RADARSEMARANG.ID - Tegal merupakan salah satu kota dengan banyak bangunan sejarah didalamnya, termasuk beberapa cerita heroik hingga unik yang melengkapinya.
Salah satu tempat yang memiliki sejarah heroik adalah Pertigaan Gili Tugel yang berlokasi ditengah kota.
Bagi orang awam mungkin ini hanya pertigaan biasa yang menghubungkan Jalan Arief Rahman Hakim, Jalan Jenderal Sudirman, dan Jalan Diponegoro.
Gili Tugel sendiri merupakan sebutan dari Bahasa Tegal yang berasa dari kata Gili yang berarti jalan dan Tugel artinya putus.
Maka bisa diartikan keseluruhan berarti jalan yang terputus, dibalik nama ini juga ada cerita berdarah yang pernah terjadi di tempat tersebut pada masa kolonial.
Sejarahya berawal dari Amangkurat II yang memerintahkan Adipati Martopuro untuk memaksa Adipati Martoloyo menghadapnya dalam keadaan hidup atau mati.
Amangkurat II sendiri memang terkenal lunak dengan Kompeni, VOC saat itu dengan taktik Devide Et Impera atau Politik Adu Domba berhasil membuat kedua Adipati berseteru.
Martopuro yang merupakan adik seperguruan Martoloyo yang dianggap lawan sepadan adipati Tegal itu.
Merasa diadu domba, kedua adipati ini akhirnya bertemu di Tegal, namun berhadapan dengan Adipati Martoloyo, ternyata Adipati Martopuro tidak sampai hati menyatakan maksud tujuannya.
Adipati Martoloyo pun memberi penjelasan dan nasehat, tetapi tidak tercapai kata sepakat dan justru memicu perselisihan yang berujung menjadi perang tanding.
Martoloyo tetap berpegang teguh pada idealismenya, untuk tidak mau memihak kepada penjajah Belanda atau VOC.
Sedangkan Martopuro tetap keras menjunjung pengabdian dan kesetiaannya pada rajanya, Amangkurat II.
Akhirnya pertarungan yang dikenal dengan perang sampyuh ini terjadi karena mempunyai prinsip sama-sama kuat dan tidak mau diganggu.
Keduanya saling tikam dengan kerisnya ditengah kota yang dikenal dengan Gili Tugel, hingga keduanya sama-sama gugur akibat tusukan senjata itu.
Mendengar Kakak Adik Adipati ini terbunuh, pengasuh kuda Adipati Martoloyo yaitu Gendowor merasa sedih dan marah akibat kematian majikannya itu.
Gendowor bahkan bersumpah akan menumpas semua kompeni dan orang Belanda di sekitarnya.
Tak hanya bersumpah, bahkan ia dengan memacu kudanya mencari orang Belanda dan menebas kepala para kompeni yang ditemui.
Termasuk di tempat pertarungan kedua adipati itu, Gendowor memenggal beberapa orang Belanda yang ada disana.
Akibatnya ditempat itu banyak kepala atau leher yang bergelimpang atau dengan istilah Gulu Tugel atau Leher Putus.
Peristiwa ini juga menjadi asal muasal penamaan persimpangan itu hingga dikenal sampai saat ini.
Editor : Baskoro Septiadi