RADARSEMARANG.ID - Tegal merupakan salah satu yang memiliki berbagai tempat unik baik dari sisi sejarah dan cerita didalamnya.
Namun ada desa di wilayah Kabupaten Tegal yang memiliki sisi keunikan tersendiri yaitu dari bangunan rumah yang ada didalamnya.
Seperti sebuah perumahan elit para artis, banyak rumah di desa ini yang dibangun secara megah dan mewah.
Bagi orang yang pertama kali datang ke desa ini mungkin akan takjub dengan banyaknya rumah dua tingkat yang lengkap dengan halaman dan pagar yang mewah.
Desa dengan banyak rumah kelas elit ini adalah Desa Sidakaton dan Desa Sidapurna yang berada di Kecamatan Dukuhturi.
Kedua desa ini lokasinya masih dalam satu kecamatan yang sama dan letaknya bersebelahan.
Walaupun banyak terdapat bangunan megah, namun suasana di daerah tersebut malah terlihat sepi.
Setelah ditelusuri, ternyata bangunan mewah di 2 desa itu adalah milik para pengusaha Warung Tegal (warteg) yang merantau di Jabodetabek.
Memang sebagian besar warga Desa Sidakaton dan Sidapurna bermata pencaharian dengan membuka warteg di Jakarta dan sekitarnya.
Sehingga desa ini bisa dikatakan sebagai kampungnya para pengusaha Warteg yang mengadu nasib di Jabodetabek.
Rumah mewah yang berdiri disitulah hasil kesuksesan dari perjuangan pedagang warteg yang merantau hingga ke kota besar.
Itulah sebabnya mengapa suasana di dua desa ini nampak sepi karena kebanyakan warganya sedang merantau ke kota lain untuk membuka warteg.
Namun tidak semua rumah mewah tersebut dikosongkan begitu saja, biasanya ada anggota keluarga seperti orang tua yang tinggal disitu.
Desa ini baru akan ramai saat perayaan hari besar seperti Idul Fitri, dimana semua masyarakatnya akan mudik dan berkumpul bersama keluarganya di kampung.
Menurut sejarahnya, warteg sudah ada sekitar tahun 1960-an. Saat itu Ibu Kota Jakarta, sedang dalam tahap pembangunan sehingga banyak warga dari desa yang pindah ke Jakarta untuk mengadu nasib.
Kebanyakan warga laki-laki bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta, sementara perempuan memasak dan menjual nasi bungkus untuk para kuli tersebut.
Dari penjual nasi bungkus itulah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya warteg yang menjamur di Jabodetabek.
Editor : Baskoro Septiadi