IGI Jawa Tengah adakan Coaching Gratis bagi Pengurus di Jawa Tengah

Iskandar • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 18:43 WIB
IGI Jawa Tengah menggelar program coaching gratis untuk pengurusnya, di berlangsung selama 30 hari, mulai 2 September 2026 lalu, yang diikuti sebanyak 35 pengurus aktif.
IGI Jawa Tengah menggelar program coaching gratis untuk pengurusnya, di berlangsung selama 30 hari, mulai 2 September 2026 lalu, yang diikuti sebanyak 35 pengurus aktif.

 

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Jawa Tengah menggelar program coaching gratis untuk pengurusnya. Kegiatan berlangsung selama 30 hari, mulai 2 September 2026 lalu, yang diikuti sebanyak 35 pengurus aktif.

Program ini dikawal langsung Sekretaris Wilayah IGI Jateng, Sri Sugianto, S.Pd., M.Si., M.Kom, bersama Ketua Wilayah IGI Jateng, Dr. Imron, S.Pd., M.Pd. Keduanya bertindak sebagai coach.

Kegiatan ini digelar untuk menyongsong Hari Kesaktian Pancasila 2026. Semangatnya sederhana. Guru yang tumbuh akan menguatkan organisasi, akhirnya bangsa dan negara.

Coaching berbeda dengan pelatihan atau nasihat. Coach tidak memberi jawaban. Coach mengajukan pertanyaan yang menggugah. Dari sana, peserta atau coachee menemukan sendiri solusinya.

Pendekatan ini sejalan dengan Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Nomor 211/K.1/HKM.02.2/2026 tentang Pedoman Penyelenggaraan Coaching dan Mentoring Sektor Publik. Keputusan itu ditetapkan di Jakarta pada 5 Mei 2026. Dalam pedoman tersebut, coach tidak harus ahli di bidang teknis yang sama dengan coachee. Peran utamanya memfasilitasi proses berpikir dan refleksi. Coachee menjadi pemilik proses belajar sekaligus pengambil keputusan.

Dr. Imron merupakan lulusan Sertifikasi Coach dan Mentor Sektor Publik dari LAN RI. Sementara itu, Sri Sugianto adalah coach dari Masyarakat Coaching Indonesia (MCI). Dua latar belakang ini saling melengkapi. Satu membawa standar sektor publik. Satu lagi membawa praktik komunitas coach profesional.

Coaching dilakukan secara personal. Setiap sesi rata-rata berlangsung 60 hingga 90 menit. Suasananya santai, terbuka, dan saling percaya. Alurnya mengikuti kerangka percakapan yang umum dipakai dalam coaching. Coach lebih dulu membantu peserta merumuskan tujuan yang jelas. Lalu peserta memotret kondisi saat ini dan menggali berbagai pilihan langkah. Terakhir, peserta menetapkan komitmen tindakan yang nyata.

Coach hadir sepenuhnya, mendengarkan dengan saksama, dan mengajukan pertanyaan yang tepat. Tidak ada penghakiman. Kegagalan dipandang sebagai bahan belajar.

Secara umum, para coachee merasa terbantu. Mereka lebih mudah menemukan tujuan yang ingin dicapai. Mereka juga lebih jelas melihat sumber daya yang dibutuhkan untuk mewujudkannya.

Bagi pengurus organisasi, hal ini penting. Pengurus IGI umumnya guru yang juga mengemban tugas mengajar, administrasi, dan organisasi. Beban yang berlapis sering membuat arah kerja kabur. Coaching membantu menjernihkannya. Dengan arah yang jelas, program organisasi bisa berjalan lebih terfokus. Energi pun tidak habis untuk hal-hal yang tidak perlu.

Seluruh sesi diberikan tanpa biaya. Program ini menjadi wujud pengabdian kedua coach kepada sesama pengurus. Para peserta dibimbing agar mampu memecahkan masalahnya sendiri, bukan bergantung pada orang lain.

Rujukan kegiatan berupa paparan dan panduan coaching yang telah disiapkan. Materinya mencakup prinsip dasar, peran coach dan coachee, hingga tahapan pelaksanaan. Tahapan itu meliputi perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dokumentasi, dan evaluasi.

Dr. Imron menerapkan filosofi yang tertuang dalam pedoman coaching LAN RI, di mana proses peningkatkan kinerja dilakukan melalui pemberdayaan individu. Konsepnya bergeser dari paradigma lama. Para pengurus tidak lagi dijejali dengan instruksi satu arah layaknya "jubah polisi" yang sekadar memberi perintah. Sebaliknya, pendekatan ini mengajak coachee mengenakan "rompi coach".

Selama sesi berlangsung, kedua coach bertindak sebagai fasilitator refleksi. Mereka menggunakan metode mendengar aktif (active listening) dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan pemantik (powerful questions). Tujuannya bukan untuk menyuapi jawaban, melainkan memandu pengurus menemukan jalan keluar secara mandiri. Ini selaras dengan filosofi bahwa pikiran manusia bukanlah gelas kosong yang harus diisi, melainkan api potensi yang harus dinyalakan.

Program ini tidak berhenti di sini. Kedua coach berencana mengadakan kegiatan serupa pada 2027. “Rencana itu juga mencakup Pelatihan Coaching bagi Pengurus IGI se-Jawa Tengah. Tujuannya agar semakin banyak pengurus mampu menjadi coach bagi rekan dan murid mereka. Dengan begitu, budaya belajar yang saling menguatkan dapat tumbuh di organisasi.”tambah Doktor lulusan Universitan Negeri Semarang.

Melalui metode ini, para pengurus IGI Jawa Tengah berhasil merumuskan kembali tujuan organisasi yang lebih tajam. Tidak hanya itu, mereka juga mampu mengidentifikasi serta memetakan sumber daya yang selama ini tersembunyi atau belum dioptimalkan. Proses menemukan solusi dari dalam diri sendiri ini terbukti memberikan daya ikat komitmen yang jauh lebih kuat.

Kegiatan ini sejalan dengan semangat Pancasila, khususnya gotong royong dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Guru yang saling menguatkan akan melahirkan pendidikan yang lebih bermartabat.

Ke depan, IGI Jateng berharap coaching menjadi kebiasaan, bukan sekadar program. (*)

Editor : Tasropi
Imron Hari Kesaktian Pancasila 2026 IGI Jateng