Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Sosok Profil Gus Miftah dan Tugasnya Sebagai Utusan Khusus Presiden RI

Falakhudin • Rabu, 23 Oktober 2024 | 15:14 WIB
KH Miftah Maulana Habiburrahman
KH Miftah Maulana Habiburrahman

RADARSEMARANG.ID, Semarang — Gus Miftah yang memiliki nama lengkap KH Miftah Maulana Habiburrahman, adalah seorang mubalig atau penceramah ajaran agama Islam asal Indonesia yang dikenal dengan gaya dakwahnya yang unik dan dekat dengan kalangan milenial. 

Hari Selasa (22/10) Gus Miftah dilantik menjadi Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan KH Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah) mengaku diberi tugas oleh Presiden Jendral TNI (Purn) H Prabowo Subianto untuk membangun komunikasi internasional terkait toleransi dan moderasi.

“Memang ada salah satu tugas yang disampaikan itu adalah membangun komunikasi internasional terkait dengan moderasi dan toleransi,” kata Gus Miftah usai pelantikan di Istana Kepresidenan Jakarta.

Baca Juga: Ini Daftar 48 Nama Menteri dan Kepala Lembaga Presiden H Prabowo Subianto dalam Kabinet Merah Putih

Baca Juga: GRATIS! Download Foto Presiden H Prabowo Subianto - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Periode 2024-2029 dan Peraturan Pemasangannya

KH Miftah Maulana Habiburrahman membeberkan tugasnya secara umum yaitu menjaga kerukunan beragama dan melakukan pembinaan sarana keagamaan. 

Menurutnya, isu kerukunan adalah hal krusial karena Indonesia diwarnai keragaman ras, suku, dan agama.

Dia pun menyinggung isu moderasi di negara lain seperti di Uni Emirat Arab yang meletakkan permasalahan moderasi dalam wadah kementerian sehingga tidak terbatas pada utusan khusus presiden saja.

“Mudah-mudahan situasi bangsa ini baik-baik saja, sehingga tidak ada gangguan soal toleransi dan moderasi,” ujarnya.

Ia mengusulkan membentuk rumah moderasi untuk mewujudkan moderasi beragama di Indonesia. 

Gus Miftah dilantik menjadi Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan berdasarkan Keppres Nomor 76/M tahun 2024 tentang Pengangkatan Utusan Khusus Presiden RI tahun 2024-2029.

Selain Gus Miftah, ada enam orang lainnya yang ditunjuk sebagai utusan khusus presiden di bidang masing-masing.

Mereka yakni Muhamad Mardiono sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan; Setiawan Ichlas Utusan Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Perbankan; dan Raffi Farid Ahmad Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni.

Kemudian Ahmad Ridha Sabana sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, Ekonomi Kreatif dan Digital.

Mari Elka Pangestu, M.Ec., Ph.D. Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan Internasional dan Kerjasama Multilateral; serta Zita Anjani sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata.

Baca Juga: Sejarah, Tujuan, Pengertian dan Alasan Pemerintah Menetapkan Hari Santri Nasional 22 Oktober

Baca Juga: Sosok Prof. Dr. Abdul Mu’ti Alumni UIN Walisongo Semarang Yang Jadi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah

Baca Juga: Sosok Profil Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, dari Imam Masjid menjadi Menteri Agama Indonesia

Sedangkan Profil KH Miftah Maulana Habiburrahman

KH Miftah Maulana Habiburrahman, atau yang lebih populer disapa dengan Gus Miftah, lahir di Lampung 5 Agustus 1981. 

Gus Miftah memiliki nama kecil Miftah‟in An‟am Maulana Habiburrahman, beliau dikenal sebagai sosok kyai nyentrik asal Yogyakarta.

Beliau juga merupakan keturunan ke-9 Kyai Ageng Hasan Besari, pendiri Pondok Pesantren Tegalsari di Ponorogo.

Gus Miftah juga dikenal sebagai dai muda Nahdlatul Ulama (NU) yang dakwahnya berfokus pada kaum marjinal, baik melalui dakwah di dalam maupun di luar pondok pesantren. 

Selain itu sosok Gus Miftah juga menjadi kontroversi, setelah video dirinya tengah berceramah di salah satu club malam tersebar di media sosial dan menjadi viral. 

Tidak sedikit yang mencibir, namun tidak sedikit pula yang memberikan pujian atas aksinya yang tidak biasa tersebut.

Setelah berdakwah dengan keluar masuk di tempat-tempat hiburan malam, Gus Miftah akhirnya berinisiatif mendirikan pondok pesantren yang nantinya berisi kaum marjinal yang ingin lebih mengenal Allah. 

Pondok Pesantrennya di namakan Pesantren Ora Aji yang bertempat di Tudan, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta dan didirikan tahun 2011.

Nama pesantrennya memang berbeda dengan kebayakan pondok pesantren pada umumnya. Kata “Ora Aji‟ diambil dari bahasa Jawa yang memiliki arti tidak berarti atau tidak berharga. 

Baca Juga: Mengenal Sosok Profil KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq

Baca Juga: Belum Banyak yang Tahu, Ini Sosok Profil Gus Iqdam

Baca Juga: Profil K.H. Taj Yasin Maimoen, dari Santri untuk Negeri, Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah 2024-2029

Baca Juga: Free Download kalender 2025 Vektor: Lengkap Indonesia, Jawa dengan Weton, Neptu dan Bulan Hijriyah Islam

Maknanya, tidak ada yang berharga di mata Allah selain iman dan ketakwaan yang ada pada dirinya sendiri.

Jalan dakwah yang dilakukan beliau memang banyak menuai pro dan kontra, tapi menurutnya, selalu ada hal baik dibalik sesuatu yang terlihat buruk. 

Gus Miftah memutuskan menjadi dai di dunia malam karena beliau prihatin akan kurangnya kebutuhan rohani bagi mereka yang sebenarnya ingin mendapatkan, tapi sulit untuk memulainya. 

Baginya masih banyak masyarakat yang melabelkan dirinya paling suci, sehingga melihat mereka yang belum mendapat jalan hidayah sebagai manusia kotor dan hina. 

Dengan cara dakwah yang dilakukannya ini, beliau memiliki keinginan dengan menyapu tempat yang kotor menjadi bersih dan menghidupkan lampu di tempat yang gelap.

Dakwah yang dilakukan Gus Miftah juga terinspirasi dari salah satu kyai kondang berasal dari Kediri, yaitu KH Hamim Tohari Djazuli atau yang lebih akrab dipanggil Gus Miek.

Penyebaran dakwah yang dilakukan Gus Miek bisa dikatakan merambah ke semua kalangan, tak terkecuali para preman, pejudi, dan para pekerja dunia malam. 

Tidak hanya Gus Miftah yang menuai kotroversi, dakwah yang dilakukan Gus Miek juga mendapat reaksi yang sama pada masanya.

Namun dengan sikap tenang, Gus Miek berkomentar, “Biar nama saya tercemar di mata manusia, tapi tenar di mata Allah, lagi pula Kyai mana yang mau masuk ke tempat-tempat seperti itu? Padahal mereka juga menginginkan surga, bukan hanya jamaah yang berpeci dan bersarung saja yang menginginkannya.”

Penampilan Gus Miftah pun juga menyesuaikan tempatnya memberi dakwah, dengan celana jeans, baju hem bertuliskan Harley Davidsion, kaca mata hitam, menggunakan sepatu dan tidak memakai peci melainkan memakai blangkon sebagai salah satu ciri khasnya. 

Baca Juga: Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PCNU Kabupaten Semarang Masa Khidmah 2024-2029 Resmi Dilantik

Baca Juga: Ini Dia Susunan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PCNU Kabupaten Semarang Masa Khidmah 2024-2029

Baca Juga: Meriah! Karnaval Pembangunan Desa Sumberejo Kecamatan Pabelan Ditonton Ribuan Warga

Baca Juga: Mengenal Sosok Habib Husein Mutahar, Pengarang lagu 17 Agustus 45 Hari Merdeka Sekaligus Pendiri Paskibraka

Selain itu dakwah yang disampaikan juga menyesuaikan dengan kondisi jamaahnya. 

Dalam dakwahnya, Gus Miftah selalu mengajak para jamaah untuk bersholawat bersama, mengajak mengaji bersama, serta tak jarang mengajak sholat berjamaah, itu salah satu strategi yang digunakan Gus Miftah agar mereka para pekerja dunia malam bisa kembali bermesraan dengan Tuhan-Nya tanpa harus menghakimi dan memperdebatkan status mereka.

 

Nama Panggilan: Gus Miftah

Tempat tanggal lahir: Lampung Timur, 5 Agustus 1981

Pekerjaan: Mubaligh, Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji

Pendidikan: Sarjana Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Agama: Islam

Zodiak: Leo

Orang Tua : M. Murodhi bin M. Boniran bin Kyai Usman (Ayah)

Pasangan: Dwi Astuti Ningsi

Anak: 

Atqiya Maulana Habiburrohman 

Mufti Nabil Ulayya Mekkah

Akun Instagram: @gusmiftah 

Baca Juga: Asal-Usul dan Makna Malam Tirakatan 17 Agustus, Ternyata Begini Sejarahnya

Baca Juga: Baru Tahu, Ternyata Begini Struktur Organisasi Gerakan Pramuka

Baca Juga: Mengapa Hari Pramuka Diperingati Setiap Tanggal 14 Agustus? Ternyata Begini Sejarahnya

Namanya semakin dikenal publik setelah sering memberikan ceramah di klub malam. 

Gaya bicaranya yang santai, humoris, dan mudah dicerna membuat ceramahnya banyak disukai oleh berbagai kalangan, terutama generasi muda.

Dengan memanfaatkan media sosial, Gus Miftah berhasil menjangkau audiens yang lebih luas. 

Video-video ceramahnya viral dan membuatnya menjadi salah satu tokoh agama yang paling populer di Indonesia.

Bahkan, ia sempat mendampingi Deddy Corbuzier dalam membaca dua kalimat syahadat. 

Sejak saat itu, Gus Miftah sering tampil di berbagai stasiun televisi swasta untuk memberikan dakwah.

 

Pendidikan Gus Miftah

Gus Miftah pernah berkuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tetapi tidak selesai di tahun keempat. 

Namun, karena merasa bahwa pendidikan itu wujud tanggung jawabnya kepada orangtuanya dan anak-anak yang mengidolakannya  ia melanjutkan studinya di Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang dan lulus pada Februari 2023 lalu.

Baca Juga: Unik! Intip Keseruan Lomba Agustusan Wakul Gantung hingga Pasang Jilbab Segiempat Bapak-bapak di Sarowo Ungaran Timur

Baca Juga: Sejarah Berdirinya Majelis Ta’lim dan Sholawat Az Zahir

Baca Juga: Belum Banyak yang Tahu, Ini Sosok Profil Gus Iqdam

Gus Miftah mengambil penelitian terkait pendidkan Islam berwasan kebangsaan dengan judul skripsinya “Pendidikan Islam Berwawasan Kebangsaan Berbasis Al Mizah dan Al Miftahiyyah”. 

Bahkan, Gus Miftah juga mendapat Letter of Acceptance untuk melanjutkan kuliah S2 di Unissula. 

Semasa kuliah, Gus Miftah juga aktif di di organisasi kemahasiswaan seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang berfiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU).

Gus Miftah juga mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) Ora Aji di Sleman, Yogyakarta pada 2011. 

Alasannya tidak menggunakan bahasa Arab untuk nama ponpesnya karena Ponpesnya berbeda dari Ponpes lain. 

Ora Aji juga memiliki makna yang mendalam yang artinya “tidak berarti”. 

Nama Ponpes Ora Aji mengandung fislosofi bahwa tidak ada seorang pun yang berarti di mata Allah selain ketakwaan. 

Di ponpesnya ini, Gus Miftah menampung para santri yang sebagian di antaranya adalah anak-anak jalanan, anak punk, dan mantan preman. 

Baca Juga: Diawali dari semangat Al Habib Masyhur, Ini Sejarah Singkat Berdirinya Majelis Al Muqorrobin

Baca Juga: Mengenal Sosok KH Asmuni Muhammad Noor, Pendiri Ponpes Al Ihsan Pandeglang yang Wafat Saat Ceramah Maulid Nabi

Baca Juga: Dikenal Sederhana dan Jadi Panutan, Sosok Gus Lik Kyai Terkemuka Asal Jamsaren Kediri Wafat

Baca Juga: Mengenal Sosok Habib Husein Mutahar, Pengarang lagu 17 Agustus 45 Hari Merdeka Sekaligus Pendiri Paskibraka

Gus Miftah juga mulai dikenal luas oleh publik ketika video dirinya saat memberikan pengajian di salah satu kelab malam di Bali, viral di media sosial (medsos) pada September 2018 lalu. 

Kunci sukses yang lain pada diri Gus Miftah karena sang Istri selalu membaca Sholawat 15.000 kali setiap harinya.

Hal ini disampaikan saat acara Sholawat dan Ngaji Kebangsaan Bersama Gus Miftah serta Habib Zaidan bin Haidar bin Umar Bin Ali bin Hasyim bin Yahya tanggal 8 Oktober 2024. 

Demikian informasi mengenai profil dan biodata Gus Miftah yang dihimpun dari berbagai sumber. (fal/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#uni emirat arab #gus miek #KH Miftah Maulana Habiburrahman #gus miftah #PMII #Habib Zaidan bin Haidar #deddy corbuzier #Unissula #KH Hamim Tohari Djazuli #Muhamad Mardiono #Istana Kepresidenan Jakarta #Setiawan Ichlas #H Prabowo Subianto #Nahdlatul Ulama #NAHDLATUL ULAMA (NU) #Pondok Pesantren Tegalsari #Ahmad Ridha Sabana #Kyai Ageng Hasan Besari #Raffi Farid Ahmad #Mari Elka Pangestu #Utusan Khusus Presiden #Pesantren Ora Aji