Dosen Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang Bekali Literasi Kesehatan Reproduksi Remaja dengan Booklet

H. Arif Riyanto • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 17:42 WIB
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Dosen di Pondok Pesantren Al Burhan Gedawang, Kota Semarang, Sabtu (8/8/2026) lalu.

 
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Dosen di Pondok Pesantren Al Burhan Gedawang, Kota Semarang, Sabtu (8/8/2026) lalu.  

 RADARSEMARANG.ID, Semarang– Membicarakan kesehatan reproduksi kepada remaja tidak selalu harus dalam suasana serius dan penuh ceramah.

Dengan cara yang lebih dekat dengan keseharian mereka, topik tentang kesehatan reproduksi, hubungan, hingga rencana masa depan justru dapat menjadi bahan diskusi yang menarik.

Hal tersebut dilakukan Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Dosen di Kelurahan Gedawang, Kota Semarang pada Sabtu (8/8/2026) lalu.

Mengusung tema “Penguatan Literasi Kesiapan Menikah bagi Remaja melalui Edukasi Booklet di Kelurahan Gedawang”, kegiatan ini mengajak remaja dan orangtua/wali/ orang yang terdekat dengan remaja untuk lebih memahami kesehatan reproduksi sekaligus mulai memikirkan pilihan dan rencana masa depan secara lebih matang.

Kegiatan yang berlangsung di Pondok Pesantren Al Burhan Gedawang tersebut melibatkan siswa kelas XII MA Al Burhan bersama pendamping yaitu guru/pendamping asrama putri. Kehadiran lingkungan pendamping menjadi bagian penting agar remaja memiliki tempat untuk berdiskusi ketika menghadapi berbagai informasi dan persoalan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi maupun kehidupan mereka.

Mahasiswa Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang melakukan pendampingan dalam simulasi dan diskusi interaktif.
Mahasiswa Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang melakukan pendampingan dalam simulasi dan diskusi interaktif.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim Pengabdian Masyarakat dari Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang, yang terdiri atas dosen dan mahasiswa, yakni Dhias Widiastuti, SST., M.Kes., Dhita Aulia Octaviani, S.ST, Bdn., M.Keb., dan Septalia Isharyanti, S.ST, Bdn., MPH.

Kegiatan pertama yaitu penyampaian materi edukasi oleh Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Dhias Widiastuti, dilanjutkan dengan penguatan materi oleh Dhita Aulia Octaviani dan Septalia Isharyanti.

Berikutnya dilakukan pendampingan remaja bersama tim mahasiswa dalam simulasi dan diskusi interaktif, sehingga suasana edukasi berlangsung lebih hidup dan peserta dapat terlibat secara aktif.

Tidak Sekadar Mendengarkan Materi

Agar suasana tidak monoton, edukasi dikemas dengan booklet “Menikah Bukan Sekadar Merasa Sudah Dewasa” sebagai salah satu media pembelajaran.

Remaja tidak hanya mendengarkan pemaparan.

Tim juga mendampingi jalannya simulasi dan diskusi interaktif yang mengajak peserta melihat berbagai situasi yang mungkin mereka temui dalam kehidupan sehari-hari dan mengajak para guru/pendamping asrama untuk aktif,” jelas Dhias Widiastuti kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dari diskusi tersebut, lanjut dia, remaja diajak untuk berani menyampaikan pendapat, mempertimbangkan pilihan, dan melihat sebuah keputusan dari berbagai sisi.

Pembahasan pun tidak berhenti pada persoalan menikah.  Kesehatan reproduksi, menjaga diri, hubungan yang sehat, pengaruh media sosial, pendidikan, cita-cita, serta perencanaan masa depan menjadi bagian dari percakapan bersama,” bebernya.

Cara tersebut membuat suasana edukasi menjadi lebih hidup.

Remaja memiliki ruang untuk bertanya dan berdiskusi, sementara tim pengabdian mendampingi proses agar pembahasan tetap berada dalam koridor edukasi kesehatan yang tepat.

Remaja Perlu Didampingi, Bukan Dihakimi

Menurut dia, edukasi kesehatan reproduksi pada remaja perlu dibangun dengan komunikasi yang terbuka.

Remaja saat ini sangat mudah memperoleh informasi dari media sosial. Namun, tidak semua informasi yang mereka temukan dapat dipastikan benar. Karena itu, kemampuan untuk mengenali informasi yang tepat dan memiliki orang dewasa yang dapat diajak berdiskusi menjadi hal yang penting,” jelasnya.

Di sinilah peran orang tua/wali/guru menjadi semakin berarti.

Menurut Dhias Widiastuti, pendampingan bukan sekadar memberikan larangan, tetapi membantu remaja memahami alasan di balik setiap pilihan dan konsekuensinya.

Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk mempertemukan edukasi kesehatan dengan kebutuhan nyata remaja. Pesan yang disampaikan sederhana: mengenal dan menjaga kesehatan reproduksi adalah bagian dari mempersiapkan masa depan,” katanya.

Dikatakan, melalui kegiatan ini, Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang terus mendorong pendekatan edukasi yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membuka ruang dialog dengan remaja.

Sebab, membangun generasi yang sehat bukan hanya tentang memberikan informasi, tetapi juga tentang memastikan remaja memiliki kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, dan belajar mengambil keputusan dengan lebih bijak,” tandasnya. (aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
Poltekkes Kesehatan Semarang kebidanan Pengabdian kepada masyarakat Edukasi Kesehatan Reproduksi