RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang Semarang tidak hanya menyisakan persoalan api dan kepulan asap. Warga yang tinggal di sekitar lokasi mulai merasakan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari.
Salah satunya dirasakan warga Bambankerep, Kecamatan Mijen. Permukiman yang berjarak sekitar satu kilometer dari TPA Jatibarang tersebut ikut terdampak kepulan asap dan bau sangit sejak kebakaran terjadi pada Rabu (30/9) malam.
Ana, warga RT 6/RW 4 Kedungpane, Mijen, mengatakan kobaran api mulai terlihat sekitar pukul 18.30. Warga kemudian bergegas mengecek kondisi sekitar, terutama karena terdapat kandang sapi yang lokasinya tidak jauh dari area kebakaran.
Baca Juga: Asap Kebakaran TPA Jatibarang Kepung Jalur Barat Semarang, Pengendara Mulai Terganggu
"Warga pada bingung. Kami lihat sampai agak padam. Sampai sekitar jam 11 malam," katanya.
Kondisi semakin terasa ketika angin bertiup. Asap dari kawasan TPA terbawa menuju permukiman sehingga hawa di sekitar rumah menjadi panas dan tidak nyaman.
"Kalau ada angin, asapnya langsung menyebar. Hawanya panas dan tidak enak," ungkapnya.
Hingga Kamis (1/10) pagi, kondisi di sekitar TPA belum sepenuhnya pulih. Dari rumah warga, kobaran api masih terlihat di sejumlah titik yang diduga mengeluarkan gas. Sementara kawasan TPA masih tertutup kepulan asap.
Kondisi tersebut membuat warga harus lebih berhati-hati ketika beraktivitas di luar rumah. Para pencari rosok untuk sementara tidak diperbolehkan beraktivitas di area TPA. Warga juga diimbau menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap.
"Baunya seperti ada yang terbakar. Kalau kesehatan dipentingkan, ya harus pakai masker," ujar Ana.
Bagi Ana, persoalan tersebut semakin mengkhawatirkan ketika arah angin membawa asap menuju kawasan sekolah. Sebab, aktivitas anak-anak berpotensi ikut terganggu apabila kondisi kembali memburuk.
"Kalau ada angin, asapnya bisa sampai ke sekolah. Dulu sekolah pernah dipulangkan mendadak karena kondisi seperti ini," jelasnya.
Ana menyebut kebakaran besar di TPA Jatibarang bukan kali pertama terjadi. Peristiwa serupa pernah dirasakan warga sekitar tiga tahun lalu. Namun, dia menilai kebakaran kali ini terasa lebih besar karena api dan asap menyebar lebih luas.
"Yang besar berarti dua kali ini, tahun 2023 dan 2026. Yang sekarang paling besar," katanya.
Dampak asap bahkan dirasakan hingga wilayah yang lebih jauh dari TPA Jatibarang. Bau sangit dilaporkan sampai Pasar Mangkang, Jerakah hingga sebagian wilayah Tugu. Warga yang beraktivitas di Jalan Walisongo juga ikut mencium bau bakaran sampah.
Baca Juga: TPA Jatibarang Terbakar Lagi, Limbah Baterai dan Botol Parfum Diduga Jadi Pemicu
"Asapnya sampai Tugu. Di Jalan Walisongo ini juga terdampak, sangit semua," ujar Adi, warga Jerakah, Kecamatan Tugu.
Selain mengganggu warga di permukiman, asap juga mulai terasa di sejumlah ruas jalan wilayah barat Kota Semarang. Pantauan Jawa Pos Radar Semarang sekitar pukul 07.00, Kamis (1/10), asap tipis dan bau bakaran sampah tercium mulai Jalan Siliwangi, kawasan Kalibanteng.
Kondisi serupa terasa hingga kawasan Samsat III Krapyak dan Jalan Gatot Subroto. Sejumlah pengendara terlihat mengenakan masker, sementara beberapa lainnya tampak mengucek mata saat melintas.
Di sekitar lampu merah depan Pengadilan Negeri Semarang, seorang pengendara bernama Budi mengeluhkan kondisi tersebut.
"Asapnya banyak," ujarnya.
Pengendara lain, Ahmad Zain, bahkan sempat turun dari sepeda motornya untuk mengenakan masker ketika melintas di depan SMA Negeri 7 Semarang.
"Pandangan saya terganggu dan mengganggu pernapasan," ujar Ahmad Zain.
Ana berharap kebakaran segera tertangani sehingga asap tidak kembali mengganggu kehidupan warga. Terlebih, warga tidak ingin kondisi serupa terus berulang dan berdampak pada aktivitas masyarakat, termasuk anak-anak yang bersekolah.
"Kalau kejadian seperti ini terus, kasihan warga. Aktivitasnya terganggu. Anak-anak juga kasihan," pungkasnya. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi