RADARSEMARANG.ID - Tim bola voli putri Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia mulai merasakan tekanan jelang menghadapi laga puncak Proliga 2026 yang menggunakan sistem baru Best of Three.
Format ini menjadi sejarah baru sejak Proliga pertama kali digelar pada 2002.
Berbeda dari musim-musim sebelumnya yang hanya memainkan satu pertandingan final, kali ini setiap tim harus siap bertarung hingga tiga laga untuk memastikan gelar juara.
Baca Juga: Jadwal Grand Final Proliga 2026, Juara Ditentukan Dalam dua Kemenangan
Jika kedua tim saling mengalahkan dalam dua pertandingan awal, maka laga ketiga akan menjadi penentu yang sangat krusial.
Situasi ini dinilai tidak mudah bagi para pemain. Selain tuntutan performa maksimal, jadwal pertandingan yang padat menjadi tantangan utama.
Grand Final dijadwalkan berlangsung selam tiga hari berturut-turut, yakni pada 24 hingga 26 April 2026 di GOR Amongrogo Yogyakarta.
Dengan jadwal tersebut, para pemain praktis tidak memiliki waktu pemulihan yang ideal setelah pertandingan pertama.
Kondisi fisik dan mental akan benar-benar diuji, terutama bagi tim yang mengandalkan rotasi pemain terbatas.
Pelatih Gresik, Alessandro Lodi, turut menyoroti kebijakan ini. Ia mengakui bahwa sistem best of three merupakan ide yang menarik untuk meningkatkan daya saing dan kualitas pertandingan final.
Namun demikian, Lodai menyayangkan keputusan penyelenggara yang menjadwalkan laga secara beruntun tanpa jeda.
Menurutnya, hal tersebut berpotensi memengaruhi kualitas permainan para atlet di lapangan.
“Ide yang bagus memainkan final dengan sistem best of three, tetapi bukan keputusn cerdas jika pertandingan digelar tiga hari berturut-turut,” ujar Alessandro Lodi.
Baca Juga: Final Ke 6, Mampukah Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia Juara Proliga untuk Pertama Kalinya?
Kini, Gresik Phonska Plus dituntut untuk menjaga kondisi fisik sekaligus konsistensi permainan demi meraih hasil maksimal di partai puncak. (dan)
Editor : Baskoro Septiadi