik kelas bawah maupun kelas atas.
Hal itu pula yang menjadikan beberapa bioskop dibangun dengan konsep kelas atas dan kelas bawah.
Saat itu terdapat bioskop Dewi dan Riang yang banyak dikunjungi oleh orang-orang kaya atau kelas atas.
Sementara masyarakat kelas bawah menikmati film pada bioskop yang lebih kecil seperti bioskop Dewa, Duta, Maya, dll.
Perbedaan kelas ini juga mempengaruhi film yang diputar, pada bioskop kelas atas menyajikan film yang relatif lebih baru.
Sedangkan bioskop kecil memutar film-film yang sudah lama tayang sebelumnya di bioskop kelas atas.
Pembagian kelas ini sepertinya mengikuti sejarah hiburan di Tegal yang sudah ada sejak era Kolonialisme.
Saat itu Belanda membangun pusat hiburan di dekat Pelabuhan Tegal yaitu Society de Slamat yang hanya bisa dikunjungi kaum elit.
Namun pada bioskop di Tegal sendiri hanya pembagian berdasarkan kelas dan fasilitas yang ditawarkan.
Semua golongan masyarakat dapat mengunjungi bioskop manapun sesuai dengan budget yang dimilikinya.
Jika ditelusuri jumlah gedung bioskop di Kota dan Kabupaten Tegal, untuk wilayah Kota Tegal, ada 9 gedung.
Gedung bioskop yang berdiri di sudut-sudut kota, yaitu Bioskop Rex (Dewa), Bioskop Roxi (Dewi), Bioskop Jupiter, Bioskop Lux (Dana), Bioskop Duta, Bioskop Ganefo/Fortuna (Riang), Bioskop Plaza Marina, Bioskop Marina, dan Bioskop Panca Maya.
Sementara itu di wilayah Kabupaten Tegal tercatat ada 6 gedung bioskop yakni Bioskop Rama, Bioskop Singa, Bioskop Raja Banjaran, Bioskop Intan Kagok, Bioskop Pelangi Pagongan, dan Bioskop Omega.
Tetapi era kejayaan hiburan ini mulai memudar pada awal 90an karena meredupnya industri perfilman dan krisis moneter yang terjadi.
Akibatnya terjadi penurunanya minat masyarkat hingga akhirnya bioskop menjadi sepi dan mulai berguguran satu per satu.
Kini beberapa bangunannya peninggalannya sudah berubah fungsi namun sebagian lagi harus berakhir terbengkalai.
Editor : Baskoro Septiadi