Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Belajar dari Sejarah Indonesia Sebelum dan Menjelang Kemerdekaan

Agus AP • Senin, 17 Agustus 2020 | 17:43 WIB
KH Masruchan Bisri, Pengasuh Ponpes Askhabul Kahfi Mijen Kota Semarang
KH Masruchan Bisri, Pengasuh Ponpes Askhabul Kahfi Mijen Kota Semarang
RADARSEMARANG.ID - Dalam rangka memperingati kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-75 serta untuk menanamkan jiwa nasionalis dan patriotik, Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Askhabul Kahfi KH Masruchan Bisri memaparkan “Sejarah Indonesia Sebelum dan Menjelang Kemerdekaan.”

Indonesia bisa berjaya melalui berbagai tahapan sejarah bangsa. Mulai dari Indonesia di Masa Kerajaan. Dulu terdiri atas,

1) Kerajaan Kutai (Kutai Martadipura). Yakni, kerajaan ini merupakan kerajaan Hindu tertua yang berdiri sekitar abad ke-4 Masehi, di Muara Kaman, Kalimantan Timur. Kerajaan ini di bangun oleh Kudungga.

2) Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan ini berdiri pada tahun 358 Masehi, didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman di Jawa Barat dan pusat kerajaannya di Bekasi.

3) Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan yang menganut agama Budha ini berdiri pada abad ke-7 di Sumatra dan pusat kerajaannya di Palembang. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu.

4) Kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan ini menurut Prasasti Canggal berdiri pada tahun 732 Masehi. Terletak di Desa Canggal (sebelah barat Magelang) Jawa Tengah. Raja pertama adalah Sanjaya yang juga merupakan pendiri wangsa (dinasti) Sanjaya, Kerajaan Mataram Kuno ini juga sering disebut Kerajaan Medang. Tercatat terdapat 3 wangsa yang pernah menguasai Kerajaan Mataram Kuno, yaitu Wangsa Sanjaya (Hindu), Wangsa Syailendra (pengikut agama Budha). Dimasa ini, agama Hindu dan Budha berkembang bersama di Kerajaan Mataram Kuno, yang beragama Hindu tinggal di Jawa Tengah bagian Utara dan yang Budha tinggal di Jawa Tengah bagian Selatan. Dan Wangsa yang ketiga yaitu wangsa baru yang didirikan oleh Mpu Sindok.

Banyak peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, salah satunya adalah Candi Borobudur. Menurut sejarawan J.G. de Casparis, ia menemukan bukti dari sebuah Prasasti Karang Tengah dan Kahuluan, bahwa Candi Borobudur ini didirikan oleh Raja Samaratungga sekitar tahun 824 Masehi. Dia adalah Raja Mataram Kuno dari Wangsa Syailendra (pengikut Budha).

Pada masa ini, Belanda mulai masuk ke wilayah Mataram dan Amangkurat I menjalin hubungan baik terhadap Belanda, serta berlaku sewenang–wenang sehingga menimbulkan banyak pemberontakan yang akhirnya Amangkurat I tewas tahun 1677. Kemudian, ia digantikan anaknya yang bernama Raden Mas Rahmat (Amangkurat II). Pada masa ini, Mataram semakin sempit karena wilayah kekuasaanya diambil oleh VOC. Kemudian ibukota kerajaan dipindah ke Kartosuro oleh Amangkurat II. Setelah Amangkurat II meninggal tahun 1703, ia diganti oleh Amangkurat III (R Mas Sutikna). Karena banyak persoalan membuat ia mengungsi dan selanjutnya Raja Mataram dipegang oleh Pangeran Puger yang nama kecilnya R Mas Derajat (anak Amangkurat I) dan bergelar Pakubuwono I, dan ia meninggal tahun 1719. Ia digantikan putranya R Mas Suryaputra yang bergelar Amangkurat IV. Raja ini hanya berkuasa selama 7 tahun, pada tahun 1726 ia meninggal dan ia digantikan putranya Raden Mas Prabasuyasa yang bergelar Pakubuwono II, dan ini merupakan raja terakhir dari Kasunanan Kartosuro. Ia membangun istana baru di Desa Sala bernama Kasunanan Surakarta dan menjadi raja pertama Kasunanan Surakarta. Pada tahun 1749 Pakubuwono II meninggal dan digantikan putranya yang bernama Raden Mas Suryadi dengan gelar Pakubuwono III.

Persengkataan antara Pakubuwono III dan Mangkubumi membuahkan Perjanjian Giyanti yang ditandatangani bersama pada 13 Februari 1755. Melalui perjanjian ini, Kerajaan Mataram dipecah menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Dan batas wilayahnya adalah Kali Opak (ke timur wilayah Surakarta dan ke Barat wilayah Yogyakarta). Kasunanan Surakarta dipimpin oleh Pakubuwono III (Raden Mas Suryadi). Kasultanan Yogyakarta, Mangkubumi sebagai rajanya yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I. Setiap raja Kasunanan Surakarta bergelar Sunan, sedangkan Raja Kasultanan Yogyakarta bergelar Sultan. Dengan riwayat ini Kerajaan Mataram Islam baik secara de facto maupun de jure telah berakhir.

Indonesia di Zaman Penjajahan Portugis

Di bawah pimpinan Afonso de` Albuquerque bangsa Portugis yang merupakan bangsa Eropa pertama kali datang ke Kepulauan Nusantara/Indonesia pada tahun 1511 M. Percobaan awal Portugis mendirikan koalisi dan perjanjian damai dengan Kerajaan Sunda di Parahyangan pada tahun 1512 Masehi. Namun Portugis tidak begitu lama, karena sikap permusuhan yang ditunjukkan oleh sejumlah Kerajaan Islam di Jawa, seperti Demak dan Banten, kemudian Portugis berpindah ke Indonesia Timur yaitu Maluku, Ternate, Ambon dan Solor. Pengaruh Portugis di Nusantara cukup banyak, antara lain, berkembangnya agama Kristen terutama di Maluku, berkembangnya aliran Musik Keroncong, kosa kata bahasa Indonesia, seperti pesta, sabun, bendera, meja, dll. Portugis menjajah Indonesia +- selama 129 tahun yaitu dari tahun 1512–1641 M.

Indonesia di Zaman Penjajahan Belanda

Belanda/Nederland dalam bahasa Belanda, Neder artinya rendah, land artinya tanah. Belanda adalah Negara kecil di belahan bumi Eropa. Luasnya 41.543 KM persegi, sekitar 18,41 persen wilayah perairan, 20 persen terletak di bawah permukaan air laut dan 50 persennya berada di ketinggian kurang dari 1 meter dari permukaan air laut.

Meskipun termasuk Negara kecil, namun Belanda memiliki mental berlayar yang cukup tangguh pada masanya. Selama 1 tahun berlayar 4 buah kapal yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman pada bulan April 1595 M tiba di Pelabuhan Banten. Karena sifatnya Cornelis de Houtman yang kasar dan sombong membuat masyarakat tidak menyambut baik. Berselang 2 tahun berbekal dari pengalaman, Belanda mencoba datang kembali ke Indonesia yang dipimpin oleh Jacob Van Neck dan kedatangan mereka ini disambut baik oleh masyarakat dan penguasa Banten. Tujuan awal kedatangan Belanda adalah untuk berdagang rempah-rempah. Setelah Belanda merasa telah mendapatkan keuntungan yang besar, maka Belanda memutuskan untuk melakukan monopoli perdagangan, dan ini menandai awal penjajahan Belanda di Indonesia.

Tujuh tahunan Belanda di Indonesia, tepatnya tanggal 20 Maret 1602 Belanda mendirikan organisasi/perusahaan dagang bernama: Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di wilayah Asia yang markasnya di Batavia (Jakarta) karena letaknya yang strategis. VOC menerapkan Cultuur Stelsel atau sistem tanam paksa. Dalam sistem ini, rakyat pribumi dipaksa untuk menanam hasil perkebunan yang menjadi permintaan pasar dunia, seperti teh, kopi dan lainnya yang dibeli dengan harga yang sangat murah, sehingga membuat rakyat pribumi semakin sengsara. Hal ini memicu perlawanan bangsa Indonesia yang berasal dari berbagai penjuru seperti Perang Diponegoro, Perang Paderi, Perang Aceh, Perang Banjar, Perang Bali, dll.

Indonesia di Masa Jepang

Bulan Mei 1940, awal perang dunia II. Belanda telah diduduki oleh Nazi Jerman. Bulan Oktober 1941 Jendral Hideki Tojo menggantikan Konoe Fumimaro sebagai Perdana Menteri Jepang. Kemudian di bulan Desember tahun itu pula Jepang mulai menaklukan Asia Tenggara. Tanggal 7 Desember 1941 Jepang membom Pearl Harbor (pangkalan terbesar Angkatan Laut Amerika di Pasifik), lebih dari 2.330 serdadu Amerika tewas dan lebih dari 1.140 lainnya luka-luka. Tanggal 8 Desember 1941 Konggres Amerika menyatakan perang terhadap Jepang, begitu pula Gubernur Jendral Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachouwer menyatakan perang terhadap Jepang. Tanggal 11 Januari 1942, tentara Jepang tiba di Tarakan, Kalimantan Timur (sekarang Kalimantan Utara) dan esok harinya komandan Belanda menyerah. Tanggal 24 Januari Balikpapan yang merupakan sumber minyak ke-2 jatuh ke tangan Jepang. Tanggal 3 Februari, Samarinda dan lapangan terbang Samarinda II dikuasai, 10 Februari Banjarmasin berhasil diduduki dan 16 Februari Palembang dan sekitarnya juga berhasil direbut oleh Jepang. Dengan jatuhnya Palembang, maka terbukalah Pulau Jawa bagi tentara Jepang. Tanggal 1 Maret 1942 Jepang mendaratkan satu Detasemen yang dipimpin oleh Kolonel Toshinori Shoji dengan kekuatan 5.000 orang di Eretan (sebelah barat Cirebon), pada hari itu pula Kolonel Toshinori Shojimampu menduduki Subang dan Lapangan terbang Kalijati (40 km dari Bandung).

Tanggal 2, 3 dan 4 Maret 1942 berturut-turut Belanda berusaha merebut kembali Subang dan Lapangan terbang Kalijati, namun usahanya gagal dan mereka berhasil dipukul mundur oleh Tentara Jepang. Tanggal 5 Maret, Kota Batavia (Jakarta) diumumkan sebagai “Kota Terbuka .“ Artinya kota itu tidak akan dipertahankan oleh Belanda, maka dengan mudah Jepang menguasai Batavia dan selanjutnya Jepang bergerak menuju ke selatan dan berhasil menduduki Bogor. Pada tanggal yang sama, Jepang bergerak dari Kalijati untuk menyerbu Bandung dari arah utara, sehingga tentara Hindia Belanda mundur ke Lembang dan menjadikannya sebagai pertahanan terakhir. Tanggal 8 Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati, Subang. Dengan demikian secara de facto dan de jure seluruh wilayah bekas Hindia Belanda sejak itu berada di bawah kekuasaan dan administrasi Jepang.

Sikap Awal Jepang terhadap Bangsa Indonesia

Pada awalnya Jepang bersikap baik terhadap bangsa Indonesia dengan mengaku sebagai saudara tua bangsa Indonesia. Jepang mendukung Kemerdekaan Indonesia, padahal Jepang bersikap demikian hanya demi kepentingan pemerintahannya yang pada saat itu. Yakni menghadapi perang melawan Amerika dan sekutunya.

Jepang mulai menciptakan propaganda-propaganda untuk menarik simpati bangsa Indonesia dan supaya mau membantu mereka. Propaganda yang terkenal antara lain, Gerakan 3A: 1) Jepang Pelindung Asia, 2) Jepang pemimpin Asia, dan 3) Jepang Cahaya Asia. Namun gerakan ini kurang mendapat simpati dari masyarakat, maka sebagai gantinya Jepang menawarkan kerjasama yang menarik yaitu membebaskan pemimpin-pemimpin Indonesia yang ditahan oleh Belanda seperti Ir Soekarno, Drs Moch Hatta, Sultan Syahrir, dll. Selain itu Jepang membentuk organisasi-organisasi antara lain, PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) yang dipimpin oleh empat serangkai yaitu Ir Soekarno, Drs Moch Hatta, Ki Hajar Dewantoro dan KH Mas Mansyur, Majelis Islam A`la Indonesia (MIAI) dan kemudian diganti Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) di bawah pimpinan KH Hasyim Asy`ari.

Tanggal 8 September 1943, markas besar militer Jepang di Saigon memerintahkan untuk membentuk Qiyugun/ Heiho (angkatan bersenjata lokal) di sepanjang Asia Tenggara. Tanggal 3 Oktober 1943 Jepang membentuk Heiho di Sumatra dan Jawa. Pasukan di Jawa di sebut PETA (Pembela Tanah Air). Desember 1943 Jepang membentuk Barisan Hizbullah yang dipimpin oleh KH Zainul Arifin yang mayoritas anggotanya adalah para santri. Sejak itu, banyak pondok pesantren di samping digunakan untuk mengaji, juga digunakan untuk latihan militer yang dilatih oleh Tentara Jepang. Tanggal 1 Maret 1945 Jepang membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha–Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia/Dokuritsu Junbii Cosakai). Adapun tujuannya, menarik simpati bangsa Indonesia supaya membantu Jepang pada peperangan melawan sekutu dengan jalan memberi janji kemerdekaan pada bangsa Indonesia. Anggota BPUPKI sebanyak 67 orang.

Tanggal 6 Agustus 1945 tepatnya pukul 08.15 pagi, Kota Hiroshima dijatuhi bom atom oleh tentara sekutu. Lebih dari 70.000 orang telah menjadi korban. Tanggal 7 Agustus 1945, BPUPKI diganti menjadi PPKI dengan tujuan untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom yang kedua dijatuhkan oleh tentara Amerika di Kota Nagasaki, dan lebih dari 75.000 penduduk Jepang menjadi korban.

Tanggal 12 Agustus 1945 Jepang mengundang Ir Soekarno, Drs Moch Hatta dan dr Radjiman Wedyodiningrat ke Dalat (Vietnam) untuk memberi informasi bahwa  Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dan Proklamasi Kemerdekaannya dapat dilakukan pada 24 Agustus 1945, pelaksanaannya akan dilakukan oleh PPKI. Tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada sekutu di atas Kapal USS Missouri. Saat itu, tentara Jepang masih menguasai Indonesia dan Jepang berjanji akan mengembalikan Indonesia ke tangan sekutu. Setelah mendengar berita dari Radio BBC bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu, maka golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Namun tokoh golongan tua seperti Soekarno dan Moch Hatta tidak ingin terburu-buru, mereka tetap menginginkan proklamasi dilaksanakan sesuai mekanisme PPKI, alasannya kekuasaan Jepang di Indonesia belum diambil alih, hal ini membuat mereka khawatir akan terjadi pertumpahan darah saat proklamasi.

Menanggapi sikap konservatif golongan tua, golongan muda merasa kecewa. Pada tanggal 15 Agustus pukul 22.30 malam, utusan golongan muda menghadap Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56 Jakarta, untuk menyampaikan tuntutan agar Bung Karno segera mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada esok hari, yaitu tanggal 16 Agustus 1945. Bung Karno pun menolak tuntutan itu, dan lebih menginginkan bertemu dan bermusyawarah terlebih dahulu dengan anggota PPKI lainnya. Di tengah pro dan kontra, golongan muda memutuskan untuk membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok agar kedua tokoh ini segera mengumumkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan secepatnya serta menjauhkan Bung Karno dan Bung Hatta dari pengaruh Jepang.

Sementara itu, di Jakarta terjadi dialog antara golongan muda dan golongan tua dan ditemui kata sepakat agar proklamasi kemerdekaan harus dilakukan di Jakarta dan diumumkan pada 17 Agustus 1945. Kemudian golongan muda mengutus Yusuf Kunto dan Achmad Subardjo ke Rengasdengklok untuk menjemput kembali Bung Karno dan Bung Hatta. Dan sekitar 2300 rombongan tiba di rumah kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56 Jakarta. Dan pada malam itu juga, sekitar pukul 02.00 Bung Karno memimpin rapat PPKI di rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol nomor 1 Jakarta. Rapat itu terutama membahas tentang persiapan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia termasuk perumusan teks Proklamasi dan yang bertanda tangan, dan rapat selesai pukul 04.00. Kemudian pagi harinya, hari Jumat pukul 10.00, 17 Agustus 1945/17 Ramadan 1364 H di Pegangsaan Timur nomor 6 Jakarta, teks Proklamasi dikumandangkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia. Merdekalah Indonesia, semoga Allah SWT melindungi dan memberkahi Indonesia. (sls/adv/ida/bas)

 

 

 

 

  Editor : Agus AP
#Askhabul kahfi #Berita Semarang