RADARSEMARANG.ID - Banyak orang mengenal situs purbakala di Indonesia seperti Sangiran, Trinil, Ngandong yang banyak muncul di buku pelajaan sejarah.
Namun di wilayah Tegal juga terdapat situs prasejarah yang tak kalah bernilai dan menyimpan banyak peninggalan masa purba.
Situs ini terletak di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal atau disisi Timur dari Pusat Kota Tegal yaitu Situs Purbakala Semedo.
Sesuai namanya pusat penemuan sisa prasejarah ini terletak di Desa Semedo, situ ini masih menjadi bagian dari jajaran Pegunungan Serayu Utara.
Situs ini tergolong masih baru, fosil pertama kali ditemukan oleh warga sekitar yaitu Dakri, Duman, Sunardi, dan Ansori pada Juni 2005.
Saat itu ditemukan beberapa fosil hewan vertebarata dan gajah purba yang diduga endemik wilayah Semedo.
Dari temuan tersebut kemudian disambut oleh beberapa pihak seperti LSM, ahli dari Situs Sangiran dan Balai Arkeologi Yogyakarta.
Akhirnya ditemukan adanya potensi luar biasa dari daerah ini dan diadakan penelitian hingga nama Semedo berhasil muncul ke permukaan.
Wilayah ini menyimpan jejak kehidupan berupa data faktual evolusi manusia, budaya dan lingkungannya sejak setidaknya 1,5 juta tahun yang lalu.
Luasan situs berdasarkan sebaran temuan menunjukkan areal yang luas, paling tidak 3x3 km persegi.
Daerah penemuan ini merupakan bagian paling barat dari Jajaran Pegunungan Serayu Utara dan merupakan batas Pulau Jawa bagian timur pada akhir Kala Pliosen, ketika Jawa Tengah masih berada di bawah laut sekitar 2,4 juta tahun yang lalu.
Saat ini untuk mendukung penemuan benda prasejarah dan pusat informasi maka dibangunlah Museum Situs Semedo.
Usai pembangunan yang memakan waktu, Museum ini diresmikan pada 12 Oktober 2022 bertepatan dengan Hari Museum Nasional.
Di dalam museum ditampilkan fosil-fosil purba yang ditemukan di Situs Semedo.
Koleksi Museum Situs Semedo diperkirakan usianya lebih tua dibandingkan fosil-fosil yang pernah ditemukan di situs lain di Indonesia.
Temuan-temuan fosil fauna di sekitar perbukitan Semedo yang ditampilkan di museum menggambarkan panjangnya rentang kehidupan pada masa prasejarah.
Editor : Baskoro Septiadi