Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Cerita dr Mufida, Eks Dokter Tim PSIS Semarang yang Kini Menggeluti Cabor Padel

Ida Fadilah • Minggu, 22 Februari 2026 | 10:14 WIB

 

Ketua Bidang Kesehatan di Pengurus Kota Persatuan Bola Basket Indonesia (PBBI) Kota Semarang, dr Mufida Rizkiyani
Ketua Bidang Kesehatan di Pengurus Kota Persatuan Bola Basket Indonesia (PBBI) Kota Semarang, dr Mufida Rizkiyani

RADARSEMARANG.ID - Ajakan bergabung sebagai Ketua Bidang Kesehatan di cabang olahraga baru Perkumpulan Besar Padel Indonesia (PBPI) Kota Semarang tak ditolak dr Mufida.

Tawaran itu menurutnya datang di saat yang tepat. Tanpa banyak pertimbangan, mantan dokter tim PSIS Semarang itu menerima ajakan tersebut.

“Saya kangen suasana pertandingan, kangen bertemu atlet-atlet,” tuturnya.

Padel, olahraga raket yang kini tengah naik daun, menurutnya menghadirkan tantangan berbeda dibanding sepak bola.

Jika dulu ia akrab dengan cedera hamstring, ACL, atau ligamen lutut akibat duel fisik dan sprint panjang dalam dunia sepak bola, kini pola cederanya berubah.

“Di padel lebih sering kasus di siku dan pergelangan tangan. Seperti tennis elbow, strain, sprain di otot lengan. Walau kaki tetap bisa kena, tapi dominannya di ekstremitas atas,” jelasnya.

Baginya, mempelajari pola cedera baru justru menyenangkan. dr Mufida kembali merasa seperti mahasiswa yang haus ilmu.

Mengamati gerak, menganalisis mekanisme cedera, lalu menyusun strategi pencegahan.

Ia banyak berdiskusi dengan dokter ortopedi dan spesialis kedokteran olahraga untuk memperdalam pendekatan terapi yang tepat.

Menariknya, alumni Universitas Muhammadiyah Purwokerto ini tak sekadar berdiri di pinggir lapangan. Mufida juga turun bermain.

Meski pernah mengalami fraktur bahu kanan akibat kecelakaan, semangatnya tak surut. Proses pemulihan membuatnya lebih memahami perspektif atlet.

Ada rasa takut, batas tubuh, tentang percaya diri yang harus dibangun ulang.
“Belum jago, tapi ya main,” katanya sambil tersenyum.

Pengalaman pribadi itu justru memperkaya empatinya. Ia tahu bagaimana rasanya menahan nyeri, ragu mengayun, atau khawatir cedera kambuh.

Maka dalam setiap evaluasi medis, ia tak hanya melihat hasil pemeriksaan, tetapi juga mendengar cerita atletnya.

Ritme ini menurutnya berbeda dengan sepak bola yang menuntut kesiapsiagaan 24 jam dan tekanan ribuan pasang mata di stadion, padel menawarkan suasana lebih intim, namun tetap kompetitif.

Ia tetap harus jeli membaca situasi, memastikan atlet fit sebelum bertanding, serta sigap menangani keluhan seusai laga.

“Olahraga apa pun, prinsipnya sama. Pencegahan lebih penting dari pengobatan,” ujarnya.

Dara 30 tahun itu kini aktif menyusun edukasi pencegahan cedera bagi komunitas padel. Mulai dari pentingnya pemanasan yang benar, teknik ayunan yang aman, hingga recovery pasca-pertandingan. Baginya, membangun kesadaran sejak awal jauh lebih efektif daripada sekadar mengobati.

Jika ditanya mengapa kembali ke olahraga setelah sempat banting setir, jawabannya sederhana: karena suka.

Terlebih sejak kuliah ia menggarap skripsi tentang aspek kehidupan atlet utamanya kondisi menjelang pertandingan. Alhasil hal itu ia sukai sampai sekarang.

"Sudah sejak kuliah ya senang bidang olahraga. Karena ya menyukai sesuatu itu kadang tidak butuh alasan,” ucapnya.

Sepak bola memberinya pengalaman besar dan jejaring luas. Namun padel memberinya ruang tumbuh yang baru, lebih tenang, tapi tetap menantang.

Dari lapangan besar penuh sorak, kini ia berdiri di arena kaca yang lebih kecil. Tapi dedikasinya sama menjaga atlet tetap berdetak kuat, apa pun cabang olahraganya. (ifa)

Editor : Baskoro Septiadi
#padel #PSIS Semarang #pbpi