“Dalam memerangi Covid 19, kita tetap semangat dan profesional dalam bekerja dan melaksanakan kewajiban sebagai bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kepahlawanan dan kebangsaan yang berbhineka tunggal ika,” kata Ismet kepada para peserta kegiatan.
Rangkaian acara ini saling berkaitan dan mempunyai makna khusus. Tidak sekadar perayaan kemerdekaan Indonesia saja, tapi banyak makna yang diambil dari berbagai rangkaian acara tersebut.
Rangkaian kegiatan yang pertama adalah malam tirakatan yang dilakukan dengan berziarah ke makam pejuang dan juga seorang ulama. Makam tersebut adalah makam Habib Hasan bin Thoha bin Yahya (Syekh Kramat Djati) yang berlokasi di Jalan Duku Kelurahan Lamper Kidul Kecamatan Semarang Selatan Kota Semarang. Makam Sunan Terboyo atau Kanjeng Adipati Suro Hadimenggolo V di jalan Kyai Terboyo, Kelurahan Kaligawe, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang. Serta makam Syekh Jumadil Kubro di Jalan Arteri Yos Sudarso Nomor 1 Kelurahan Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk, Kota Semarang.
Alasan utama mengunjungi makam – makam para ulama ini antara lain, tidak semua pahlawan di Indonesia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Banyak pahlawan yang tidak dikenal pula nama dan tempatnya, baik itu di kota-kota, dusun-dusun, lereng-lereng gunung, lembah-lembah ngarai, dan di dasar lautan. Tidak semua pahlawan itu juga seorang ulama yang berperan sebagai imam, sebagai pejuang, dan sebagai penyebar agama Islam. “Beliau adalah pemimpin bangsa yang layak memimpin bangsa dan memimpin spiritualnya,” jelas Ismet.
[gallery size="full" columns="1" td_select_gallery_slide="slide" ids="317573,317574,317575,317576,317578,317582"]
Menurutnya, nilai-nilai perjuangan ketiga pahlawan ini patut kita teladani. Karena mereka adalah seorang pemimpin yang dengan gigih berjuang pada masa sebelum kemerdekaan membela bangsa dan negara. Selain itu, beliau juga menanamkan nilai-nilai luhur keislaman, dengan menyebarkan ajaran Islam di bumi tumpah darah Indonesia.
Rangkaian kegiatan yang kedua adalah upacara peringatan HUT ke-76 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2021 di Ruang Training kantor PT Equityworld Futures Cabang Semarang yang beralamat di Rukan Pemuda Mas Blok A Kav. 12-13, Jalan Pemuda No. 150 Semarang 50132. Walaupun masih dalam suasana pandemi, seluruh jajaran dan karyawan melaksanakan upacara dengan tertib, khidmat, dan semangat, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Acara dilanjutkan dengan potong tumpeng kemerdekaan dan makan bersama-sama sebagai bentuk rasa kebersamaan dan nasionalisme. “Seperti filosofi tumpeng yang melambangkan hubungan antara Tuhan dengan manusia dan manusia dengan sesamanya. Kita harus berkomitmen, bahwa untuk bisa maju kita harus bersama-sama, bergandengan tangan, dan bersatu padu.”
Rangkaian kegiatan yang ketiga adalah Nguri-Uri Budaya Resik-Resik 19 Sendang di Kota Semarang dan sekitarnya di Jawa Tengah. Ternyata ada Filosofi yang mendasari angka 19 tersebut. Ismet mengatakan bahwa pada awalnya rencana untuk melakukan resik-resik Sendang adalah sebanyak 17 buah saja. Dengan maksud angka 17 memiliki arti satu tujuan. Ternyata saat berniat untuk menjalankan dengan sepenuh hati, Ia diberi petujuk oleh Allah menjadi 19.
Kalau berdasarkan terminologi angka Jawa, angka 1 adalah angka spiritual, angka 9 itu angka kedewasaan, jadi simbol walisongo adalah simbol seorang manusia yang sudah sangat dewasa dan bijaksana. “Jadi kita digenapi oleh Gusti Allah, supaya kita bisa menjadi satu tujuan, ternyata kita juga butuh spiritual (angka 1) dan kedewasaan (angka 9). Kegiatan bersih-bersih sendang adalah wujud syukur dan cara kita menjaga kelestarian sumber-sumber alam, karena sendang itu sumber air yang menghidupi kita semua,” katanya.
Dijelaskannya, dalam bahasa Jawa ada pernyataan berbunyi, "Sendang sing nguripi awake dewe". Lalu dalam Bahasa Arab "Ya khoyu ya khoyum", yang artinya adalah, ya urip ya nguripi. Ada pula pepatah kuno yang mengatakan bahwa “Jika kita minum air, maka kita harus selalu ingat kepada sumbernya”. Berdasarkan pepatah tersebut, jika dikaitkan dengan kehidupan manusia maka yang kini dijalani tidak akan ada jika tidak berasal dari leluhur. Oleh karena itu, manusia harus tetap mengingat dan bersyukur akan kehidupan yang dijalani dengan menghormati leluhur.
Oleh karena itu pada saat berada di sendang, yang dilakukan oleh seluruh tim yang ditugaskan kesana selain bersih-bersih adalah berdoa, membagikan nasi tumpeng kepada warga sekitar, dan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Ini sebagai perwujudan rasa syukur yang mendalam kepada alam karena telah memberikan air yang melimpah dan penuh manfaat kepada kita.
Tim "Raden Mas Said" menggelar resik-resik di Sendang Wonodri di jalan Wonodri, Sendang Sukolilo di Pleburan, dan Sendang Jambu di Kandri Gunung Pati. Tim "Hayam Wuruk" resik-resik di Sendang Panguripan dan Pengasihan di Kali Lancar, Podorejo, Ngaliyan dan Sendang Taman Lele di Tambak Aji Ngaliyan. Lalu Tim "Ong Tien" resik-resik di Sendang Manten, Sendang Lanang dan Sendang Wedok di Tinjomoyo. Tim "AA Maramis" resik-resik di Sendang Giri Kusumo (Mranggen), Sendang Sumur Gandeng (Mijen, Demak) dan Sendang Sunan Kalijaga (Kadilangu). Tim "H. Mutahar", "Ir. Soekarno" dan "Kota Gede Mataram" resik-resik di Sendang Ngampel (Desa Ngampel Wetan, Kecamatan Ngampel), Sendang Biyung Sami (Desa Cacaban, Kecamatan Singorojo), Sendang Sekenyes (Desa Cacaban, Kecamatan Singorojo) dan Sendang Kyai Tulang Bawang (Desa Darupono, Kecamatan Kaliwungu selatan). Serta tim "Joko Tingkir" resik-resik di Sendang Sentul (Ungaran Timur), Sendang Aminah (Jalan Kalisidi), Rawa Pening (Jalan Ambarawa) dan To Anget (Jalan Banyubiru).
Dijelaskannya, makna dari rangkaian ketiga kegiatan yang telah dilaksanakan adalah malam tirakatan dengan berdoa di makam pahlawan yang tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan karena tidak semua pemimpin bisa menjadi imam dan bisa diteladani hidupnya. “Dan 3 makam yang kita kunjungi itu semua bisa diteladani hidupnya, seorang pemimpin, ulama dan juga pejuang kemerdekaan Indonesia,” kata Ismet.
Selanjutnya upacara adalah wujud semangat nasionalisme dan profesionalisme, Karenanya mereka tetap melaksanakan upacara saat pandemi dan walaupun pegawai swasta yang tidak ada latar belakang militer. “Resik-resik sendang adalah cara kita bersyukur dan menjaga alam yang telah memberikan kita kehidupan.” (adv)
Editor : Agus AP