Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Devia Nalini Firdaus, Juara Asian Junior Wushu Championship 2023 Siswa Kelas Tiga SMP yang Dijuluki Ratu Peda

Tasropi • Sabtu, 2 September 2023 | 20:06 WIB
Devia Nalini Firdaus. (DOK PRIBADI)
Devia Nalini Firdaus. (DOK PRIBADI)

RADARSEMARANG.ID,  Timnas Wushu Junior Indonesia menorehkan prestasi gemilang di ajang Asian Junior Wushu Championship 2023.

Salah satu atlet asal Semarang berhasil meraih medali emas, perak dan perunggu pada tiga nomor berbeda.

IQBAL AMAR, Semarang, Radar Semarang

Indonesia berhasil memboyong 6 medali emas, 14 medali perak, dan 10 medali perunggu dalam ajang internasional ini.

Siswa Kelas Khusus Olahraga SMP Negeri 3 Semarang Devia Nalini Firdaus tercatat sebagai salah satu penymbang medali. Ia bahkan meraih tiga medali sekaligus.

Emas, perak, dan perunggu di semua kategori dengan memperoleh skor akhir 8.653.

Devia mampu bersaing dengan atlet-atlet dari Macau, Hongkong, China Taipei, Jepang, Korea, Singapura, India, Kazakhstan, Bangladesh, Brunei Darussalam, hingga Myanmar.

Rasa haru dan bangga dirasakan oleh Devia. Ia mengaku baru pertama kali tampil di panggung internasional bergengsi.

Apalagi debut pertama di kompetisi Wushu Asia langsung membukukan medali emas, perak, dan perunggu.

Satu medali emas diperoleh dari kategori Pedang Jian Tsu Putri, sementara perak dari kategori tombak Qian Tsu Putri, dan perunggu dari Tangan Kosong Utara Jian Qien.

Tiga medali itu ia borong saat mengikuti Kejuaraan Asia Wushu Junior yang berlangsung di Macao, 14-20 Agustus 2023.

"Bangga dan senang tapi masih belum cukup. Saya ingin maju di kompetisi yang lebih besar lagi," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang pada Jumat (1/9).

Dari kategori juara yang ia peroleh, memang mencerminkan kesesuaian kemampuan siswi yang saat ini duduk di bangku kelas tujuh itu.

Atlet Wushu Taolu itu paling lihai menggunakan pedang daripada tombak atau tangan kosong.

Bahkan tak sedikit rekan-rekannya mengakui keahlian bocah ragil dari lima bersaudara itu dengan julukan si Ratu Pedang.

Namun, di balik pujian manisnya itu ada kisah perjuangan pahit yang ia rasakan. Berlatih menggunakan pedang tak mudah.

Butuh waktu untuk benar-benar menguasai setiap gerakan. Meskipun desain pedang tidak tajam namun acap kali terkena sabetan pedang saat latihan.

"Sudah biasa sakit kena goresan hingga memar di beberapa bagian tubuh dan pelipis. Kalau dari nol mungkin bisa satu tahun tapi kalau sudah punya basic, saya dua bulan sudah menguasai dan tidak lagi terluka," ucapnya.

Devia mengenal Wushu saat duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Garis keturunannya sangat erat dengan seni bela diri Tiongkok.

Ia dikenalkan oleh sang ayah yang saat itu menjadi pemain barongsai. Selain itu, sang kakek ialah seorang pelatih kungfu Shaolin yang pernah berguru langsung ke Tiongkok.

"Dulu kan sering diajak melihat latihan wushu di Kelenteng Tay Kak Sie. Lalu merasa tertarik dan mendalami sejak usia tujuh tahun," akunya.

Menjadi seorang perempuan yang lihai bela diri Wushu, sejak sekolah dasar dianggap oleh rekan-rekannya tangguh. Seringkali menjadi tempat mengadu ketika teman-temannya dijaili.

"Misal kalau ada yang nakal kemudian mengadu ke saya. Lalu gak berani menjahili lagi," ungkapnya.

Setelah melalui banyak proses dan mulai menunjukkan prestasinya ia ingin terus mengembangkan bakatnya di Wushu. Targetnya ketika nanti sudah matang ingin sekali bisa ikut SEA Games atau kejuaraan dunia. (*/ton)

Editor : Agus AP
#Junior Wushu Championship 2023 #Devia Nalini Firdaus