RADARSEMARANG.ID - SOLO – Umbul Mantram yang merupakan kegiatan pembuka dalam rangkaian kegiatan wisata Jawa Tengah Grebeg Sudiro digelar malam ini.
Meskipun di guyur hujan, hal ini tidak menyurutkan warga Sudiroprajan dan sekitarnya untuk mengikuti rangkaian acara Umbul Mantram.
Ratusan peserta tetap mengikuti kirab dengan membawa gunungan hasil bumi, gunungan jajanan pasar, serta unggas.
Menurut pantauan Radar Semarang, acara yang rencananya digelar pukul 18.00, harus diundur hingga pukul 19.10, karena kondisi hujan yang cukup deras di Kota Solo.
Setelah hujan lumayan reda, kirab yang dimulai dari kantor Kelurahan Sudiroprajan mulai digelar. Di barisan depan tampak Lurah Sudiroprajan Asthywiana Swastiyani Leo yang ikut serta berjalan, diikuti masyarakat Sudiroprajan, Padepokan Brojobuwono, pegiat seni, pesilat, serta rombongan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS).
Beberapa orang tampak menggunakan payung sambil membawa tumpeng, sementara yang lainnya tetap antusias berjalan mengelilingi Kelurahan Sudiroprajan sambil hujan-hujanan.
Akulturasi budaya Cina dan Jawa pun tampak dari pakaian mereka yang didominasi dengan pakaian adat Jawa dan Tionghoa.
Lurah Sudiroprajan Asthywiana Swastiyani Leo menyampaikan, Umbul Mantram ini merupakan wujud doa dan juga di dalamnya ada kegiatan sedekah bumi. Ini sebagai wujud syukur dan terima kasih warga Sudiroprajan, dengan apa yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada semua warga.
“Dan mohon izin kepada Tuhan dan leluhur kami untuk kelancaran pelaksanaan Grebeg Sudiro. Umbul Mantram ini merupakan kegiatan pembuka dalam rangkaian kegiatan Grebeg Sudiro 2024,” jelas Lurah Sudiroprajan Asthy sapaan akrabnya kepada Radar Magelang saat ditemui di sela-sela acara.
Ia mengatakan, dalam rangkaian Umbul Mantram ini, pihaknya menyiapkan dua gunungan atau biasa dikenal dengan jodang. Yang pertama itu berisi makanan tradisional berupa kue-kue dan yang kedua adalah hasil bumi.
“Hasil bumi ini melambangkan tiga elemen. Yakni hasil bumi di dalam tanah, di atas tanah dan juga di udara,” terangnya.
Untuk hasil bumi di dalam tanah ini ada umbi-umbian, seperti wortel dan beberapa hasil bumi yang ada didalam tanah. Kemudian, ada sayur-sayuran yang tumbuh di atas tanah, dan beberapa hewan yang terbang di udara seperti burung dara.
“Setelah rangkaian doa selesai, sebelum gunungan ini diperebutkan oleh warga. Secara simbolis kami akan menerbangkan terlebih dahulu burung dara. Namun, ini kita lakukan setelah gunungan atau jodang kita kirab terlebih dahulu,” ucapnya.
Kirab dilakukan dengan mulai berjalan dari Kantor Kelurahan Sudiroprajan, dan mengelilingi wilayah kelurahan hingga kembali lagi ke kantor kelurahan. Tampak para anggota PKK dari masing-masing RW 1-9 pun membuka stan berisi kuliner dari masing-masing RW.
Saat rombongan mendekati kantor kelurahan dari arah timur pukul 20.00 WIB, para peserta yang menunggu di kantor kelurahan pun diarahkan untuk berdiri ke arah barat menyambut rombongan kirab. Mereka tampak antusias menggunakan mantol dan payung karena kondisi masih hujan.
Ia berharap setelah kegiatan Umbul Mantram ini berkah-berkah dari Tuhan tetap mengalir bagi warga Sudiroprajan. Dan atas izin leluhur, pihaknya berharap kegiatan Grebeg Sudiro ini bisa berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
“Yakni akulturasi budaya dan kebhinekaan ada di Sudiroprajan,” ujarnya. (rfk/web)
Editor : Agus AP