Pengetahuan budidaya maggot ini didapatkan setelah mereka mengikuti Sekolah Sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang. Sekolah Sampah merupakan bagian dari implementasi program Magelang Cantik (Cinta Organik).
Kabid Pengelolaan dan Penanganan Sampah DLH Kota Magelang Widodo menyebutkan, telah tumbuh para pembudidaya maggot di Kota Magelang. Mereka tersebar di enam kelurahan dan berhasil memanen maggot sebanyak 211 kilogram di bulan Januari. “Kita akan memperbanyak bantuan telur-telur maggot, agar dibudidayakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Maggot ini diyakini mampu mendatangkan cuan. Karena memiliki nilai jual tinggi dan dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak, seperti lele, ayam. Maggot yang telah dipanen itu kemudian akan dibeli Bank Sampah Kota Magelang. Begitu juga dengan sampah anorganik lain yang bernilai.
Budidaya maggot merupakan terobosan DLH untuk mengatasi sampah organik. Maggot yang memiliki siklus hidup singkat hanya sekitar 45 hari itu dapat menghabiskan tumpukan sampah organik dengan cepat. Satu kilogram maggot dapat memakan 5-8 kilogram sampah organik. Sejak maggot dibudidayakan secara masif, volume sampah yang diangkut ke TPA Banyuurip berkurang. Dari 69 ton per hari menjadi 65 ton per hari. “Selama ini, yang paling banyak adalah sampah organik dari rumah tangga,” ujarnya.
Masih soal budidaya maggot. Widodo akan berkolaborasi dengan Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa). Nantinya, konsentrasi budidaya tetap berada di DLH, namun pemasarannya pada Disperpa. Bagaimana kemudian maggot-maggot yang dihasilkan warga dapat dibeli oleh para peternak ikan maupun peternak unggas. Atau para pembudidaya maggot juga kemudian dilatih untuk menjadi peternak ikan.
Harapan Widodo, para peternak tidak perlu lagi membeli pakan pabrikan secara besar-besaran. Karena sekitar 60 persen kebutuhan pakan ternak sudah tergantikan dengan maggot yang justru punya protein tinggi. Juga baik untuk pertumbuhan hewan ternak.
Selain itu, DLH membeli dua mesin pemilah sampah di (TPS) 3R Dumpoh dan yang berada di Rusunawa Potrobangsan. Dengan bantuan mesin ini, sampah organik dan anorganik akan terpisah.
Melalui implementasi program Magelang Cantik, DLH telah menghidupkan kembali 41 bank sampah di Kota Magelang. Termasuk keberlangsungan kampung-kampung organik di Kota Magelang. Masyarakat diajak memanfaatkan lahan pekarangan terbatas untuk membudidayakan sayuran-sayuran organik yang aman untuk kesehatan.
Ketua Kampung Organik Sari Makmur di Kedungsari, Sochimah sepakat dengan adanya program Magelang Cantik. Dengan begitu, masyarakat akan berlomba-lomba menanam sayuran untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. “Hasilnya lebih murah, dan lebih sehat,” tuturnya.
Saat ini, kelompoknya telah memanfaatkan lahan pekarangan terbatas untuk menanam sayuran organik. Hasil panen itu kemudian dijual ke masyarakat sekitar, dan di pasar. Hasil penjualan dimasukkan ke kas untuk keberlanjutan kampung organik setempat. (adv/put/lis) Editor : Agus AP