Kenang 81 Tahun Perang Dunia II, Keluarga Korban dari Belanda Ziarah ke Ereveld Kalibanteng Semarang

Ida Fadilah • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 20:07 WIB

 

Suasana Peringatan 81 tahun berakhirnya Perang Dunia II di Erevald Kalibanteng, Kota Semarang, Sabtu (15/8/2026). (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Suasana Peringatan 81 tahun berakhirnya Perang Dunia II di Erevald Kalibanteng, Kota Semarang, Sabtu (15/8/2026). (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Netherlands War Graves Foundation (Oorlogsgravenstichting/OGS) Indonesia memperingati  81 tahun berakhirnya Perang Dunia II. Kenangan itu dilaksanakan di Makam Kehormatan Belanda atau Ereveld Kalibanteng, Kota Semarang. 

Dalam peringatan korban perang itu, beberapa makam dikunjungi keluarga. Mereka hadir dari Belanda untuk mengenang keluarganya yang dimakamkan di Ereveld Kalibanteng.

Begitu sampai, keluarga korban menghormati para korban perang dengan menyekar membawakan bunga.

Prosesi peringatan di iringi Lagu kebangsaan Belanda. Sebagai penghormatan, bendera Belanda dikibarkan setengah tiang.

Baca Juga: Ribuan Warga Padati Arak-arakan Cheng Ho 2026, Semarang Bidik Festival Kelas Dunia

Allan Akbar dari Perwakilan OGS Indonesia menyampaikan pentingnya digelar peringatan ini  untuk merefleksikan masa lalu. Tak lain juga untuk memahami dampak perang. Ia mengingatkan adanya makam berjumlah kurang lebih 3.000 itu menunjukkan momen nyata masa lalu yang menimbulkan korban perang.

"Tema peringatan hari ini adalah Memories That Endure, Values That Unite. Kita merefleksikan masa lalu, menjaga ceritanya, dan membangun jembatan menuju masa depan yang damai dan aman bagi semua," katanya, Sabtu (15/8/2026).

Ia menyebut, ribuan makam itu mewakili sebagian kecil dari orang-orang yang mengalami penderitaan dan kehilangan akibat perang.

Allan melanjutkan, agar menjadi pembelajaran, kisah para korban dipandang perlu di sampaikan ke generasi berikutnya. Ia menilai cerita dapat diambil dari peninggalan seperti buku harian, foto, hingga puisi, atau dari penyintas.

"Tantangan bagi generasi saat ini dan generasi mendatang adalah mengambil kisah-kisah tersebut dan memahaminya. Tantangannya bukan untuk menghakimi atau berpihak, tetapi belajar dari kisah-kisah ini untuk menemukan jalan ke depan," ujarnya.

Sementara itu, Perwakilan dari Kerajaan Belanda dan Kantor Atase Pertahanan, Commander Patrick Stähli, menyampaikan kisah Gerrit van der Meulen. Ia adalah seorang warga Belanda yang datang ke Jakarta pada 1930-an untuk bekerja di sebuah lembaga pemerintahan.

Dalam pidatonya, Gerrit ditangkap dan ditahan pada masa pendudukan Jepang. Penangkapan itu membuatnya kerja paksa dalam pembangunam jalur kereta api Pekanbaru di Sumatera bersama para romusha Indonesia.

Baca Juga: Gaji Pokok Bakal Naik? Ini Skema Kesejahteraan ASN 2027 yang Disiapkan Pemerintah!

"Gerrit dan begitu banyak romusha Indonesia tidak selamat dari kerasnya kondisi tersebut," kata Patrick.

Patrick lantas mengingatkan jika perang menyisakan penderitaan manusia, sehingga tak hanya sebuah angka korban, pengeboman, atau konflik yang tercatat dalam sejarah. Ia turut menyampaikan pesan perdamaian, dari kisah para korban perang menunjukkan besarnya penderitaan manusia di balik catatan sejarah.

"Perdamaian tidak bisa teranggap remeh. Perdamaian tidak datang dengan sendirinya. Kita harus berjuang demi perdamaian setiap hari," ujarnya.

la mengajak masyarakat untuk menjaga perdamaian melalui pendidikan, komunikasi dan diplomasi, sekaligus belajar menerima perbedaan.

Henry Sandee, salah satu keluarga korban turut hadir dalam peringatan tersebut. Di kesempatan ini, ia tak segan menceritakan kisah keluarganya yang memiliki hubungan erat dengan sejarah perang di Indonesia dan Asia Tenggara.

Henry membagikan kisah sang kakek, namanya Thomas Henry Lewis. Meski kakeknya gugur pada April 1945 beberapa bulan sebelum Perang Dunia II berakhir, di kamp Bangkong, namun dirinya pernah bertemu secara langsung. Soal kehidupan kakeknya, ia mengaku tak banyak mengetahui, hanya saja tahu dari nomor registrasinya.

Demi menelusuri nasib sang kakek, ia mengunjungi lokasi bekas kamp Jepang tersebut di wilayah Bangkong, Kecamatan Semarang Selatan (saat ini berubah menjadi sekolah). 

"Sulit dibayangkan bahwa kurang lebih 81 tahun yang lalu itu menjadi penjara dan di sana ditempatkan 1.400 orang," ujarnya Henry yang sempat menjadi dosen Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga itu.

Henry mengaku pengalaman keluarganya selama hidup di Indonesia telah membentuk hidupnya. Ia pun tak lupa dengan suasana komunitas tempat tinggal keluarganya, kala itu banyak dihuni orang-orang yang pernah tinggal di Indonesia. Dalam kedatangannya, ia mengunjungi makam sang kakek dan memberikan bunga. 

Sebagai informasi, makam di pinggir Jalan Siliwangi tersebut menjadi tempat istirahat terakhir para korban perang. Mayoritas yang merupakan perempuan dan anak-anak Belanda. Namun, beberapa orang-orang Indonesia ada yang dimakamkan di tempat tersebut. 

Dalam peringatan itu tampak Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, perwakilan Kerajaan Belanda dan Kantor Atase Pertahanan Commander Patrick Stähli, perwakilan Yayasan Makam Kehormatan Belanda atau Oorlogsgraven-stichting (OGS) Indonesia Allan Akbar, keluarga korban perang Henry Sandee. Sejumlah perwakilan pemerintah, TNI, masyarakat juga hadir. (ifa)

Editor : Baskoro Septiadi
Perang Dunia II Ereveld Kalibanteng peringatan perang semarang keluarga korban