Slamet melakukan langkah konkret. Ia membenahi pelayanan masyarakat. Slamet mengamati, ruang pelayanan yang selama ini, ada sangat sempit. Juga tertutup. Menjadi satu dengan ruang lurah dan staf kelurahan. Padahal, ruang di sebelahnya sangat besar. Mirip aula.
“Tapi, justru banyak digunakan untuk numpuk barang-barang yang tidak terpakai. Jadinya malah kelihatan kumuh dan tidak fungsional,” kata Slamet.
Satu sisi, Slamet melihat, dalam situasi pandemi, tidak baik menggunakan ruangan yang sempit dan tertutup. Padahal, tiap hari jumlah pemohon layanan meningkat. Kelurahan Meteseh sendiri membawahi 31 RW dengan 190 RT.
Karena itu, Slamet berinisiatif untuk menggunakan aula yang tidak berfungsi maksimal, sebagai lokasi pelayanan yang baru. Tentu dengan sirkulasi udara yang cukup baik.
“Kita pindah di sini (aula). Semuanya. Ruangan lama yang dipakai staf, lurah, dan pelayanan, kita kosongkan. Kita jadikan ruangan bersama untuk kegiatan PKK, FKK (Forum Kesehatan Kelurahan), PSM (Pekerja Sosial Masyarakat) LPMK (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan) dan Karang Taruna. Khusus ruangan lurah, kita jadikan musala,” katanya.
Kebijakan sang Lurah memindah lokasi pelayanan dan ruang para staf ternyata tepat. Warga bisa leluasa jaga jarak. Sirkulasi udara juga cukup baik. Tidak perlu menggunakan AC. Cukup menggunakan kipas angin. Ruang seklur dan para kasie juga nyaman, karena berada di balik tempat pelayanan. Semua jenis pelayanan tidak dipungut biaya alias gratis.
“Untuk menuju ruang staf hanya ada satu pintu. Jadi, yang bisa masuk ke ruang staf, ya hanya staf kelurahan,” kata Slamet.
Dia sendiri menempati ruangan baru, berseberangan dengan tempat pelayanan. Sehingga bisa memantau langsung pelayanan kepada warga. Meski ruang kerja lurah, tapi kondisinya sangat sederhana. Sebab, bagi Slamet, yang penting bukan ruang kerjanya. Tapi, kerjanya untuk masyarakat Meteseh.
Sang Lurah memang membuktikan itu. Slamet intens turun ke lapangan bersama para staf, untuk memantau kondisi warga. Utamanya, pada saat musim penghujan seperti saat ini.
“Saya dengan staf, bersama RW, tidak ingin ada warga Meteseh yang terjangkit DBD. Karena itu, pemantauan jentik dilakukan setiap saat. Tidak hanya hari Jumat. Tapi hari lain pun kami lakukan,” kata Lurah yang saat menjadi staf Pemkel (sekarang Tapem) Setda Kota Semarang, kerap ditunjuk menjadi juri lomba tingkat kota.
Ia bersyukur, saat ini di wilayahnya zero kasus covid. Meski begitu, Lurah Slamet tak pernah lelah menghimbau warga agar taat prokes. (isk) Editor : Iskandar