Warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Batang ini mulai merintis usahanya sejak 2015. Ia memberanikan diri membuat sebuah brand sendiri. Namanya Vellea.
Wulan—sapaan akrabnya-- lebih fokus memproduksi baju maupun gaun-gaun eksklusif. Pakaian itu hanya diproduksi tunggal. Sehingga tidak ada kembarannya. Wulan mengerjakannya secara handmade.
"Baju desain untuk momen tertentu, pangsa pasar sekarang ini mereka tidak suka baju yang kembar-kembar.
Nah melalui baju desain handmade ini gaun tidak diproduksi banyak. Lebih eksklusif," ujar wanita 36 tahun ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Atas usahanya ini, Wulan bisa mempekerjakan hingga 16 orang. Ia menyebutnya partner kerja. Mereka adalah warga kampung sekitar rumahnya hingga pemuda-pemuda lulusan tata busana.
Bahkan, brand Vellea kini sudah tembus ke pasar dalam dan luar negeri. Di antaranya, Jakarta, Bandung, dan luar Jawa. Sementara di luar negeri ada negara Malaysia.
Wulan bercerita, keahliannya mendesain sebuah pakaian sudah muncul sejak kecil. Saat itu, ia gemar menggambar, bermain Barbie dan menonton kartun anime.
Dari situlah Wulan kecil terinspirasi dan mewujudkan imajinasinya. Ia mulai mendesain gaun untuk boneka Barbie.
Gaun-gaun itu dibuatnya dengan kain bekas. "Ya ndesain ala anak-anak gitu. Bikin baju-baju untuk boneka kayak Barbie. Nah, kebetulan di belakang rumah ada penjahit, jadi saya sering minta kain kain sisa jahitan,” tuturnya.
Alumnus Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini juga telah membuat embrio usahanya sebelum lulus kuliah. Sekitar 2008, Wulan sudah mulai berjualan baju di rumah butiknya. Usahanya terus ditekuni sembari mengajar di Semarang.
Capaian itu belum membuat Wulan puas. Sejak awal, ia ingin keahliannya punya dampak luas bagi masyarakat. Itu sebabnya, ia juga membuka kelas di rumah membantu siapapun yang minat belajar desain.
“Ya ini benar-benar sesuai harapanku yang ingin memberi manfaat, berbagi inspirasi, sampai memfasilitasi anak-anak lulusan SMK, bagaimana mereka tak berhenti setelah ikut pelatihan, tetapi sampai menghasilkan karya dan karyanya bisa dipamerkan. Pada tahap ini, saya merasa peran sebagai pendidik juga terwakilkan,” terangnya.
Di Kabupaten Batang, Wulan juga kerap dilibatkan sebagai juri ajang Duta Wisata Batang. Setiap ajang pemilihan Duta Wisata, galery Vellea selalu menampilkan karyanya. Wulan juga memiliki impian besar agar Batang bisa menjadi sentra fashion.
Produk fashion lokal bisa dikenal di tingkat nasional. Salah satunya bisa lewat batik, agar bisa dikenal di kancah nasional dan bahkan internasional.
Sementara untuk harga gaun yang dibuatnya, Wulan menyesuaikan dengan kualitas dan kerumitan produknya.
"Kalau untuk baju konsep seperti baju wisuda, baju pesta, baju wedding itu per pakat. Dari mulai Rp 1 juta yang bahan dari kita dan bisa lebih murah lagi kalau semua bahan dari pemesan,” tandasnya. (yan/aro) Editor : Agus AP