Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Geliatkan Olahraga Perut Belly Dance

Agus AP • Selasa, 17 November 2020 | 21:28 WIB
Trie Susilowati saat mengajarkan seni belly dance di Sanggar Pingky Management, Pegandon. (Budi Setiyawan/Jawa Pos Radar Semarang)
Trie Susilowati saat mengajarkan seni belly dance di Sanggar Pingky Management, Pegandon. (Budi Setiyawan/Jawa Pos Radar Semarang)
RADARSEMARANG.ID, Kendal - Pandemi Covid-19 harus menjadi penyemangat untuk bisa hidup sehat. Salah satunya dengan rajin berolahraga. Seperti yang dilakukan Trie Susilowati yang mengajarkan belly dance atau tari perut di Sanggar Pingky Management, Pegandon, Kendal.

Pesertanya terbatas dan wajib mematuhi protokol kesehatan, menjaga jarak, mencuci tangan atau memakai hand sanitizer. “Nah momen ini untuk menggeliatkan kembali belly dance sekaligus memperkenalkannya kepada warga Kendal,” katanya.

Diakuinya, belly dance bukan sekedar seni tari biasa. Tapi juga bisa dimanfaatkan untuk sarana olahraga. Karena setiap gerakan belly dance dapat membakar kalori dan lemak berlebih di tubuh. “Terutama sangat bermanfaat untuk mengecilkan lemak di perut,” katanya, kemarin.

Belly dance sebagai tarian asal negara di Timur Tengah menurutnya sangat minim dikenal banyak orang di Kendal. Makanya, ia mencoba mengenalkan dengan membuka kelas belly dance singkat. Dimana pesertanya diajarkan teknik pernafasan, gerakan dan lanjut pada gerakan. Dari pemanasan, inti dan pendinginan seperti halnya senam.

“Manfaat belly dance ini untuk kesehatan sangat bagus, untuk membuka aura, cakra jantung  dan pembakaran lemak dan kalori berlebih di tubuh. Selain itu, hasilnya bagi perempuan, perut bisa langsing sehingga semakin cantik dan seksi,” tandasnya.

Pemilik Sanggar Pingky Management, Pingky Anis Soehoed mengatakan belly dance ini pertama digelar sejak pandemi Covid-19. Kelas pertama ada 100 orang dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama 50 dan kedua 50 orang. “Agar tidak terjadi kerumunan, jumlah dibatasi,” tambahnya. (bud/ida/bas) Editor : Agus AP
#Berita Semarang