Keseimbangan alam perlu diperhatikan, mengingat saat ini Pemda Batang juga gencar menggarap sektor pertanian. Daerah ketinggian digenjot untuk menanam komoditi bawang putih. Komoditi itu dianggap produktif di tanah pegunungan.
Petani melakukan penanaman di lereng-lereng pegunungan, terutama di Kecamatan Bawang. Hal tersebut memungkinkan terjadinya longsor. Bencana longsor pernah di Dukuh Pranten, Desa Pranten, Kecamatan Bawang pada 17 April 2020 akibat banjir bandang.
Saat itu hujan turun dengan intensitas tinggi. Tebing setinggi 50 meter dan lebar 25 meter longsor membawa material tanah dan bebatuan. Mayoritas area yang terkena dampak adalah lahan bawang putih. Luasan area yang terkena bencana alam itu sekitar 3 hektare.
"Terkait tanah longsor, saya kira dari instansi terkait yang memang memahami terkait struktur tanah, geografis, dan lain-lain itu harus melakukan kajian. Supaya tidak longsor, umpamanya bisa ditanami tanaman yang kuat untuk fondasi alam," ujar Yusup pada Jawa Pos Radar Semarang.
Petani perlu didorong agar bijak mengolah lahannya. Terutama pada lahan dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Potensi terjadinya longsor semakin besar jika tidak memperhatikan komuditi yang ditanam. Mengingat saat ini telah memasuki musim penghujan. "Jangan sampai kejadian itu terulang," tandasnya.
Selain itu, tanaman kentang juga tidak dianjurkan ditanam di area lereng pegunungan. Serta tanaman lain yang bisa memicu terjadinya longsor. Kepala Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Kabupaten Batang Susilo Heru Yuwono menjelaskan, saat ini pihaknya terus berusaha melakukan penanaman vegetasi produktif.
Penanaman itu sebagai upaya konservasi lahan dan air. "Tidak hanya menahan terjadinya longsor, tanaman itu bisa menghasilkan bagi petani. Kami siapkan bibit-bibit tanaman seperti pohon kopi arabika. Ada sekitar 5 ribu pohon ditanam di Gunung Sipandu," ucapnya. (yan/wan/lis) Editor : Agus AP