Menurutnya, musik dangdut mempunyai irama tersendiri. Karena hobinya inilah ia berani tampil di depan banyak orang. Saat SMA, Amanda sering tampil di berbagai acara hajatan. Seperti pernikahan, merti desa, kegiatan-kegiatan alumni, dan sebagainya.
“Sejak kelas 10 SMA, saya mulai gabung kelompok orkes dangdut kakak. Dari sinilah mulai tampil menyanyi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Mahasiswi Universitas PGRI Semarang (Upgris) ini rutin melakukan latihan untuk meningkatkan skill-nya. Disinggung soal tantangan menjadi penyanyi dangdut, Amanda menyebut tatangan terberat mengahadapi orang mabuk. Meski begitu, dirinya menghadapi hal tersebut dengan menyiapkan mental dan percaya diri dengan pengamanan yang sudah ada di kelompoknya.
“Ya hanya batasi diri, mentalnya dikuatkan agar bisa mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu, saya percaya dengan keamanan yang ada di tim saya,” ujarnya.
Meski banyak orang yang memiliki stigma negatif pada dirinya, Amannda tak peduli. Menurutnya, hal tersebut dijadikannya sebagai tantangan untuk terus membuktikan bahwa ia mampu menjadi yang terbaik.
“Urusan perbedaan persepsi orang tentang kerjaan saya, diabaikan saja. Tapi, utamanya saya menyakinkan bahwa diri saya suka dunia ini ya bernyanyi, karena hobi dan cinta seni,” akunya.
Alasannya terjun ke genre dangdut, selain karena hobinya bernyanyi, Amanda ingin melestarikan musik yang mulai ditinggalkan kawula muda ini. Sekaligus mengubah persepsi masyarakat yang selalu memandang negatif musik dangdut.
Ke depan, Amanda berkeinginan rekaman dengan lagu karyanya sendiri.
“Targetnya nanti setelah lulus bisa punya lagu sendiri. Kemudian bisa berkarya di industri musik Indonesia,” harapnya. (kap/aro) Editor : Agus AP