RADARSEMARANG.ID, Semarang - Malam di Kelurahan Sekaran, Kecamatan Gunungpati, Senin (24/8), terasa berbeda. Ribuan warga tumplek di jalan mengikuti Karnaval Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.
Puluhan mobil hias dengan beragam bentuk kreasi berpadu iringan selawat. Mereka membawa semangat cinta Rasul sekaligus merawat tradisi warga yang terus bertahan.
Karnaval yang dimulai selepas salat Isya itu mengusung tema ”Cinta Rasulullah SAW, Cinta Sesama Manusia dan Cinta Rasul”.
Sekitar 1.000 warga diperkirakan ikut ambil bagian. Selain itu, sekitar 60 mobil hias dikerahkan untuk memeriahkan arak-arakan yang menjadi bagian dari rangkaian Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) tersebut.
Baca Juga: 15 Kepala Truk Bekas Terbakar di Lahan Kosong Ngaliyan Semarang, Asap Hitam Membubung Tinggi
Kemeriahan sudah terlihat dari beragam bentuk kendaraan dan properti yang dibawa peserta. Setiap rombongan menampilkan potensi dan kreativitas masing-masing.
Ada mobil hias berbentuk unta, gajah, hingga warak ngendog yang menjadi ikon budaya Semarang.
Warga juga membawa kembang manggar yang menjulang tinggi, membuat barisan peserta semakin mencolok.
Iring-iringan selawat mengiringi langkah peserta sepanjang perjalanan. Suara lantunan selawat berpadu dengan antusiasme warga yang menyaksikan dari sisi jalan.
Karnaval pun tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk bersama-sama menghidupkan suasana Maulid Nabi.
Lurah Sekaran, Anggun Budi Pramono mengungkapkan, karnaval tersebut merupakan kegiatan yang tumbuh dari masyarakat.
Pemerintah kelurahan hadir untuk memfasilitasi sekaligus mendorong agar tradisi positif tersebut terus dilestarikan.
Baca Juga: Bayi Terbungkus Plastik Ditemukan Hidup di Depan Makam Pakopen, Polisi Buru Pelaku
"Harapannya kegiatan karnaval kirab budaya ini selalu dilestarikan bahkan dilembagakan setiap tahunnya," katanya.
Menurutnya, karnaval dan kirab budaya menjadi salah satu ciri khas kegiatan masyarakat di wilayah Gunungpati.
Selain kegiatan keagamaan seperti pengajian dan pertunjukan wayang, tradisi karnaval masih cukup kuat dipertahankan warga.
"Karena di Gunungpati memang terkenal ada kirab budaya, karnaval, dan macam-macam yang masih terjaga sampai saat ini," ujarnya.
Peserta karnaval berasal dari berbagai unsur masyarakat. Masing-masing RT dan RW turut mengambil bagian.
Sejumlah masjid, pesantren, dan madrasah ibtidaiyah (MI) juga ikut menjadi bagian dari rombongan sehingga arak-arakan berlangsung semakin panjang.
Ia menyebut, peserta diperkirakan mencapai sekitar 1.000 orang dengan sekitar 60 mobil hias. Panjangnya barisan membuat suasana karnaval terasa semarak.
Selain peserta yang menggunakan mobil hias, ada pula warga yang mengikuti kirab dengan berjalan kaki.
Rute karnaval terbagi menjadi dua. Rombongan dari wilayah Banaran bergerak dari kawasan pintu masuk Universitas Negeri Semarang (Unnes) menuju kawasan Trangkil.
Sementara warga wilayah Sekaran mengambil rute di sekitar kawasan Unnes hingga pertigaan Muntal sebelum kembali ke wilayah masing-masing.
Uniknya, karnaval tidak berakhir di satu titik finis. Setelah arak-arakan selesai, peserta kembali menuju masjid atau musala masing-masing. Di sana, warga melanjutkan kegiatan dengan selamatan sebagai penutup rangkaian Maulid Nabi.
"Jadi memang cukup unik. Kalau kita biasanya start itu kemudian finish sudah habis semua. Tapi mereka setelah kembali bersama-sama melaksanakan selamatan di masing-masing masjid,” jelasnya.
Baca Juga: Kasta Guru Dihapus? Permen PANRB 6 Tahun 2024 Bawa Angin Segar Bagi Ribuan Honorer!
Kreativitas warga menjadi daya tarik utama dalam karnaval. Berbagai bentuk mobil hias tidak hanya menjadi ornamen, tetapi juga menjadi media warga untuk mengekspresikan gagasan dalam menyambut Maulid Nabi.
Menurut Anggun, pemerintah memberikan ruang agar masyarakat dapat berkreasi dan memeriahkan kegiatan tersebut.
"Mereka berkreasi, membuat bentuk-bentuk yang lebih kreatif untuk memeriahkan kegiatan dan disampaikan kepada warga. Antusias warga juga cukup banyak," katanya.
Kemunculan karnaval tersebut sekaligus membawa potensi ekonomi bagi masyarakat. Dengan banyaknya peserta dan warga yang datang, pelaku UMKM di sekitar lokasi ikut memiliki peluang mendapatkan manfaat dari ramainya kegiatan.
Ia berharap tradisi tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan semata. Pemerintah Kota Semarang, menurut dia, berkomitmen memfasilitasi kegiatan masyarakat yang memiliki nilai budaya, sosial, dan keagamaan agar terus berkembang.
"Harapannya kita memfasilitasi kegiatan warga dan menjadi agenda tahunan yang terselenggara di masing-masing wilayah kelurahan. Sehingga kita bisa nguri-nguri budaya yang ada di kecamatan maupun kelurahan," tandasnya.
Karnaval Maulid di Sekaran akhirnya bukan hanya menjadi perayaan keagamaan. Unta, gajah, warak, hingga kembang manggar yang menjulang menjadi simbol kreativitas warga. Sementara lantunan selawat menjadi pengikat suasana, menyatukan warga dalam semangat cinta Rasul dan cinta sesama. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi