RADARSEMARANG.ID, Semarang - Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang memastikan siswi SMP AKA, 13, yang nekat melakukan bunuh diri bukan karena kasus bullying di sekolahnya.
Pihak Disdik telah mendatangi rumah duka dan sedikit berkomunikasi kepada keluarga yang ditinggalkan.
"Tadi sudah ke lokasi dan berkomunikasi dengan orang tua korban. Saya pastikan itu bukan karena perundingan (bullying) di sekolah," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bambang Pramusinto saat dimintai keterangan, Selasa (9/1).
Meski demikian, Bambang belum bisa memberikan penjelasan lebih rinci karena situasi keluarga korban yang masih shock
. Tak menyangka, siswi yang duduk di bangku kelas 8 SMP Negeri 22 Semarang itu nekat menghabisi nyawanya sendiri dengan cara gantung diri.
"Keluarga korban saat ini belum bisa diajak berkomunikasi banyak. Besok kita akan kembali lagi untuk pendalaman," jelasnya.
Pihaknya juga terkejut dengan peristiwa ini. Terkait penguatan mental pelajar di Kota Semarang Dinas Pendidikan pun telah memberikan pelayanan berupa Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM).
Disamping itu juga menggencarkan gerakan-gerakan anti bullying dan kekerasan sudah dilakukan.
"Saya mengamati yang perlu ditingkatkan adalah kolaborasi antara satuan pendidikan dengan berbagai stakeholder," tandasnya.
Dalam hal ini, Ia juga mendorong satuan pendidikan untuk selalu berkolaborasi dengan masyarakat.
Sebab masih ada satuan pendidikan yang masih eksklusif dengan mengerjakan tugas-tugas pembelajaran sendiri.
"Kita juga sedang membahas bersama teman-teman dinas mengupayakan santunan jika ada kas untuk membantu keluarga korban," pungkasnya. (mia/bas)
Editor : Baskoro Septiadi