"Iya memang sudah cita-cita sejak kecil. Dorongan orang tua juga. Karena dulu sepertinya menjadi guru itu indah banget," terangnya.
Al Komah lulus dari program studi Fisika Universitas Sains Al Qur'an (Unsiq) Wonosobo pada 2017. "Jadi setelah lulus 1,5 bulan langsung mengajar di SMP Takhasus Al-Qur'an sampai tahun 2021 lalu," terangnya.
Baru pada 2021 ia memutuskan untuk pindah menjadi guru kelas di SDN 2 Wonosobo. Sampai sekarang profesi ini yang menurutnya paling nyaman untuk dilakukan.
Meskipun dia mengakui, memilih profesi guru bukan hal yang mudah. Selain karena harus bekerja dengan ikhlas, menghadapi karakter anak yang berbeda-beda juga bukan perkara mudah. "Menghadapi anak-anak yang berbeda juga menjadi tantangan tersendiri," jelasnya.
Apalagi di SDN yang diampunya ada beberapa siswa yang menurutnya berbeda dengan yang lain. "Iya ada siswa yang spesial gitu. Jadi memang harus sabar banget saat mengajaknya untuk belajar," jelasnya.
Namun, karena motivasi menjadi seorang pengajar itu telah menjadi keyakinannya selama ini, iapun merasa nyaman dan asik dalam menjalaninya. Apalagi saat melihat anak didiknya terus mengalami perkembangan ke arah yang lebih baik.
"Itu menurutku hadiah yang luar biasa sekali sih. Gak bisa dinilai dengan apapun," katanya.
Meski masih tercatat sebagai guru non ASN, ia mengaku tak merasa keberatan. Sebab sudah sejak lama ia beranggapan jika penghasilannya dari guru bukan menjadi hal yang paling utama.
"Akan terus mengeluh sih jika penghasilan dari guru itu menjadi pokok. Karena kerjanya harus benar-benar ikhlas," katanya. (git/ton) Editor : Agus AP