RADARSEMARANG.ID - Tegal merupakan salah satu daerah penting pada masa kolonial Belanda, banyak bangunan perkantoran yang berdiri di kota itu.
Selain itu, Tegal juga pernah menjadi ibukota karesidenan yang membuatnya menjadi kota yang diperhitungkan.
Maka tak heran jiika banyak para orang Belanda termasuk pejabat penting yang dimakamkan di Kota Tegal.
Pemakaman orang-orang Belanda itu biasa disebut dengan istilah Kerkhof, untuk di Tegal sendiri berlokasi di Jalan Hangtuah, Kelurahan Tegalsari.
Dahulu kerkhof tegal diisi oleh makam-makam para pejabat tinggi dan orang-orang Belanda pada masa itu.
Adapun tidak hanya para pejabat tinggi pemerintahan saja yang dimakamkan di kerkhof.
Diantara makam-makam pejabat tinggi, ada pula makam dokter, juru tulis, guru, ahli botani, pastur hingga makam tentara.
Khusus makam tentara belanda di era agresi militer I dan II, makamnya ditempatkan khusus seperti didalam sebuah bangunan berbentuk kotak.
Bahkan dalam kompleks pemakaman ini terdapat sebuah makam yang berusia 200 tahun milik orang Belanda saat itu.
Pada tahun 2000 tercatat terdapat 1.253 makam Belanda yang ada di dalam Kerkhof Tegal, namun kini hanya tersisa puluhan.
Salah satu makam terkenal di Kerkhof Tegal adalah makam Pieter Van De Poel yang lahir tahun 1786 dan meninggal tahun 1833.
Di dalam prasasti makam Residen tertulis De Weled Zeer Gest Heer Pieter Van De Poel bersama dengan istrinya. Bentuk makamnya unik, berbentuk persegi dan berwarna putih
Beliau adalah salah satu Residen Tegal, 1729 sampai 1898, Tegal dinyatakan sebagai Gewest daerah Tegal setara karesidenan yang harus dipimpin oleh seorang Belanda.
Wilayah Gewest Tegal ini meliputi Kabupaten Tegal, Pemalang dan Brebes. Sedangkan kantor Residen berada di Residenhaus atau saat ini menjadi gedung DPRD.
Kondisi Kerkhof Tegal saat ini sudah terlihat lebih rapi, beberapa waktu lalu sempat dilakukan restorasi besar-besaran beberapa makam Belanda oleh Komunitas Tegal History.
Sampai saat ini proses renovasi masih terus berjalan dan diharapkan kedepannya Makam Kerkhof bisa menjadi tempat wisata sejarah.
Beberapa orang Belanda juga sempat mengunjungi komplek pemakaman ini untuk berziarah dan mencari jejak keluarganya yang sempat tinggal di Tegal.
Sebagian blok makam juga masih dimanfaatkan sebagai pemakaman untuk etnis Tionghoa di Kota Tegal.
Editor : Baskoro Septiadi