Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Bahagia Dipanggil Ibu Atau Bunda, Jadi Panggilan Jiwa dan Kebanggaan Bagi Noviana Dibyantari

Adennyar Wicaksono • Senin, 22 Desember 2025 | 22:41 WIB
IBU BAGI DISABILITAS : Noviana Dibyantari Founder Roemah Difabel Semarang, ketika bercengkrama dan mendampingi anak disabilitas yang menjadi binaan.
IBU BAGI DISABILITAS : Noviana Dibyantari Founder Roemah Difabel Semarang, ketika bercengkrama dan mendampingi anak disabilitas yang menjadi binaan.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Sosok ibu bukan hanya orang yang melahirkan kita ke dunia, sosok ibu bisa ada didalam diri mereka yang mengasihi sesama.

Seperti yang dilakukan Noviana Dibyantari, yang dikenal sebagai ibu bagi disabilitas yang ada di Semarang. Seperti apa kisahnya?

Sosok Noviana dikenal sebagai founder Roemah Difabel Semarang, disana ada ratusan disabilitas yang dilindungi, diberikan tempat dan dilatih untuk mandiri agar bisa bergaul di dunia yang fana ini.

Baca Juga: TPA Blondo Tidak Mempunyai Ipal, Air Lindi Cemari Sungai Bade

Ya total ada 140 anak disabilitas yang dirangkul. Banyak dari mereka kini sudah bekerja, berkat tangan dingin dari sosok yang akrab disapa Novi ini.

“Jumlahnya sekitar 140, saat ini sudah ada 40 anak yang bekerja di hotel, kantor swasta ataupun perusahaan. Lalu ada 50 anak yang membuat usaha mandiri, seperti bengkel, toko sembako dan pulsa, ada yang penulis dan pelukis,” kata Novi saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (21/12).

Novi menjelaskan, mengurus disabilitas bukan perkara mudah. Butuh kesabaran, keuletan yang sangat besar.

Namun baginya apa yang dilakukan saat ini adalah panggilan jiwa, dia merasa senang jika disabilitas dekat dengan dirinya, untuk berkomunikasi ataupun yang lainnya.

Bahkan dia merasa bangga dan bahagia, ketika dipanggil ibu atau bunda oleh anak disabilitas yang dirawat.

Baca Juga: Resmi! Diskon Tarif Tol Nataru 2025–2026, Cek Daftar Ruas dan Tarif Terbarunya

“Bagi saya ini panggilan jiwa, ketika anak-anak panggil saya Ibu atau Bunda, mereka dekat dengan saya, nggak ada hambatan nggak ada halangan, ini kebahagiaan bagi saya sendiri,” tuturnya.

Roemah Difabel Semarang berdiri sejak tahun 2014 lalu dan saat ini ada puluhan anak yang tinggal di rumah tersebut, yang letaknya di Jalan Untung Suropati, Manyaran Semarang Barat.

Selama 11 tahun ini, Novi memfokuskan diri untuk memberikan pelatihan kepada disabilitas agar bisa berdaya dan mandiri.

“Disini ada pelatihan, fokusnya ketika mereka sudah lulus SMALB, mereka diajari untuk mandiri dan bisa berdaya,” ujarnya.

Contoh kecilnya, adalah dilatih mandiri. Novi mengaku anak disabilitas harus bisa mandiri, seperti mandi, mencuci, memasak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya.

Setelah itu dikuasai, baru melangkah yang lebih jauh, misalnya dengan memberikan pelatihan tentang etika kerja agar mereka siap masuk dunia kerja.

“Mereka harus siap dengan segala resiko, misal bekerja di perusahaan atau dengan orang lain, bahkan membuka usaha, sebelumnya ada pelatihan bagi mereka agar bisa berdaya,” ujarnya.

Novi bercerita, ada satu anak dari Roemah Disabilitas yang saat ini mendapat beasiswa ke Belanda.

Baca Juga: Menjelang Tahun Baru, TPG Guru 2025 Masih Ditunggu, Ini Penjelasan Resminya

Hal ini menjadi sisi positif usahanya berhasil untuk memberdayakan kaum disabilitas. Namun ada pula yang menjadi duka, ketika sudah diajari mandiri dan pulang kerumah, orang tua mereka kembali memanjakan sehingga mereka kurang mandiri.

“Kami berjuang membekali mereka, sukanya tentu kalau ada yang juara ataupun berprestasi akan menjadi kebanggan, tapi dukanya ada yang kurang mandiri, misal keluar kerja karena tidak terbiasa bekerja dengan orang lain. Ada pula orang tua yang kurang sepakat kemandirian yang kita ajarkan, sehingga dirumah tidak dikerjakan lagi,” ucanya.

Novi menjelaskan, di Roemah Disabilitas menerima semua anak dengan keterbatasan, misalnya disabilitas mental, intelektual, down syndrome, disabilitas sensorik netra, tuli dan lainnya dirangkul.

Mirisnya, ada pula disabilitas yang menjadi korban bullying, bahkan kekerasan seksual berbasis gender. Roemah Disabilitas, kata dia, juga dijadikan tempat aman bagi para korban.

“Kita rangkul semua, termasuk yang menjadi korban bullying dan kekerasan seksual. Disini bisa menjadi tempat aman, mereka bisa belajar, bergaul dan diawasi selama 24 jam, sebelum kasusnya diproses,” pungkasnya. (den)

Editor : Baskoro Septiadi
#disabilitas #bunda #rumah difabel