RADARSEMARANG.ID—Sejarah dicetak Timnas Indonesia U-23 dengan lolos ke babak semifinal Piala Asia U-23.
Di babak perempatfinal, Timnas Indonesia U-23 berhasil menyingkirkan raksasa sepakbola Asia, Korea Selatan lewat adu penalti yang dramatis.
Di waktu normal dan perpanjangan waktu, pertandingan berakhir dengan skor imbang 2-2.
Saat dilakukan adu tendangan penalti, akhirnya Timnas Indonesia U-23 menang dengan skor 11-10.
Dari para pahlawan muda tersebut, ada sejumlah nama yang memiliki keterikatan batin dengan Kota Semarang. Siapa saja?
Rafael Struick
Pada waktu normal 90 menit, Timnas Indonesia U-23 mampu melesakkan 2 gol ke gawang Korea Selatan.
Kedua gol tersebut dicetak Rafael Struick pada menit ke-15 dan ke 45+4.
Saat adu penalti, Struick yang menjadi penendang ketiga juga sukses menjebol gawang Baek Jong Beom.
Tak banyak yang tahu, Semarang menjadi bagian dari sejarah penyerang bernomor punggung 11 ini.
Rafael Struick diketahui lahir di Zoetermeer pada 27 Maret 2003. Struick merupakan putra dari Brian Struick, warga Belanda keturunan Indonesia. Sedangkan ibunya, Soraya Noraly Soedito merupakan warga Belanda keturunan Suriname dan Jawa.
Nenek Struick dari garis keturunan ayahnya bernama Eleonora Fredrika Rientsma Struick lahir di Semarang pada 24 April 1952.
Rafael yang saat ini tercatat sebagai penyerang klub ADO Den Haag dari Liga Belanda disahkan sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) pada Mei 2023.
Ernando Ari
Dalam laga melawan Korea Selatan, Ernando Ari Sutaryadi menunjukkan kegigihannya dalam menjaga gawang Indonesia.
Saat adu penalti, Ernando berhasil menepis dua penendang Korea Selatan.
Tak heran ia dianugerahi predikat Man of the Match.
Dari 12 tendangan, ia bisa mengagalkan dua eksekusi pemain Korea Selatan.
Yakni penendang keenam Kang Sang Yoon dan penendang keduabelas Lee Kang Hee.
Ernando merupakan pemain kelahiran Semarang pada 27 Februari 2002. Ia merupakan anak pasangan Sutarno dan Erna Yuli Lestari.
Di Semarang, Ernando dan ibunya tinggal di Jalan Wanamukti, Kelurahan Sambiroto, Kecamatan Tembalang. Ayah Ernando sudah meninggal pada Februari 2020.
Ernando menghabiskan masa kecil dan remaja di Semarang. Ia merupakan lulusan SD Islam Tunas Harapan Semarang dan melanjutkan ke SMP Negeri 4 Semarang. Selepas SMP, Ernando bersekolah di SMA Negeri 11 Semarang.
Kesukaan Ernando pada sepakbola sudah terlihat sejak kecil. Ia awalnya bergabung dengan SSB Tunas Harapan Semarang.
Selanjutnya pindah ke SSB Tugumuda Semarang dan SSB Goal Keeping. Ernando juga berubah posisi dari penyerang menjadi penjaga gawang.
Saat remaja, Ernando juga pernah tinggal di Pangkalan Bun dan bermain di SSB Bina Bakat.
Ia lalu kembali ke Semarang dan direkrut PPLB Jawa Tengah pada 2018.
Selanjutnya Ernando direkrut Persebaya Surayaba dan bermain di Elite Pro Academy Liga 1 U-16 2018. Ia juga terpilih memperkuat Garuda Select pertama.
Setelah kembali ke tanah air, Ernando kembali memperkuat Persebaya Surabaya.
Pada Januari 2019, Ernando resmi dipromosikan untuk memperkuat tim seniar Persebaya Surabaya di Liga 1.
Sebenarnya saat remaja Ernando ingin bergabung ke klub kebanggaan warga Semarang, PSIS Semarang U-16.
Tapi saat itu kuota PSIS Semarang U-16 telah penuh sehingga tidak bisa menerima Ernando.
Akhirnya Ernando berlabuh ke Persebaya Surabaya hingga saat ini.
Pratama Arhan
Pratama Arhan Alif Rifai merupakan penendang penalti terakhir yang memastikan kemenangan Indonesia dalam adu penalti melawan Korea Selatan.
Dua kali Arhan berhasil mengecoh penjaga gawang Baek Jong Beom dan melesakkan bola ke gawang Korea Selatan.
Nama Arhan tak bisa dilepaskan dari Semarang. Terutama PSIS Semarang.
Arhan lahir pada 21 Desember 2001, di Desa Sidomulyo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Sejak kecil Arhan memang hobi bermain bola dan bergabung dengan SSB Putra Mustika Blora saat kelas 4 SD.
Setelah lulus SD, Arhan bergabung di Akademi Terang Bangsa Semarang.
Ia menghabiskan waktu Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Terang Bangsa Semarang.
Kemampuan Arhan dalam mengolah bola ternyata dilirik pemandu bakat PSIS Semarang.
Arhan lantas bergabung dengan PSIS Semarang U-18 dan PSIS Semarang U-20.
Hingga akhirnya menjadi pemain inti PSIS Semarang senior.
Sembari bermain bola, Arhan juga melanjutkan kuliah di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) jurusan Ekonomi Manajemen.
Bek sayap kiri yang terkenal dengan lemparan jarak jauhnya ini juga membuat klub asing tertarik dengannya.
Pada 2022, Arhan resmi dilepas PSIS Semarang tanpa biaya transfer ke Tokyo Verdy, Jepang.
Dan pada 2024, Arhan resmi memperkuat Suwon FC, Korea Selatan. (ton)
Editor : Pratono