RADARSEMARANG.ID, SEMARANG– Hanya sedikit mahasiswa yang mampu menyelesaikan studi Magister dalam kurun waktu 1,5 tahun (3 semester), apalagi dengan segudang kegiatan akademik dan non-akademik.
Namun, Elsan Febiyanti, S.Tr., M.T, lulusan Magister Teknik Kimia Universitas Diponegoro, membuktikan bahwa hal tersebut bukan hal mustahil.
Kisahnya menjadi contoh nyata keberhasilan link and match antara pendidikan vokasi, studi lanjut, dan kebutuhan industri modern.
Elsan memulai studi magisternya pada Februari 2024 dan berhasil menuntaskannya dalam waktu 1 tahun 5 bulan. Ia melaksanakan sidang tesis pada Mei 2025, dan pada bulan Juli Surat Keterangan Lulus (SKL) resmi terbit.
Pencapaian ini menjadikannya salah satu lulusan yang mampu menyelesaikan studi S2 hanya dalam tiga semester — jauh lebih cepat dari rata-rata masa studi empat semester.
Sebelumnya, Elsan merupakan lulusan Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro.
Kombinasi latar belakang vokasi dan magister teknik kimia menjadikannya sosok dengan kompetensi proses yang kuat dan siap menghadapi tantangan di dunia industri.
Baca Juga: Perbasi Jateng Bakal Kembangkan Industri Olahraga Bola Basket
Selama perkuliahan, Elsan tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga aktif di berbagai kegiatan pengembangan diri.
Ia berpartisipasi dalam International Conference on Chemical Engineering and Applied Sciences (ICChEAS), tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Teknik Kimia, serta terlibat dalam penelitian kolaboratif “Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju” dari BRIN. Tak berhenti di sana, ia juga menulis book chapter, menerbitkan jurnal internasional terindeks Scopus, serta menjadi pemilik dua paten granted (nomor IDS000007411 dan S00202412486) dan beberapa Hak Kekayaan Intelektual (HKI) lainnya.
Elsan juga memiliki sertifikat kompetensi BNSP sebagai Analis Kimia dan Teknisi Proses Crude Distilling Unit, pengalaman magang sebagai Process Engineer di PPSDM Migas Cepu, serta pernah menjadi pengajar di SDN Panggung Lor, Semarang Utara — bukti dedikasinya dalam pendidikan dan pengabdian masyarakat.
Bahkan sebelum wisuda dan sebelum terbitnya SKL, Elsan telah berhasil mendapatkan tawaran kerja.
Ia kemudian resmi bergabung setelah SKL-nya terbit di industri manufaktur ban luar dan ban dalam sebagai Process Engineer Technology.
Dalam perannya, ia bertanggung jawab menangani bagian mixing (pencampuran karet), berfokus pada proses dan kegiatan di laboratorium pengujian cepat.
Bidang ini merupakan hal baru baginya, sebab selama kuliah ia tidak berfokus pada pengolahan karet.
Namun, dengan dasar ilmu teknik kimia dan laboratorium yang kuat, Elsan mampu mempelajari seluruh metode pengujian secara cepat dan mendalam.
Selain itu, ia juga dipercaya untuk melatih karyawan laboratorium, mengatur pembagian jam kerja, melakukan rekrutmen dan pengembangan kompetensi, hingga mengelola proses improvement berbasis data.
Elsan juga menjadi pendamping bagi mahasiswa yang melaksanakan magang di industri tersebut, membantu mereka memahami proses industri dan beradaptasi dengan lingkungan kerja profesional.
“Sebagai process engineer, saya harus mampu menganalisis setiap permasalahan berdasarkan data dan mencari solusi yang efektif. Adaptasi cepat dan kerja tim menjadi kunci utama di lingkungan industri seperti ini,” ujarnya.
Elsan juga terus mengembangkan diri dengan belajar Bahasa Mandarin, karena mentornya berasal dari Tiongkok.
Pengalaman lintas budaya ini memperkaya kemampuannya berkomunikasi dan berkolaborasi di lingkungan kerja global.
Menurutnya, kesuksesan bukan hanya soal kecerdasan, tetapi juga tentang kemauan untuk belajar dan bertahan dalam proses panjang.
Ia meyakini bahwa kegiatan di luar akademik seperti organisasi dan pengabdian masyarakat sangat membantu membentuk pola pikir, kepemimpinan, serta kemampuan manajemen waktu dan manusia yang kini sangat berguna dalam dunia kerja.
“Saya berusaha menyusun prioritas sejak awal kuliah — menyicil tugas, membagi waktu dengan bijak, dan tidak menunda pekerjaan. Kebiasaan kecil itulah yang membantu saya bertahan dan berkembang,” ungkapnya.
“Untuk teman-teman yang sedang berjuang, tetap semangat dan percayalah pada proses. Tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain — cukup pastikan kamu terus bergerak maju, sekecil apa pun langkahnya,” tutup Elsan.
Editor : Tasropi