RADARSEMARANG.ID - Kota Tegal memegang peranan penting sebagai daerah strategis pada masa kolonial dengan banyaknya fasilitas penting yang dibangun.
Salah satunya adalah Bandara, menurut catatan sejarah lokasinya berada di daerah Martoloyo atau didekat Pantai Pulo Kodok, Mintaragen, Kecamatan Tegal Timur.
Sehingga masyarakat sering menyebutnya dengan istilah Bandara Martoloyo karena berdasarkan nama tempatnya.
Meskipun disebut bandara, namun bangunan yang ada pada saat itu hanya ada sebuah landasan pacu untuk landing dan take off pesawat.
Oleh karena itu lebih cocok untuk disebut sebagai Lapangan Terbang, saat beroperasi saat itu sering menjadi tempat pendaratan pesawat.
Lapangan Udara (Lanud) di Tegal ini dibangun pada masa Belanda. Masyarakat sekitar lebih menyebutnya Bandara Martoloyo walaupun sebenarnya ini hanya sebuah lapangan udara kecil.
Lapangan terbang ini masih berdiri antara tahun 1950/1960an atau pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Selain karena murni akan mendarat di Kota Tegal, menurut penuturan juga beberapa pesawat juga melakukan pendaratan darurat karena mengalami masalah teknis seperti kehabisan bahan bakar.
Umumnya saat itu pesawat mendarat pada pagi atau siang hari, kemudian kembali terbang pada malam hari.
Hal ini membuat lampu kelap-kelip pesawat terlihat dari daerah Martoloyo, sehingga wilayah itu dijuluki Pedukuhan Kelip.
Namun berjalan waktu, intensitas pendaratan pesawat di lapangan terbang Martoloyo makin sedikit membuat kelap-kelip pesawat mulai hilang.
Hingga akhirnya tak ada lagi pesawat yang mendarat yang membuat bandara Tegal itu akhirnya berhenti beroperasi.
Saat ini sisa dari landaran pacu yang digunakan masih dapat dilihat, namun kondisinya tertutup tanaman liar.
Kemudian lokasi sekitarnya kini menjadi perumahan padat penduduk dan jalan sebagai akses menuju tempat wisata pantai Pulo Kodok.
Editor : Baskoro Septiadi