Wayang Kronik merupakan perpaduan antara wayang kulit Jawa dan Tiongkok. Bentuknya wayang kulit seperti pada umumnya. Namun karakter dan ornamen pada wayang mengadaptasi kebudayaan Tiongkok.
Jose mendesain wayang kronik miliknya. Jika dalam proses pembuatan menemukan kesulitan, ia baru meminta bantuan teman yang paham mengenai wayang. Hingga saat ini ia telah memiliki 10 tokoh wayang kronik di cerita Geger Pacinan. Dan semuanya tengah dalam proses untuk mendapatkan hak cipta.
"Kalau inspirasi untuk mendesain wayang kronik saya selalu lihat lukisan China asli atau membaca cerita China baik bentuk novel, komik maupun yang sudah dijadikan babad," lanjut mahasiswa Agrobisnis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga ini. Selama mendalang wayang Kronik, ada satu cerita yang menjadikan Jose terkenal. Yakni Geger Pacinan.
Pemuda yang mendapat gelar Dalang Ngabehi dari Keraton Solo tersebut menjelaskan Geger Pacinan merupakan sejarah nusantara yang terjadi pada 1740-1742. Kala itu terjadi pembantaian besar terhadap 10 ribu orang Tionghoa di Batavia oleh pimpinan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kali Angke berubah warna menjadi merah akibat saking banyaknya mayat korban yang dibuang di sana. Orang Tionghoa yang selamat akhirnya melarikan diri ke Keraton Mataram yang kala itu di Kartasura. Mereka meminta bantuan untuk dapat mengusir penjajah. Keraton Mataram yang kala itu memang gencar mengusir penjajah, bersedia mengerahkan pasukan bantuan. Dan bersama antara pasukan gabungan suku Jawa dan dan etnis Tionghoa berhasil mengusir Belanda. "Saat itu kompeni Belanda berhasil diusir dari Kartasura, Semarang, Lasem bahkan hingga sampai Surabaya dan Bali," ujarnya.
Orang Jawa dan Tionghoa sudah bersatu. Namun pada 1742 persaudaraan tersebut justru dihancurkan oleh Pakubuwono II yang menjadi pemimpin kala itu. Karena ia lebih berpihak ke Belanda. Baik orang Tionghoa maupun Jawa sama-sama menangis. Karena persaudaraan yang sudah dibina erat selama dua tahun harus dihancurkan seperti itu.
Melalui cerita tersebut, Jose ingin mengingatkan bahwa orang Jawa dan Tionghoa memiliki ikatan yang kuat. Saat bersatu, mereka bisa mengusir penjajah. Dan saat ini ia ingin hal tersebut dapat terulang kembali. Orang Jawa dan Tionghoa dapat hidup berdampingan dengan damai dan menjalin persaudaraan yang erat.
"Intinya melalui cerita itu saya ingin masyarakat jangan mau dipisah oleh kompeni jenis baru di masa modern. Bagaimanapun persaudaraan lintas agama harus terus erat terjalin khususnya di Semarang," jelas pemuda kelahiran Semarang, 21 November 1998 ini.
Jose memang sudah sejak kecil senang wayang. Ia suka melihat pertunjukan wayang di televisi dan mencari pengetahuan mengenai kebudayaan tersebut. Dari awalnya hanya melihat, lama kelamaan muncul keinginan diri untuk bisa mendalang. "Akhirnya mulai tahun 2010 saya mulai belajar mendalang," ujarnya.
Anak tunggal pasangan Tirto Adjie dan Maynigrum ini memutuskan belajar mendalang pada Kursus Dalang Perkumpulan Seno Budaya FX Rudjito di Gedung Cagar Budaya Sobokartti, Semarang. Ia juga belajar secara otodidak. "Kadang belajarnya saya datang ke rumah dalang senior atau menonton pertunjukan mereka," lanjutnya. (akm/ton) Editor : Agus AP