RADARSEMARANG.ID - Selain menyimpan banyak tempat dan bangunan bersejarah, Tegal juga memiliki banyak ragam kuliner khas didalamnya.
Salah satunya adalah Sega Ponggol atau Nasi Ponggol yang menjadi makanan khas untuk wilayah Tegal dan sekitarnya.
Nasi ponggol merupakan makanan yang di dalamnya berisi nasi dengan lauk sambal goreng tempe untuk versi klasiknya.
Kedua jenis isian ini kemudian dibungkus dengan menggunakan daun pisang yang dipincuk dengan dua biting atau lidi kecil di kedua ujungnya.
Namun tak banyak yang tahu, ternyata makanan sejenis nasi campur ini lahir dari perjuangan rakyat Tegal terutama pada masa Kolonial.
Saat itu wilayah Tegal menjadi menjadi pusat perdagangan dan ekonomi di wilayah pesisir, banyak pedagang dan nelayan luar daerah yang singgah melalui Pelabuhan Tegal.
Selain itu sektor perkebunan juga semakin masif di wilayah Tegal terutama tebu yang didukung banyaknya pabrik gula di daerah ini.
Sega Ponggol inilah yang mengambil peran saat itu menjadi makanan yang diberikan kepada pekerja perkebunan tebu pada era penjajahan.
Pembagian nasi ponggol yang telah dipincuk merupakan bentuk pembagian yang adil dan cukup untuk semua pekerja oleh pemilik atau mandor kebun.
Selain itu nasi ponggol juga diberikan untuk para petani bawang sebagai menu sarapan saat hendak pergi ke sawah.
Saat ini nasi ponggol tetap bertahan sebagai makanan masyarakat Tegal, namun terdapat beberapa perubahan pada penyajiannya.
Isiannya tak sebatas hanya nasi dan sambal goreng tempe saja, namun ditambahkan lauk lainnya seperti mie atau bihun goreng, oseng sayur, ayam, telur, dan berbagai macam gorengan.
Umumnya nasi ponggol dijual untuk sarapan di pagi hari, penjualnya hampir disetiap kampung di Tegal bisa ditemui dengan mudah.
Dengan harganya yang murah mulai dari Rp3 ribu membuatnya jadi makanan yang populer untuk sarapan.
Editor : Baskoro Septiadi