RADARSEMARANG.ID, Semarang – Tembok pembatas rel kereta api di Kelurahan Pendrikan Lor, Kecamatan Semarang Tengah, tak lagi sekadar menjadi pembatas. Warga menyulapnya menjadi galeri wayang terbuka. Puluhan tokoh pewayangan menghiasi dinding dengan latar merah putih, menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus menghidupkan kembali budaya Jawa di tengah permukiman kota.
Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (6/8) pagi, mural terlihat menghiasi dinding pembatas rel di wilayah RW 1. Tepatnya di RT 05 dan RT 08. Sebanyak 19 bidang mural berada di RT 05, sedangkan 28 mural lainnya tersebar di RT 08. Total terdapat 47 mural baru di wilayah RW 1.
Dari arah barat ke timur, mata pengunjung disuguhi beragam karakter pewayangan. Mulai Buto, Batara Bayu, Hanoman, Kumbakarna, Antareja, Krisna, Janaka, Bagong, Gareng, Gunungan, Semar hingga Petruk. Setiap bidang menampilkan tokoh berbeda, sehingga dinding yang sebelumnya kosong berubah menjadi deretan cerita pewayangan.
Baca Juga: Pulang ke Jejak Leluhur, Keluarga Raja Kopi Belanda Napak Tilas di Salatiga
Latar merah putih membuat mural terasa semakin semarak. Selain mempercantik kawasan, warna tersebut sekaligus menyesuaikan suasana menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Ketua RT 05 RW 1 Pendrikan Lor, Imam Suyudi, mengatakan, ide membuat mural wayang muncul karena kawasan tersebut memiliki keterkaitan kuat dengan nama-nama pewayangan. Sejumlah jalan di wilayah Pendrikan Lor menggunakan nama tokoh wayang.
“Awalnya ada gagasan karena daerah sini kampung-kampungnya menggunakan nama wayang. Jadi kami punya ide menggambar wayang untuk nguri-nguri budaya yang kelihatannya semakin berkurang,” ujarnya.
Menurutnya, mural tersebut sekaligus menjadi media agar warga, terutama anak-anak, tidak sekadar melihat gambar tanpa mengetahui siapa tokoh yang ditampilkan.“Biar masyarakat mengingat, oh yang ini namanya ini, yang ini namanya ini,” katanya.
Pengerjaan mural dilakukan bertahap sejak awal tahun. Aktivitas pengecatan lebih banyak dilakukan pada malam hari karena sebagian warga bekerja pada siang hari.“Mulai Januari sudah ada ide. Kemudian dikerjakan setiap malam. Kalau siang banyak warga yang bekerja, jadi adanya yang bisa malam,” jelasnya.
Imam menyebut, 19 bidang mural di wilayah RT 05 menampilkan karakter yang beragam. Ada tokoh dari kayangan, Pandawa, Punakawan hingga karakter dari Astina.
“Jadi menggambarkan bahwa di dunia itu ada dewa-dewa, tokoh baik, dan ada juga tokoh yang kurang baik,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua RW 1 Pendrikan Lor, Armia Setia, mengatakan, mural berada di tiga RT. Namun, pengerjaan penuh berada di RT 05 dan RT 08.
Menurutnya, warga sengaja membuat mural bukan hanya untuk mempercantik lingkungan. Dinding tersebut diharapkan dapat menjadi media yang mampu “berbicara” tentang budaya.
“Kami membikin mural ini seperti membuat tembok itu bicara tentang budaya. Jadi, hanya dengan melihat tembok dengan mural wayang, orang akan melihat bahwa ini ada budaya tertentu. Setiap wayang juga mempunyai arti tersendiri,” katanya.
Ia menambahkan, mural juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda. Terlebih, anak-anak saat ini lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai.
“Biar juga mengedukasi, melestarikan budaya, khususnya buat anak-anak muda. Apalagi sekarang main HP. Kami ingin mereka juga tertarik datang, mengabadikan dengan HP dan kemudian memposting di media sosial,” ujarnya.
Pengerjaan mural mayoritas dilakukan oleh bapak-bapak warga. Namun, generasi muda juga diberi kesempatan ikut berkontribusi.
“Memang yang banyak mengerjakan bapak-bapak. Tapi tidak menutup kemungkinan yang muda-muda ikut berkontribusi. Memang tidak banyak, tetapi cukup membanggakan dan membahagiakan karena mereka turut serta,” imbuhnya.
Di sisi lain, Lurah Pendrikan Lor Diah Prawati menjelaskan, mural tersebut berada di dinding pembatas rel kereta api di wilayah RW 1, khususnya RT 05 dan RT 08.
Menurutnya, tema wayang dipilih karena memiliki kaitan dengan identitas kawasan. Banyak nama jalan di Kelurahan Pendrikan Lor menggunakan nama tokoh pewayangan.
“Tahun ini temanya wayang karena memang beberapa wilayah di Kelurahan Pendrikan Lor nama-nama jalannya dari nama pewayangan,” terangnya.
Konsep tersebut berbeda dengan mural di RW 2 yang dikerjakan dalam dua tahun sebelumnya. Di wilayah tersebut, sekitar 70 mural dibuat dengan konsep yang lebih beragam karena mengusung kampung tematik fotografi dan kampung toleransi.
“Kalau di RW 2 lebih ke fotografi dengan berbagai macam bentuk. Ada gambar pantai, kartun anak-anak dan lainnya. Kalau di RW 1 ini mereka fokus di pewayangan,” jelasnya.
Tahun ini, penataan mural di RW 1 menghasilkan tambahan 47 mural. Rinciannya, 19 mural di RT 05 dan 28 mural di RT 08.
Baca Juga: Ini Kisi-Kisi Rahasia SKT PPPK Sekolah Rakyat 2026 yang Dirahasiakan Peserta Lain!
Diah menyebut, pengerjaan dan penataan lingkungan tersebut turut terbantu dengan dana bantuan operasional sebesar Rp25 juta dari Pemerintah Kota Semarang.
“Alhamdulillah tahun kemarin dan tahun ini kami sangat terbantu. Bapak-Ibu RW maupun RT menggunakan dana bantuan operasional Rp25 juta dengan sebaik-baiknya. Kegiatan di wilayah menjadi lebih mudah dan kampung juga semakin cantik,” katanya.
Selain mempercantik lingkungan, Diah berharap keberadaan mural mampu menjadi sarana pembelajaran budaya bagi anak-anak dan remaja.
“Harapannya bisa mengedukasi anak-anak dan remaja karena karakter-karakter wayang mulai tergerus globalisasi. Kami ingin Gen Z atau anak-anak zaman sekarang di Pendrikan Lor tetap mengetahui karakter-karakter wayang,” tandasnya.
Terlebih, kawasan tersebut kerap dilintasi warga saat kegiatan kampung, termasuk jalan sehat pada momentum peringatan HUT Kemerdekaan. Mural wayang pun diharapkan menjadi “buku pelajaran” budaya Jawa yang terbuka dan bisa dinikmati siapa saja yang melintas. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi