RADARSEMARANG.ID, Semarang - Ribuan warga memadati area Bundaran Tugu Muda, untuk menyaksikan peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang, di Kawasan Tugu Muda, Rabu (14/10), malam.
Peringatan Pertempuran Lima Hari dimulai dengan pembacaan cukilan sejarah perjuangan pemuda dalam pertempuran lima hari di Semarang oleh budayawan Sukirno. Dalam kesempatan ini, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng bertindak menjadi inspektur upacara.
Aksi treatikal dibuka dengan pembacaan teks proklamasi, yang dibarengi dengan lampu di Kawasan Tugu Muda padam. Rombongan tentara Jepang menggunakan Jeep, yang diikuti teriakan warga yang membubarkan diri.
Keributan sempat terjadi ketika ada kabar Tandon Air Wungkal yang dikabarkan diracun oleh Jepang. Kemudian dr. Kariadi mengecek kabar tersebut.
Suara kentongan memecahkan keheningan, ketika seseorang mengabarkan Kampung Batik, Sobokarti dibakar. Lalu ada pula kabar pertemuan di kawasan Bulu, Lemah Gempal, dan Pindrikan oleh Jepang. Untuk mencegah kebenaran tersebut, warga kemudian melaporkan ke Gubernur Jawa Tengah, kala itu Wongsonegoro.
Kemudian Wongsonegoro juga mendapat kabar, dari warga dr. Kariadi yang dibunuh tentara Jepang. Akhirnya perang melawan tentara Jepang pun berkecamuk dan pecah dan Semarang selama lima hari, hingga akhirnya kemerdekaan bangsa Indonesia bisa dipertahankan.
"Ini sejarah kota kita sendiri. Ajak keluarga, ajak anak-anak, supaya mereka tahu apa yang pernah diperjuangkan di sini," kata Agustina dalam sambutannya
Dia menerangkan, dalam aksi teatrikal itu, Agustina mengapresiasi anak-anak yang bisa mengemas acara sampai dirinya hanyut dalam perasaan yang emosional, apalagi dimainkan oleh anak-anak yang masih muda banget.
"Bayangkan pendalaman yang mereka lakukan saat mereka latihan. Luar biasa. Dan ini adalah salah satu kekuatan dari proses acara untuk peringatan pertempuran lima hari di Semarang," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Dia menerangkan, peringatan ini ditonton sebagian besar warga Semarang, yang diharapkan bisa menyadari pengorbanan yang diberikan pahlawan ketika mempertahankan kemerdekaan.
"Tugas kita adalah melanjutkan dengan cara kita sendiri sesuai dengan zamannya hari ini," bebernya.
Dia meminta agar generasi muda di Semarang, untuk terus berkarya. Apalagi Pemkot memberikan banyak ruang bagi generasi muda untuk maju dan terlibat dalam perencanaan pembangunan Kota Semarang.
Pemkot kata dia, akan memberi ruang-ruang yang lebih, misalnya dengan berbagai macam kompetisi yang melibatkan anak-anak muda di semua sektor yang ada yang itu membuka pintu untuk mengejar mimpi.
"Tugas generasi muda setelah merdeka dengan berbagai macam pengorbanan yang luar biasa adalah membuat kota ini maju, membuat negeri ini maju," tambah dia.
Untuk itu, generasi muda diminta untuk melakukan persiapan dengan baik. Dunia nanti akan mengangkat kalian menjadi para pemimpin.
"Maka bersiaplah menerima tongkat kepemimpinan dari kami yang sudah lebih tua, untuk melanjutkan pembangunan ini," pungkasnya.
Semarang itu, Oktavia salah satu warga yang ikut mengikuti rekannya melihat peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang. Menurutnya dengan adanya aksi teatrikal membuat dirinya mengerti akan perjuangan yang para pahlawan untuk mempertahankan kemerdekaan.
"Seru banget sih, bisa lebih ngerti dengan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Semarang," katanya. (den)
Editor : Baskoro Septiadi