RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Empat mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) berhasil mengembangkan T-SYARA, sebuah inovasi sarung tangan pintar yang mampu menerjemahkan gerakan bahasa isyarat menjadi teks dan suara secara langsung.
Proyek Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) ini dikembangkan oleh Doni Abil Anggara Putra sebagai ketua, bersama Zakliy Noval Labib, Rangga Ichsani Hadi Syahputra, dan David Bastian, di bawah bimbingan dosen Muhammad Sam'an.
David Bastian mengatakan, bahwa ide awal proyek ini bermula dari hasil observasinya terhadap siswa di sekolah-sekolah luar biasa di Kota Semarang.
Ia mengkhawatirkan anak-anak tersebut akan mengalami hambatan mental saat beranjak dewasa akibat terbatasnya masyarakat umum yang memahami bahasa isyarat.
"Takutnya nanti ketika dewasa, itu mentalnya down ketika bertemu dengan masyarakat luas. Kita mau bicara karena tidak paham, jadi nanti dianggurkan atau bahkan diabaikan atau disisihkan," ungkapnya.
David menjelaskan, sarung tangan ini mengintegrasikan mikrokontroler ESP32, sensor gerak (IMU) MPU6050 di pergelangan tangan, dan lima buah sensor tekuk jari (flex sensor). Data dari seluruh sensor tersebut diproses sehingga mampu menghasilkan teks dan suara secara otomatis setelah gerakan isyarat selesai dilakukan.
"Tim kami memilihkan ada sarung tangan yang bisa membaca gerakan bahasa isyarat dan kemudian munculnya suara yang sesuai dengan isyaratnya. Tidak hanya suara, tapi kita juga menambahkan output teks yang bisa ditampilkan," jelasnya.
Ia memaparkan bahwa sarung tangan ini dirancang sangat praktis. Pengguna cukup mengenakannya pada tangan dominan dan menghubungkan perangkat ke jaringan Wi-Fi atau hotspot dari ponsel, tanpa memerlukan proses instalasi yang rumit.
"Setelah kalibrasi awal selesai, pengguna tidak perlu mengunduh aplikasi khusus apa pun. Cukup buka peramban atau browser di ponsel, seperti Google Chrome, lalu masukkan alamat dashboard web yang tertera pada layar OLED kecil di pergelangan sarung tangan," terangnya.
Ia melanjutkan, setiap gerakan huruf Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang dibentuk pengguna akan dibaca secara presisi melalui kombinasi lekukan kelima jari dan kemiringan tangan.
"Huruf-huruf yang terdeteksi dari gestur itu akan langsung dikirim ke dashboard di ponsel pintar secara real-time hingga merangkai sebuah kata. Nah, begitu kata selesai dirangkai, sistem akan otomatis melafalkannya secara lisan lewat pengeras suara ponsel," jelasnya.
Meski demikian, David menuturkan timnya sempat menghadapi kendala akurasi pembacaan pada tahap awal riset saat masih menggunakan sensor Passive Infrared (PIR).
"Sensor yang kita pakai awalnya PIR, ternyata tidak sesuai pengakurasian sensor per jari. Kemudian kita coba temukan flex sensor yang bagus. Akurasinya juga lumayan tinggi dan bisa lebih detail setiap pergerakannya," tuturnya.
Baca Juga: Konjen Australia Ajak Siswa SDN Sarwadadi 03 Cilacap Belajar Bahasa Inggris lewat Cerita
Saat ini, kata David, prototipe T-SYARA telah diuji coba secara langsung kepada tenaga pendidik di sekolah luar biasa dan mendapatkan respons yang sangat positif.
"Kita uji cobanya di sekolah sosial serta sekolah luar biasa. Dan Alhamdulillah, gurunya suka. Kata beliau, kalau bisa alat ini lebih dikembangkan dan didistribusikan karena sangat berguna untuk tunawicara," katanya.
Sementara itu, Muhammad Sam'an menyampaikan rasa bangganya terhadap inovasi yang dihasilkan anak didiknya. Ia menyebut proyek ini merupakan bukti nyata bahwa mahasiswa mampu menerapkan ilmu sains dan teknologi untuk memecahkan persoalan sosial yang krusial di masyarakat.
"Inovasi T-SYARA ini bukan sekadar tugas akademik, tetapi sebuah bentuk empati yang diterjemahkan ke dalam teknologi inklusif. Saya sangat mengapresiasi kerja keras tim yang gigih mengintegrasikan sistem kecerdasan buatan dengan perangkat wearable, demi memberikan hak komunikasi yang setara bagi kawan-kawan difabel," ujar Sam'an.
Ia berharap inovasi sarung tangan T-SYARA ini dapat terus dikembangkan dan diproduksi secara massal.
"Harapan yang paling kami inginkan itu, ke depannya sarung tangan ini bisa dikembangkan lagi sehingga benar-benar ringkas, desainnya jauh lebih praktis, dan sangat mudah dibawa serta bisa diproduksi dalam skala besar,"katanya.(hib)
Editor : Tasropi