RADARSEMARANG.ID - Kota Tegal pada era kolonial dikenal sebagai daerah strategis karena dilewati Jalan Raya Pos dan Jalur Kereta Api.
Oleh karena itu sudah bisa dipastikan di kota ini dibangun stasiun kereta api untuk keperluan penumpang dan pengangkutan barang.
Mungkin sebagian besar orang mengenal satu stasiun di kota bahari yaitu Stasiun Tegal yang sampai saat ini masih berdiri kokoh.
Namun pada era kolonial, di wilayah Kota Tegal sempat berdiri 2 buah stasiun yang dibangun oleh perusahaan kereta api yang berbeda.
Meskipun pada akhirnya dikelola oleh satu perusahaan dan hanya satu stasiun yang difungsikan secara maksimal.
Sampai saat ini bangunan kedua stasiun ini masih berdiri dan dapat disaksikan oleh generasi sekarang.
Stasiun Tegal Lama
Menurut buku "Melihat Sejarah Tegal Dari Sisi Nusantara dan Kolonial," Stasiun Tegal Lama dibangun oleh perusahaan Javasche Spoorweg Maatschappij (JSM).
Lokasi stasiun ini berada disisi utara Stasiun Tegal saat ini, tepatnya di Jalan Panggung Timur atau yang biasa dikenal dengan Tempa.
Pembangunan cikal bakal stasiun di Kota Bahari ini dimulai pada tahun 1885 dan diresmikan pada 17 November 1886.
Awal pengoperasiannya digunakan untuk menjalankan trem, sedangkan rute awal yang dilayani stasiun ini adalah Tegal - Balapulang.
Kemudian pada 16 September 1895, bangunan ini dibeli oleh perusahaan kereta api Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS).
Usai diakusisi oleh SCS, bangunannya mengalami perubahan dengan penambahan kanopi atau atap besar berbahan kayu yang menaungi 2 jalur rel.
Seiring berjalannya waktu dan kebutuhan, stasiun ini akhirnya digantikan oleh Stasiun Tegal Baru yang dibangun di Slerok pada tahun 1918.
Usai berpindahnya operasional ke stasiun baru, kemudian stasiun ex JSM ini dinonaktifkan.
Meskipun sudah lama non aktif, saat ini sisa bangunannya masih dapat dilihat namun kondisinya sudah menjadi koperasi dan rumah makan.
Sedangkan sisa rel nya sudah tertimbun tanah dan bangunan, namun ada sisa rel yang terlihat menyebrangi sungai dan mengarah ke utara atau Pelabuhan.
Stasiun Tegal Baru
Pada tanggal 1 Mei 1918, SCS telah membangun Stasiun Tegal Baru yang berlokasi di dekat gedung birao atau kantor pusat SCS.
Bangunan stasiun dirancang oleh Henri MacLaine Pont, salah seorang arsitek terkenal berkebangsaan Belanda yang dikenal dekat dengan SCS.
Lima tahun sebelumnya, Pont juga menciptakan karya arsitekturnya yang menjadi ikon di Kota Tegal, yaitu Gedung Birao (Kantor Pusat SCS Tegal).
Stasiun inilah yang dikenal banyak orang sebagai Stasiun Tegal yang sampai saat ini melayani perjalanan kereta api.
SCS membuat rencana untuk meningkatkan kapasitas lintas Tegal - Brebes terlebih kebutuhan angkutan penumpang dan barang semakin meningkat.
Selain mengoperasikan stasiun baru, SCS juga mengoperasikan jalur baru.
Jalur lama yang melalui perhentian-perhentian di Limbangan, Kaligangsa, Krandon, Sumurpanggang, dan Pasurungan secara otomatis ditutup karena trem uap digantikan dengan kereta api rel berat.
Jalur baru sepanjang 12 km memiliki keunikan, antara lain jalurnya sejajar dengan jalur cabang Tegal–Prupuk bekas JSM setelah memasuki wilayah Kejambon.
Dengan selesainya jalur tersebut, diharapkan kecepatan kereta api uap pada masa itu dapat ditambah dari 30 menjadi 45 km/jam.
Pasca kemerdekaan dan diambil alih oleh Indonesia, sampai saat ini dikelola oleh KAI Stasiun Besar Tegal masih setia melayani kereta api berbagai jurusan.
Editor : Baskoro Septiadi