RADARSEMARANG.ID - Sebuah Menara Megah Berwarna Putih berdiri gagah diarea Jalan Pancasila Tegal, Bangunan itu adalah Waterleiding.
Bangunan ini ternyata menyimpan banyak sejarah dan kenangan bagi warga Kota Tegal, salah satunya pernah menjadi alat penanda waktu berbuka puasa.
Dahulu saat Bulan Ramadhan, Waterleiding akan membunyikan sirine pada saat memasuki waktu berbuka puasa untuk wilayah Kota Bahari.
Bunyi khas dari sirine yang berada di puncak menara air ini dapat terdengar hingga beberapa kilometer di wilayah Tegal.
Suara dari bangunan bersejarah ini menjadi hal yang paling ditunggu oleh warga Tegal saat itu terutama saat bulan puasa.
Dalam sejarahnya, Waterleiding merupakan sebuah bangunan berbentuk menara yang awalnya difungsikan sebagai penampungan air.
Bisa dikatakan sebagai tandon air raksasa yang menyimpan kebutuhan air bersih bagi warga Kota Tegal.
Pada bangunan megah ini terdapat sebuah prasasti yang di bagian atas pintu masuk yang tertulis ANNO 1930 dan tulisan berbahasa Belanda.
Dikutip dari buku "Melihat Sejarah Tegal Dari Sisi Nusantara dan Kolonial" karya Akhmad Zaubaedi dan Bijak Cen Sukarno, tulisan pada prasasti tersebut memiliki arti bangunan berdiri sejak 1930.
Dijelaskan juga pada bagian depan setelah pintu gerbang terdapat plakat yang terdapat tulisan yang memiliki arti "Batu peringatan ini diresmikan pada 5 Maret 1932, mengaliri pipa air untuk Tegal dan sekitarnya".
Sekaligus menandakan bahwa Water Toren ini diresmikan pada 5 Maret 1932 atau dua tahun setelah berdiri.
Saat ini Waterleiding masih berdiri kokoh di sekitar area Alun-alun Kota Tegal yang menjadi salah satu daya tarik spot bersejarah.
Apalagi sejak revitalisasi Area Alun-alun Kota Tegal dan Jalan Pancasila pada tahun 2020, menara ikonik ini juga tak luput dari pembenahan.
Hasilnya kini menjadi tampak lebih megah setelah dihilangkannya bangunan ruko yang dahulu berdiri dan menutupi didepannya dan juga mendapat beberapa perbaikan cat dan penambahan lampu led berwarna yang membuatnya lebih menarik saat malam hari.
Bangunan ini sekarang dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Tegal sekaligus kantor yang melayani pembayaran retribusi air bersih dan layanan lainnya.
Bangunan ini juga menjadi asal istilah dalam Bahasa Tegal yaitu "Banyu Ledeng" atau "Air Ledeng" yang merupakan penyebutan untuk air bersih dari PDAM yang diserap dari kata "Leiding" dalam nama Waterleiding.
Editor : Baskoro Septiadi