Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Dari Kios Kecil ke Raksasa Tekstil: Kisah Sritex dan Pemiliknya Sebelum Pailit pada 1 Maret 2025

Tasropi • Senin, 3 Maret 2025 | 18:14 WIB
SEPI : Kondisi salah satu anak perusahaan Sritex, PT Sinar Pantja Djaya di Semarang Barat yang diputus pailit Pengadilan Niaga Semarang.
SEPI : Kondisi salah satu anak perusahaan Sritex, PT Sinar Pantja Djaya di Semarang Barat yang diputus pailit Pengadilan Niaga Semarang.

RADARSEMARANG.ID, Sukoharjo, Jawa Tengah – PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), perusahaan tekstil ternama asal Sukoharjo, Jawa Tengah, resmi dinyatakan pailit dan ditutup pada 1 Maret 2025.

Perjalanan panjang perusahaan yang pernah menjadi kebanggaan Indonesia ini berakhir setelah menghadapi tantangan berat.

Namun, di balik kejayaan dan keruntuhannya, siapa sosok pendiri dan pemilik Sritex?

Awal Mula dari Pasar Klewer

Kisah Sritex bermula dari sebuah kios sederhana bernama UD Sri Rejeki di Pasar Klewer, Solo, yang didirikan oleh Haji Muhammad Lukminto pada 1966.

Dengan kerja keras, Lukminto mengembangkan usahanya hingga mendapat julukan "raja batik".

Pada 1967, ia berhasil membeli dua kios di pasar yang sama. Setahun kemudian, ia membuka pabrik cetak kain pertama di Surakarta, memproduksi kain putih dan berwarna.

Pada 1972, Lukminto merelokasi usahanya ke Desa Jetis, Sukoharjo, dan mendirikan PT Sri Rejeki Isman, yang kemudian dikenal sebagai Sritex.

Puncaknya, pada 3 Maret 1992, Presiden Soeharto meresmikan pabrik Sritex bersama 275 industri lainnya di Surakarta.

Ekspansi dan Kejayaan Global

Sritex tak berhenti di pasar lokal. Pada 1992, perusahaan ini mulai menembus pasar Eropa dan berhasil memasok seragam untuk NATO serta tentara Jerman, membuktikan kualitasnya di kancah internasional.

Sritex kemudian menjadi raksasa tekstil Asia Tenggara, memproduksi rata-rata 24 juta potong kain per tahun untuk 40 negara.

Merek ternama seperti Uniqlo, Zara, JCPenney, New Yorker, Sears, dan Walmart menjadi kliennya.

Pada 2007, Lukminto menyerahkan tongkat estafet kepada putra sulungnya, Iwan Setiawan Lukminto.

Di bawah kepemimpinan Iwan Setiawan, Sritex semakin berkembang, bahkan memiliki sepuluh hotel di Solo, Yogyakarta, dan Bali.

Pada 2013, Sritex resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode SRIL. Kesuksesan ini mengantarkan Iwan Setiawan masuk daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes pada 2020, dengan kekayaan mencapai 515 juta dolar AS (sekitar Rp 8,5 triliun).

Baca Juga: Meski Telah Ditetapkan sebagai Tersangka, Pemilik Hotel Aruss Semarang yang Diduga Terlibat Bisnis Judi Online Belum Ditahan karena Hal Ini

Pemilik Sritex Saat Ini

Saat ini, Sritex dipimpin oleh Iwan Kurniawan Lukminto, anak keempat H.M. Lukminto dan adik dari Iwan Setiawan.

Iwan Kurniawan menjabat sebagai Direktur Utama. Lulusan Johnson & Wales University, Northeastern University, dan Boston University ini juga dikenal sebagai pendiri Museum Tumurun di Surakarta pada 2018, yang fokus pada seni modern dan kontemporer Indonesia.

Selain tekstil, keluarga Lukminto memiliki bisnis lain, seperti Gedung Olahraga (GOR) Sritex di Solo. Iwan Kurniawan juga menjadi direksi PT Huddleston Indonesia. Berikut susunan direksi Sritex saat ini:

Akhir Perjalanan Sritex

Meski pernah berjaya, Sritex harus menutup lembaran sejarahnya pada 1 Maret 2025 setelah dinyatakan pailit.

Kejayaan yang dirintis H.M. Lukminto dan dilanjutkan anak-anaknya kini menjadi kenangan, meninggalkan pertanyaan tentang masa depan industri tekstil di Indonesia. (tas)

Editor : Tasropi
#Sritex #pailit #KANCAH INTERNASIONAL #Sri Rejeki Isman #bursa efek indonesia