RADARSEMARANG.ID - Vigit Waluyo kembali menjadi tersangka kasus dugaan pengaturan skor pada Liga 2 musim 2018.
Sebelumnya Vigit Waluyo alias VW pernah menjadi tersangka kasus serupa pada Liga 2 musim 2019 saat dia menjadi pengurus tim PSMP Mojokerto.
Dari track recordnya di dunia mafia bola, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menggambarkan Vigit Waluyo, sebagai tokoh intelektual di sepak bola Indonesia.
"Ada salah satu aktor intelektual pengatur skor yang mungkin namanya cukup malang melintang di dunia persepakbolaan dengan inisial VW (Vigit Waluyo)," kata Kapolri dalam konferensi pers Satgas Anti Mafia Bola.
Kapolri pun menyebut bahwa sosok VW ini cukup licin. Ia tak pernah tersentuh jerat hukum selama ini.
Pernyataan Kapolri ini persis sama dengan 'pujian' dari Bambang Suryo.
Mantan rekan VW di kancah sepak bola Indonesia ini pun memuji bahwa Vigit adalah orang sakti karena selalu lolos dari hukum.
Vigit Waluyo terlahir dari keluarga sepakbola, Ayah Vigit adalah Haji Mislan. yang merupakan salah satu tokoh pemilik Gelora Dewata, klub Galatama papan atas dari Pulau Bali.
Vigit memiliki pengalaman dalam mengelola beberapa klub sepak bola, antara lain PS Mojokerto Putra (PSMP), PSIS Rembang, Persewangi Banyuwangi, Perseba Super (sekarang Borneo FC), dan Persebaya DU (sekarang Bhayangkara FC).
Tidak hanya itu, Vigit pernah terpilih secara aklamasi sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Pengprov PSSI Jatim, menggantikan Haruna Soemitro dilansir dari jawapos.com
Dalam konferensi pers Satgas Anti-Mafia Bola di Mabes Polri Jakarta, ia menyebutkan bahwa namanya sudah dikenal sejak tahun 2008 tanpa pernah terlibat dalam masalah hukum.
Ia disebut menjadi dalang di balik skandal yang terjadi di Liga 2 2018 pada laga antara PSMP Mojokerto dan Aceh United.
Vigit disebut menginstruksikan agar pemain PSMP, Krisna Adi, tak menggagalkan sepakan penaltinya ke gawang Aceh United.
Ia sempat dikaitkan dengan dualisme Persebaya Surabaya, yang sempat terjadi beberapa tahun lalu.
Waktu itu, Vigit sedang mengelola Persikubar Kutai Barat.
Dalam kapasitasnya tersebut, ia melakukan bedol desa pemain Persikubar ke tim yang dipacak sebagai Persebaya untuk berlaga di Divisi Utama.
Namun, keterlibatannya dalam dualisme Persebaya ini dibantah oleh Vigit.
Ia sempat buka-bukaan soal bedol desa pemain Persikubar dan menyebut bahwa hal tersebut merupakan langkah untuk menyelamatkan Persebaya.
Vigit Waluyo pernah masuk penjara sebagai pengelola Deltras Sidoarjo, Vigit tersangkut kasus korupsi di PDAM Sidoarjo. Kasus ini merugikan negara sebesar Rp3 miliar.
Dalam proses persidangan, Vigit divonis 18 bulan penjara. Setelah sempat masuk dalam Daftar Pencarian Orang, pada akhir 2018, ia menyerahkan diri dan langsung dijebloskan ke dalam Lapas Sidoarjo.
Yang terbaru namanya dikaitkan dengan kasus pengaturan pertandingan.
Kali ini, ia disebut membantu PSS Sleman pada laga Liga 2 2018 lalu, kontra Madura FC.
Selain Vigit, dalam kasus ini ditetapkan juga tujuh tersangka lain.
Empat dari tujuh tersangka tersebut adalah wasit laga ini. Sementara, tiga orang lainnya berasal dari pihak PSS Sleman. (*/bas)
Editor : Baskoro Septiadi