Bola Kasti Jadi Alat Terapi Anak CP, Bantu Rangsang Sensorik dan Gerak

Figur Ronggo Wassalim • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 14:33 WIB

 

Bola Kasti Jadi Alat Terapi Anak CP, Perkenalan Kosakata Baru untuk Speech Delay (FIGUR RONGGO WASSALIM)
Bola Kasti Jadi Alat Terapi Anak CP, Perkenalan Kosakata Baru untuk Speech Delay (FIGUR RONGGO WASSALIM)

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Tak perlu alat terapi mahal untuk memberikan stimulasi kepada anak dengan cerebral palsy (CP). Sebuah bola kasti bisa menjadi alat sederhana untuk membantu merangsang sensorik, mengurangi kekakuan otot, sekaligus mendukung kemampuan gerak anak.

Metode sederhana itu diperagakan fisioterapis Agung Tri Marwanto dalam kegiatan pendampingan anak berkebutuhan khusus di Aula Kecamatan Genuk, Selasa (8/9).

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang pukul 09.30–11.30, para orang tua tidak hanya melihat praktik terapi, tetapi juga diajari teknik yang bisa diterapkan kembali di rumah.

Bola kasti digunakan dengan memberikan rangsangan pada sejumlah bagian tubuh anak. Mulai punggung, tangan hingga kaki. Tekstur bola yang empuk dan lentur membuat stimulasi lebih nyaman bagi anak.

Baca Juga: Jangan Terlewat! Ini Daftar Provinsi yang Beri Keringanan Pajak Kendaraan hingga Desember 2026

"Bola itu berfungsi untuk merangsang sensorik pada anak cerebral palsy. Secara tidak langsung akan merangsang dan menstimulus sampai ke otak," terang Agung.

Menurutnya, anak CP umumnya mengalami gangguan pola otot. Kondisinya bisa berupa otot terlalu kaku atau terlalu lemas, kelemahan otot, spasme, pemendekan otot, hingga gangguan koordinasi. 

Sebagian anak juga mengalami gangguan postur dan keterlambatan tahapan motorik. Seperti mengangkat kepala, berguling, duduk, merangkak hingga berjalan.

Karena itu, stimulasi harus dilakukan secara konsisten. Ia menyarankan latihan dilakukan setiap hari dengan tetap memperhatikan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak.

"Progresnya memang tidak langsung kelihatan. Tiap hari atau tiap bulan belum tentu terlihat. Tetapi dengan terapi, kekakuan dan spasme otot secara tidak langsung akan berkurang," jelasnya.

Bukan hanya kemampuan motorik yang menjadi perhatian. Terapi wicara juga diberikan dalam kegiatan tersebut. Fisioterapis Resta Ariwiyanti memberikan edukasi terkait keterlambatan bicara atau speech delay.

Stimulasi dapat dilakukan dengan cara sederhana. Orang tua diajak lebih sering mengajak anak berbicara, memperkenalkan kosakata baru setiap hari, serta memberikan stimulasi oral-motor pada area wajah, pipi, lidah, dan rahang sesuai arahan terapis.

Bagi Agung, peran orang tua menjadi bagian penting dari proses terapi. Latihan tidak boleh berhenti ketika anak meninggalkan tempat terapi.

"Jangan pernah menyerah untuk melatih anak berkebutuhan khusus. Jangan pernah bilang capek. Dengan bantuan orang tua, progres anak semakin hari akan semakin meningkat dan tumbuh kembang anak semakin membaik," tegasnya.

Cerita perjuangan orang tua juga terlihat dari Anita, warga Kudu, Kecamatan Genuk. Dia datang membawa putranya, Muhammad Iqbal, 10, yang mengalami cerebral palsy setelah mengalami kejang ketika berusia sekitar 1,5 tahun.

Baca Juga: Sama-Sama 1.000 Cc, Kia Visto atau Karimun Kotak? Ini Perbedaannya

Sebelum kejang, Iqbal sempat mampu berdiri seperti anak seusianya. Namun setelah kejadian tersebut, kondisi motoriknya menurun. Bahkan selama hampir tiga tahun, Iqbal harus berulang kali keluar masuk rumah sakit.

"Dulu umur satu setengah tahun sudah bisa berdiri. Setelah kejang langsung lemas, perkembangannya menurun," kenang Anita.

Kini Iqbal bersekolah di SLB YPAC Simpang Lima dan duduk di kelas IV. Anita mengaku mendapatkan pengetahuan baru dari kegiatan terapi di Kecamatan Genuk. Terutama teknik latihan keseimbangan serta stimulasi otot kaki dan punggung yang bisa diterapkan sendiri di rumah.

Namun, ada satu hal yang masih menjadi pekerjaan rumah. Yakni membangun kepercayaan diri Iqbal.

Anita melihat putranya sebenarnya mampu melakukan sejumlah aktivitas. Hanya saja, rasa malu membuatnya terkadang enggan menunjukkan kemampuannya di depan teman-teman.

"Sebenarnya bisa, cuma kadang malu. Disuruh latihan mau, tapi kurang percaya diri," ujarnya.

Camat Genuk, Wahyudi mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk kehadiran pemerintah dalam memastikan anak penyandang disabilitas mendapatkan pendampingan untuk tumbuh dan berkembang.

Dalam kegiatan tersebut, sekitar 40 dari 45 anak penyandang disabilitas yang terdata hadir bersama orang tua.

"Setiap anak mempunyai hak untuk tumbuh kembang yang sama seperti anak-anak yang lain. Harapan kami, dengan kegiatan ini pemerintah hadir di tengah-tengah anak-anak, khususnya penyandang disabilitas," katanya.

Menurutnya, pendampingan tidak berhenti pada kegiatan terapi. Kecamatan Genuk juga menggelar kegiatan rutin tiga kali dalam sepekan. Program tersebut mencakup aktivitas bermain, pembelajaran, pendampingan hingga terapi kesehatan sesuai kebutuhan anak. (fgr)

Editor : Baskoro Septiadi
alat terapi orang tua Speech Delay Kecamatan Genuk cerebal palsy