RADARSEMARANG.ID – Borneo FC Samarinda mengambil langkah yang sangat berani menjelang bergulirnya Super League 2026/2027. Klub berjuluk Pesut Etam tersebut melakukan perombakan besar-besaran terhadap komposisi skuad maupun jajaran pelatih dengan harapan mampu mewujudkan target yang selama ini belum tercapai, yakni meraih gelar juara kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Keputusan tersebut langsung menjadi sorotan publik sepak bola nasional. Pasalnya, Borneo FC bukanlah tim yang mengalami penurunan prestasi. Justru dalam beberapa musim terakhir, klub asal Samarinda itu dikenal sebagai salah satu kontestan paling konsisten di papan atas klasemen dan selalu masuk dalam perhitungan perebutan gelar.
Meski tampil kompetitif, manajemen tampaknya menilai perubahan besar menjadi langkah yang diperlukan agar tim bisa naik ke level berikutnya. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 15 pemain resmi dilepas pada bursa transfer musim ini. Beberapa nama yang hengkang bahkan merupakan pemain inti yang selama ini menjadi tulang punggung permainan Pesut Etam.
Nama-nama seperti Kei Hirose, Koldo Obieta, Cleylton Santos, Aldair Simanca, hingga Mariano Peralta dipastikan tidak lagi menjadi bagian dari Borneo FC. Kepergian Mariano Peralta menjadi salah satu yang paling mengejutkan karena ia merupakan top scorer klub pada musim lalu dan memiliki kontribusi besar dalam produktivitas gol tim.
Perombakan tersebut tidak hanya terjadi di sektor pemain. Kursi pelatih juga mengalami pergantian setelah Fabio Lefundes resmi mengakhiri kerja samanya dengan Borneo FC. Sebagai pengganti, manajemen menunjuk pelatih asal Portugal, Mauro Jeronimo, yang kini dipercaya memimpin proyek baru Pesut Etam menghadapi kompetisi musim 2026/2027.
Pergantian besar yang dilakukan Borneo FC memunculkan berbagai tanggapan dari kalangan pengamat sepak bola Indonesia. Salah satu yang memberikan analisis mendalam adalah pengamat senior Mohamad Kusnaeni atau yang akrab disapa Bung Kus.
Dalam tayangan di kanal YouTube Blind Spot, Bung Kus menilai langkah yang diambil Borneo FC memang menarik untuk dicermati karena dilakukan oleh klub yang sebenarnya sedang berada dalam performa kompetitif.
"Borneo ini kan salah satu penantang juara musim lalu ya. Bahkan sampai akhir musim kemarin memaksa Persib untuk terus berada di kemampuan terbaiknya," kata Bung Kus di kanal YouTube Blind Spot.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan Borneo FC selama beberapa musim terakhir tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka menjadi salah satu tim yang mampu memberikan tekanan kepada klub-klub besar hingga pekan-pekan terakhir kompetisi.
Baca Juga: Bursa Transfer Super League 2026/2027, Persebaya dan Ramadhan Sananta, PSS Sleman Deg-degan
Menurut Bung Kus, konsistensi itulah yang membuat Borneo FC berbeda dibanding banyak klub lainnya. Di tengah persaingan yang semakin ketat, Pesut Etam berhasil menjaga performa mereka selama tiga musim berturut-turut.
"Borneo dalam tiga musim terakhir ini konsisten menjadi tim yang mampu bersaing di papan atas. Bisa dibilang ini satu-satunya tim di luar tim-tim tradisional yang mampu bersaing di papan atas secara konsisten," lanjutnya.
Penilaian tersebut tentu bukan tanpa alasan. Dalam beberapa musim terakhir, Borneo FC selalu mampu bersaing dengan klub-klub yang memiliki sejarah panjang seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya maupun Arema FC. Bahkan, mereka kerap menjadi kandidat kuat juara hingga memasuki fase akhir kompetisi.
Konsistensi inilah yang akhirnya membuat banyak pihak bertanya-tanya mengenai alasan di balik perubahan besar yang dilakukan manajemen. Banyak yang menduga keputusan mengganti pelatih terjadi karena manajemen tidak puas terhadap hasil yang diraih Fabio Lefundes.
Namun, Bung Kus mengungkapkan informasi yang berbeda. Berdasarkan informasi yang diperolehnya, justru Lefundes yang terlebih dahulu memutuskan untuk meninggalkan klub sehingga Borneo FC harus mencari sosok pengganti.
"Di tangan Lefundes, Borneo pernah mencatat 11 kemenangan beruntun. Tapi ternyata masalahnya bukan Lefundes tidak dipertahankan, melainkan Lefundes yang memang mau pergi," ujarnya.
Catatan tersebut menjadi bukti bahwa pelatih asal Brasil itu sebenarnya berhasil membangun fondasi permainan yang kuat di Borneo FC. Rangkaian 11 kemenangan beruntun menjadi salah satu rekor terbaik klub dalam beberapa musim terakhir dan menunjukkan kualitas kepelatihannya.
Baca Juga: Update Transfer Liga 2 2026/2027, PSIS Semarang dan Semen Padang FC Bergerak Cepat Di Bursa Transfer
Meski demikian, dunia sepak bola memang penuh dinamika. Keputusan seorang pelatih untuk mencari tantangan baru merupakan hal yang lumrah. Situasi itu akhirnya membuat manajemen bergerak cepat mencari sosok yang dinilai mampu melanjutkan bahkan meningkatkan pencapaian tim.
Pilihan kemudian jatuh kepada Mauro Jeronimo. Penunjukan pelatih asal Portugal tersebut cukup mengejutkan karena namanya belum terlalu dikenal oleh pecinta sepak bola Indonesia.
Bung Kus menilai keputusan menunjuk Mauro Jeronimo sebagai pelatih kepala merupakan langkah yang berani. Pasalnya, pelatih berusia 38 tahun itu belum memiliki rekam jejak panjang sebagai pelatih utama di kompetisi profesional.
"Pengalaman dia di liga profesional relatif belum banyak. Dia lebih banyak menangani tim akademi, termasuk Benfica Youth, sebelum melatih Thep Xanh Nam Định di Vietnam," jelas Bung Kus.
Meski pengalaman di level profesional masih terbatas, Mauro Jeronimo tetap memiliki modal yang cukup menarik. Ia pernah bekerja dalam sistem pembinaan pemain muda Benfica yang dikenal sebagai salah satu akademi terbaik di Eropa. Selain itu, pengalamannya menangani klub Vietnam Thep Xanh Nam Định diyakini memberikan bekal penting untuk memahami karakter sepak bola Asia Tenggara.
Pengalaman tersebut tampaknya menjadi salah satu faktor yang membuat manajemen Borneo FC yakin memberikan kepercayaan kepada pelatih muda asal Portugal itu.
Mereka berharap pendekatan modern yang dibawa Jeronimo mampu meningkatkan kualitas permainan tim sekaligus memaksimalkan potensi pemain yang dimiliki.
Namun, tantangan yang menunggu Mauro Jeronimo jelas tidak ringan. Datang menggantikan pelatih yang sukses membawa tim bersaing di papan atas tentu menghadirkan ekspektasi tinggi dari manajemen maupun suporter.
Terlebih lagi, Borneo FC selama beberapa musim terakhir selalu berada di jalur perebutan gelar juara. Status sebagai kandidat juara membuat target musim ini otomatis meningkat.Publik Samarinda tidak lagi sekadar berharap tim tampil kompetitif, tetapi benar-benar mampu mengangkat trofi juara pada akhir musim.
Menurut Bung Kus, tekanan itulah yang akan menjadi ujian terbesar bagi Mauro Jeronimo.
"Kalau kemarin sudah hampir juara, tahun ini tentu harapannya harus juara. Tantangannya akan sangat besar bagi Jeronimo," tutup Bung Kus.
Ucapan Bung Kus menggambarkan situasi yang kini dihadapi Borneo FC. Setelah berkali-kali finis sebagai salah satu tim terbaik, kini tidak ada lagi alasan untuk sekadar puas menjadi pesaing. Gelar juara menjadi target utama yang harus diwujudkan.
Perombakan besar yang dilakukan manajemen juga dapat dimaknai sebagai sinyal bahwa klub tidak ingin terjebak dalam zona nyaman. Melepas banyak pemain inti memang mengandung risiko besar karena membutuhkan proses adaptasi bagi pemain baru maupun pelatih baru. Namun di sisi lain, perubahan juga bisa menjadi momentum lahirnya kekuatan baru yang lebih segar dan kompetitif.
Bursa transfer yang dijalani Borneo FC musim ini menjadi salah satu yang paling menarik perhatian di Super League 2026/2027. Keputusan melepas pemain-pemain berpengaruh menunjukkan bahwa manajemen memiliki visi jangka panjang dan tidak sekadar mempertahankan komposisi lama.
Kini perhatian publik tertuju pada bagaimana Mauro Jeronimo membangun chemistry bersama skuad barunya. Strategi permainan, pemilihan pemain, hingga kemampuan menjaga konsistensi sepanjang musim akan menjadi faktor penentu apakah perubahan besar ini akan berbuah kesuksesan atau justru menjadi tantangan yang sulit dilewati.
Dengan materi pemain yang terus mengalami pembaruan, dukungan penuh suporter, serta ambisi besar mengakhiri puasa gelar, Borneo FC dipastikan kembali menjadi salah satu tim yang paling menarik untuk disaksikan pada Super League 2026/2027.
Seluruh keputusan yang diambil manajemen kini akan diuji di atas lapangan, dan hanya hasil akhir kompetisi yang akan menentukan apakah revolusi besar Pesut Etam benar-benar menjadi langkah menuju sejarah baru atau justru menjadi perjudian yang penuh risiko.(dka)
Editor : Baskoro Septiadi