SEMARANG — Produk UMKM lokal Semarang mulai didorong naik kelas. Sekitar 20 pelaku usaha mendapat kesempatan mempresentasikan produknya langsung di hadapan calon buyer, asosiasi, dan mitra bisnis strategis dalam Pitching Day dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Program Waras Ekonomi di Hotel Gumaya Semarang, Rabu (26/8).
Mengusung tema From Local Potential to Market Opportunity, kegiatan tersebut menjadi upaya Pemkot Semarang membuka akses pasar lebih luas bagi produk lokal. Pelaku UMKM tidak hanya diberi ruang memamerkan produk, tetapi juga dipertemukan dengan pihak yang berpotensi menjadi mitra bisnis.
Kegiatan yang digelar Dinas Koperasi dan UMKM bersama Asia Small Business Federation (ASBF) Jawa Tengah itu dikemas melalui business pitching, Curated Product Gallery, serta diskusi interaktif RISE Talk.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengatakan, penguatan ekosistem usaha menjadi kunci agar UMKM mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah persaingan pasar yang semakin terbuka.
“Pertumbuhan ekonomi kita pada 2025 mencapai 6,49 persen, Indeks Pembangunan Manusia 85,80, sementara tingkat kemiskinan 3,80 persen. Fondasi ekonomi dan pembangunan manusia terus menguat,” kata Agustina.
Menurut dia, capaian tersebut harus diikuti dengan perluasan ruang ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya mendorong UMKM tumbuh dari sisi jumlah, tetapi juga memastikan produk mereka memiliki akses pasar.
Baca Juga: Pemkot Semarang Perkuat Ekosistem Industri Halal dan TKDN Jelang MTQ Nasional
Program Waras Ekonomi diperkuat melalui tahapan pendataan, seleksi, kurasi, pelatihan, business matching, hingga fasilitasi katalog produk. Hingga 3 Agustus 2026, tercatat 241 akun UMKM telah terdaftar. Dari jumlah tersebut, 165 akun sudah terverifikasi.
Ke depan, Pemkot Semarang menargetkan Waras Ekonomi tidak berhenti sebagai platform digital. Sistem tersebut akan dikembangkan dari konsep single platform menjadi single ecosystem yang menghubungkan pelaku UMKM dengan pasar, pembiayaan, pelatihan, hingga mitra usaha.
Pengembangan itu disiapkan untuk mendukung arah pembangunan Kota Semarang 2027, khususnya penguatan ekonomi kerakyatan dan sektor pariwisata.
Dalam Pitching Day, pelaku UMKM berhadapan langsung dengan sejumlah calon mitra, antara lain ASBF Jawa Tengah, Founder Indonesia Prima, PT KAI Services, KADIN Jateng, PHRI Jateng, PUTRI Jateng, serta Central Java Trade and Export Center (CJTEC).
Agustina berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada seremoni. Produk lokal Semarang diharapkan benar-benar mendapatkan kontrak, jaringan distribusi, dan pasar baru.
“Dari local potential menuju market opportunity. Dari potensi menjadi peluang, dari peluang menjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik,” tandasnya. (*)
Editor : Muhammad Rizal Kurniawan