RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Sosok Triyana, Kepala SMP Negeri 28 Semarang, kian dikenal sebagai salah satu sosok pendidik inspiratif di Kota Semarang.
Kepeduliannya terhadap inovasi pembelajaran dan pengembangan guru membawanya meraih predikat Guru Berprestasi Tingkat SMP Kota Semarang pada tahun 2023.
Kemenangan ini diraihnya berkat penerapan strategi pembelajaran unik yang dituangkan dalam buku berjudul IPS Asyik dengan Strategi Cornell.
“Strategi Cornell itu yang menjadi saya juara satu di tingkat kota ya karena kemudian praktik baiknya saya terapkan di kelas,” jelas Triyana.
Triyana memulai karier sebagai guru sejak tahun 1997. Ia lama mengabdi sebagai guru di SMPN 21 Semarang.
Hingga pada 7 Maret 2024 lalu, ia resmi menjabat sebagai kepala sekolah di SMPN 28 Semarang.
Kepindahannya ke sekolah baru tak menyurutkan semangatnya dalam mengembangkan budaya literasi dan numerasi di kalangan siswa dan guru.
Ia juga menjadi Fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation yang bertugas untuk menularkan praktik baik pembelajaran kepada sesama guru.
Menariknya Triyana mendapat ide pengembangan Strategi Cornell ini ketika menjadi fasilitator daerah (fasda) tingkat SMP dari program PINTAR Tanoto Foundation.
“Selama saya mengajar IPS, literasi selalu jadi bagian utama. Anak-anak tidak hanya membaca, tapi juga mengamati video, gambar, bahkan lingkungan sekitar,” imbuhnya.
Triyana menerapkan pembelajaran yang kontekstual dan menyenangkan. Sehingga peserta didik lebih asyik belajar dan lebih mudah memahami materi. Salah satu contoh penerapannya adalah saat membahas materi peta.
Siswa diminta membuat peta perjalanan dari rumah ke sekolah dengan memperhatikan jarak dan skala.
Selain meningkatkan pemahaman materi, kegiatan ini juga mengasah kemampuan numerasi siswa.
Puncak pencapaian Triyana terjadi saat ia mengenalkan strategi pembelajaran cornell. Strategi ini memandu siswa untuk mencatat kata kunci, makna, dan rangkuman materi dalam bentuk tabel tiga kolom.
Ia juga mengombinasikannya dengan diferensiasi media belajar, mulai dari bacaan, video, hingga komik, sesuai dengan minat siswa.
“Itu saya mengangkat strategi kornel dalam pembelajaran IPS saya kombinasikan dengan strategi diferensiasinya. Jadi strategi cornell itu anak-anak bisa menemukan kata kunci dari atau materi esensial dari yang dia pelajari,” bebernya.
Menurutnya, strategi Cornell membantu siswa menemukan inti atau pokok dari materi yang dipelajari secara mandiri.
Pendekatan diferensiasi juga diterapkan untuk menyesuaikan gaya belajar peserta didik. Triyana memberikan pilihan berbagai bentuk literasi agar siswa bisa belajar dengan cara yang mereka sukai.
“Diferensiasi saya berikan dalam bentuk macam-macam literasi. Ada yang bacaan, ada yang komik, ada yang video, macam-macam. Jadi mereka memilih sesuai yang mereka sukai,” akunya.
Hasilnya, pendekatan ini membuat siswa lebih terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Mereka merasa lebih nyaman karena dapat memilih sendiri cara belajar yang paling sesuai.
“Ternyata anak lebih kena (memahami) karena model prosesnya mereka milih sendiri. Kemudian hal-hal yang mereka dapatkan itu mereka dapatkan sendiri dengan berliterasi,” tandasnya. (kap)
Editor : Tasropi