Suhu Semarang Tembus 37 Derajat, Rob Mengintai Pantura hingga 22 Oktober

Figur Ronggo Wassalim • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 14:11 WIB
Prediksi Hujan BMKG.
Prediksi Hujan BMKG.

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Jangan heran jika udara Kota Semarang terasa lebih sumuk dalam beberapa hari terakhir. Suhu udara terukur mencapai 36–37 derajat Celsius. Kondisi ini dipengaruhi pemanasan matahari, penguapan, serta atmosfer yang masih labil pada masa pancaroba.

Ketua Tim Manajemen Sistem Operasional/Tim Analisis dan Pengolahan Data BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang Giyarto mengatakan, rasa sumuk menjadi salah satu tanda adanya proses konvektivitas atau pertumbuhan awan di atmosfer.

“Sumuk itu menandakan udara sedang labil. Ada proses konvektivitas atau pertumbuhan awan,” ujarnya.

Menurut Giyarto, proses tersebut terjadi karena perpaduan pemanasan matahari dan penguapan. Panas pada siang hari memicu penguapan. Energi panas dan uap air yang tersimpan kemudian membuat udara terasa semakin gerah.

Baca Juga: Waspada Rob Pantura! Air Laut Diprediksi Naik 100 Cm, Sayung Mulai Tergenang

Kondisi itu terus berulang ketika matahari kembali memanaskan permukaan pada siang berikutnya. Pertumbuhan awan pun bisa terjadi, meski tidak selalu menghasilkan hujan.

“Walaupun pertumbuhan awannya tidak sampai menghasilkan hujan, tetap ada awan yang tumbuh kemudian hilang,” jelasnya.

Suhu yang terukur saat ini berada di kisaran 34–37 derajat Celsius. Namun, suhu yang dirasakan masyarakat bisa berbeda, tergantung kondisi lingkungan. Kawasan perkotaan dengan dominasi jalan dan bangunan cenderung terasa lebih panas dibandingkan kawasan yang banyak pepohonan.

“Kalau di jalan raya menjadi lebih panas. Tetapi kalau di bawah pohon lebih segar. Tergantung posisi dan lingkungannya,” katanya.

Giyarto menyebut Oktober secara klimatologis merupakan periode paling panas dalam setahun. Kondisi panas tahun ini juga diperkuat pengaruh El Niño yang cukup kuat sehingga curah hujan berkurang dan kondisi wilayah menjadi lebih kering.

Musim hujan diperkirakan mulai lebih terasa pada November. Sebagian wilayah diprediksi mulai memasuki musim hujan pada dasarian kedua November.

“Oktober ini secara umum masih pancaroba. November dasarian kedua sudah mulai,” terangnya.

Kondisi panas dan kering tersebut sekaligus meningkatkan risiko kebakaran. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sembarangan, baik di lahan maupun tempat pembuangan sampah.

Terlebih, material di TPA Jatibarang cukup banyak dan terdapat potensi gas metana. Jika terjadi pembakaran, api lebih sulit dikendalikan dan asapnya dapat mengganggu aktivitas warga.

Baca Juga: Semarang Makin Sumuk! Suhu Tembus 37 Derajat, Oktober Jadi Bulan Paling Panas, Begini Penjelasan BMKG

“Kalau sudah melakukan pembakaran akan susah mengantisipasinya karena mudah terbakar. Asapnya juga bisa mengganggu aktivitas masyarakat Kota Semarang,” tandasnya.

Di tengah cuaca panas tersebut, warga pesisir Jawa Tengah juga diminta tetap mewaspadai ancaman banjir rob. Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas Semarang Ganis Erutjahjo mengatakan, gelombang laut beberapa hari ke depan memang cenderung rendah, yakni sekitar 0,75–1,25 meter.

Namun, rendahnya gelombang tidak serta-merta menghilangkan potensi rob. BMKG Maritim Tanjung Emas telah mengeluarkan peringatan dini banjir pesisir untuk periode 4–8 Oktober dan 18–22 Oktober.

Sejumlah wilayah Pantura yang perlu diwaspadai antara lain Wonokerto, Pekalongan, Sayung, dan Bonang. Bahkan, kawasan Sayung dalam beberapa hari terakhir dilaporkan mengalami genangan pada pagi hari, salah satunya di ruas jalan utama sekitar Bunderan Sayung.

“Ketinggian pasang dapat mencapai sekitar 100 sentimeter, sementara muka laut rata-rata sekitar 60 sentimeter. Jadi ada kenaikan sekitar 40 sentimeter,” ujar Ganis.

Untuk Kota Semarang, belum ada laporan genangan rob signifikan di Semarang Utara maupun Genuk. Meski demikian, sejumlah titik tetap berpotensi terdampak, termasuk Terboyo dan Tambakrejo yang berdasarkan data kejadian sebelumnya mengalami genangan sekitar 2–7 sentimeter.

Ganis mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di kawasan pesisir, terus memperbarui informasi BMKG. Warga yang beraktivitas di luar ruangan juga diminta memperbanyak minum air putih untuk menghindari dehidrasi di tengah suhu yang terasa menyengat.

Editor : Baskoro Septiadi
MUSIM PANCAROBA KOTA SEMARANG BMKG ROB panas