RADARSEMARANG.ID - Kabar mengejutkan datang dari Timnas Jerman, sebelumnya negara Eropa ini selalu identik dengan Adidas sebagai apparel tim.
Belum lagi Adidas merupakan salah satu merk apparel olahraga terbesar di dunia yang lahir dari negara tersebut.
Namun Der Panzer dikabarkan sudah mencapai kesepakatan dengan rival Adidas asal Amerika Serikat yaitu Nike.
Bahkan Asosiasi Sepakbola Jerman (DFB) memilih mengakhiri kontrak dengan Adidas, kemudian memilih Nike yang akan mulai digunakan tahun 2027.
Langkah ini sekaligus mengakhiri kerja sama yang sudah berjalan lebih dari 70 tahun antara Jerman dengan Adidas.
Kolaborasi antara apparel tiga strip dan tim nasional sudah terjalin sejak 1950-an yang ditandai kesuksesan Piala Dunia pertama Jerman pada 1954.
Kesepakatan kontrak yang besar membuat DFB memilih Nike yang akan dikenakan hingga tahun 2034.
Menurut laporan dari Jerman seperti dilansir BBC, Nike akan menggelontorkan 100 juta euro per tahun, sementara Adidas cuma separuhnya alias 50 juta.
Keputusan DFB memilih Nike membuat beberapa pihak di Jerman mengkritisi keputusan tersebut.
Jerman dikenal sebagai rumah bagi Adidas dan Puma yang merupakan dua apparel raksasa di industri perlengkapan olahraga.
Banyak pihak menganggap Jerman dan Adidas merupakan sebuah identitas nasional, apalagi sekarang lebih memilih rival utama dari perusahaan Jermain itu.
Salah satunya Menteri Ekonomi Jerman, Robert Habeck, menyatakan bahwa dirinya condong dengan lebih banyak patriotisme lokal.
“Saya hampir enggak bisa membayangkan jersey Jerman tanpa tiga garis. Bagi saya, Adidas dan hitam-merah-emas selalu saling melengkapi. Sekeping identitas Jerman,” ucap Habeck dikutip BBC.
Sedangkan DFB memiliki pendapat yang berbeda. Melalui medsos, otoritas sepak bola Jerman itu memahami reaksi emosional terhadap keputusan yang drastis itu.
Akan tetapi, DFB menyebut bahwa akar rumput sepak bola Jerman menjadi pertimbangan besar dalam penerimaan ikatan dengan Nike.
DFB menyatakan bahwa mereka mesti membiayai lebih dari 24 ribu klub sepak bola, 2,2 juta pemain aktif, sekian banyak relawan, dan hampir 55 ribu wasit.
Editor : Baskoro Septiadi