Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Jadwal Kirab Pusaka dan Kebo Bule Malam Satu Suro di Solo Kembali Digelar

Falakhudin • Sabtu, 21 Juni 2025 | 11:45 WIB
Malam 1 SUro
Malam 1 SUro

 

RADARSEMARANG.ID — Berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi yang meriah, Malam 1 Suro seringkali disambut dengan ritual dan tradisi sakral yang kental nuansa spiritual dan budaya.

Salah satu tradisi paling ikonik yang sering digelar adalah Kirab Malam 1 Suro.

 

Bagi sebagian orang, terutama yang tidak terbiasa dengan budaya Jawa, istilah Kirab Malam 1 Suro mungkin terdengar misterius.

Kirab Malam 1 Suro adalah sebuah prosesi pawai budaya yang diselenggarakan untuk memperingati dan menyambut datangnya tanggal 1 Suro.

Malam 1 Suro sendiri jatuh pada tanggal 27 Juni 2025 mendatang, bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah.

Kirab ini biasanya dilakukan pada malam hari menjelang pergantian tahun, yaitu setelah waktu Magrib pada tanggal 26 Juni 2025.

 

Kata “Suro” diambil dari kata “Asyura” dalam bahasa Arab, yang merujuk pada 1 Muharram.

Tradisi 1 Suro ini diinisiasi oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, pemimpin Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-17.

Tujuannya adalah untuk menyatukan masyarakat Jawa yang kala itu terpecah antara kaum abangan (Kejawen) dan kaum putihan (Islam) melalui perayaan keagamaan dan budaya yang serentak.

Kirab Malam 1 Suro umumnya diselenggarakan oleh institusi yang memiliki ikatan kuat dengan tradisi dan kebudayaan Jawa.

Di Solo, Kirab Malam 1 Suro digelar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan Pura Mangkunegaran.

Kirab Malam 1 Suro di Keraton Solo identik dengan iring-iringan Kebo Bule Kyai Slamet (kerbau bule keramat) yang dianggap sebagai cucu dari kerbau kesayangan Sri Susuhunan Pakubuwono II.

 

Kehadiran kebo bule dalam Kirab Malam 1 Suro sangat dinantikan masyarakat, sebab hewan keramat ini diyakini membawa anugerah dan keselamatan.

Ribuan orang akan membanjiri sepanjang rute kirab, yang biasanya dimulai jelang tengah malam.

Prosesi ini umumnya mengambil rute utama di Kota Solo, bermula dan berakhir di Keraton Solo setelah melewati berbagai titik penting.

Peserta kirab tampil mengenakan busana adat Jawa serba hitam.

Pria dengan Jawi jangkep dan wanita berkebaya hitam.

Pura Mangkunegaran juga mengadakan kirab pusaka, yang biasanya diikuti oleh para abdi dalem, sentana dalem, dan masyarakat.

 

Selain itu, di beberapa daerah lain yang kental dengan budaya Jawa, acara serupa mungkin juga diselenggarakan oleh pemerintah daerah setempat (pemda) atau komunitas adat yang masih melestarikan tradisi ini.

Kirab Pusaka Malam Satu Suro yang digelar Keraton Kasunanan Surakarta dipastikan kembali digelar meriah pada Kamis (26/6) malam.

Tradisi sakral ini akan diikuti oleh lebih dari 5.000 peserta yang turut menyemarakkan momen pergantian Tahun Baru Jawa 1 Sura 1959 Jimawal.

Adik Raja Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Dipokusumo, menjelaskan bahwa bulan Suro tahun ini kembali diisi dengan berbagai kegiatan adat seperti tahun-tahun sebelumnya.

Dimulai dari Kirab Pusaka, dilanjutkan Labuhan Sekawan di empat titik sakral—Gunung Lawu, Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, dan Hutan Krendowahono—hingga ditutup dengan pentas wayang kulit semalam suntuk.

 

 

“Khusus Malam Suro nanti, ada lima kegiatan utama: doa bersama, kirab pusaka, salat kajad di Masjid Pujasana, meditasi di Bandengan, dan salat subuh,” jelas Gusti Dipo.

Kirab Pusaka akan dimulai tepat pukul 00.00 hingga 03.00 WIB, dengan rute khas dari Keraton Surakarta – Alun-alun Utara – Gladag – Loji Wetan – Pasar Kliwon – Gemblegan – Nonongan – Gladag – kembali ke keraton.

Seperti biasa, Kerbau Pusaka (Kebo Bule) Kyai Slamet akan menjadi cucuk lampah (pembuka kirab), dan tahun ini sebanyak 5–7 ekor kerbau telah disiapkan.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Surakarta juga sedang menggodok konsep untuk menyukseskan acara ini.

 

 

Wali Kota Solo, Respati Ardi, mengungkapkan rencananya untuk melibatkan pelajar serta warga kelurahan agar semangat Malam Satu Suro bisa lebih inklusif dan dirasakan semua kalangan.

“Suro itu semestinya menjadi milik bersama, bukan hanya milik simbol-simbol budaya. Masyarakat bisa diajak melalui sanggar seni, anak-anak sekolah, hingga warga kelurahan,” ujar Respati.

Kirab Pusaka Malam Satu Suro yang digelar Keraton Kasunanan Surakarta dipastikan kembali digelar meriah pada Kamis (26/6) malam.

Konsep kolaboratif ini diharapkan mampu menyatukan elemen tradisi keraton dengan semangat partisipatif masyarakat kota modern, membuat Malam Satu Suro tak hanya sakral, tapi juga semarak dan menyentuh lintas generasi. (fal)

Editor : Baskoro Septiadi
#gunung lawu #pantai parangkusumo #gunung merapi #Pura Mangkunegaran #Kerajaan Mataram Islam #Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. #1 Muharram 1447 Hijriyah #tradisi 1 suro #budaya jawa #pura mangkunegaran solo #pemerintah kota surakarta #budaya Jawa. #Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat #pasar kliwon #Sri Susuhunan Pakubuwono II #1 muharram 1447 h #Tahun Baru Masehi #KGPH Dipokusumo #malam 1 suro #Cucuk Lampah #malam 1 suro kapan #kaum putihan #kaum abangan #Respati Ardi #Budaya Jawa adalah #Loji Wetan #Kirab malam 1 Suro #Pura Mangkunegaran Surakarta #1 Muharram #kebo bule kyai slamet #Sultan Agung Hanyokrokusumo #MALAM 1 SURO 2025 #kebo bule #kerbau bule keramat #Tahun Baru Jawa 1 Sura 1959 Jimawal #Kerbau Pusaka #keraton kasunanan surakarta hadiningrat solo #Hutan Krendowahono