Enam Bulan Menanti, Talut Longsor Pusponjolo Semarang Mulai Diperbaiki

Figur Ronggo Wassalim • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 13:01 WIB

 

TERTANGANI: Petugas membersihkan material longsor dan membangun kembali Talut di Pusponjolo Selatan, Kelurahan Bojongsalaman, Semarang Barat, Rabu (5/8) pagi
TERTANGANI: Petugas membersihkan material longsor dan membangun kembali Talut di Pusponjolo Selatan, Kelurahan Bojongsalaman, Semarang Barat, Rabu (5/8) pagi. (FIGUR RONGGO WASSALIM)

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Terpal biru masih membentang di bekas longsoran Jalan Pusponjolo Selatan, RT 05 RW 03, Kelurahan Bojongsalaman, Kecamatan Semarang Barat. Di atasnya, terpampang tulisan: “Kami Butuh Tindakan Nyata, Karena Keselamatan Jiwa Tidak Bisa Ditunda.”

Pesan itu menjadi gambaran keresahan warga yang selama berbulan-bulan hidup berdampingan dengan tebing longsor. Namun, Rabu (5/8), secercah harapan mulai terlihat. Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, talut yang sebelumnya ambrol mulai dikerjakan.

Ketua RT 05 RW 03 Bojongsalaman, Bangun Nur Wiyatno, mengatakan longsor terjadi hingga tiga kali. Dua kejadian berlangsung pada Januari, sedangkan longsor terakhir terjadi pada April. Kejadian terakhir menjadi yang paling parah karena menghilangkan akses jalan menuju rumah warga di atas bukit.

Baca Juga: Pembersihan Longsor Talut Pabrik Es Batu di Karanganyar Legok Semarang Baru Capai 50 Persen

"Dampaknya yang bulan April sungguh sangat parah. Akses jalan ke atas hilang semua. Warga yang rumahnya di atas harus merayap untuk masuk ke rumah," ujarnya.

Tebing yang longsor diperkirakan memiliki ketinggian sekitar 12 meter. Sedikitnya empat rumah dengan enam kepala keluarga terdampak langsung karena akses jalan terputus. Rumah yang paling terdampak di antaranya milik Sugimin, Sutami, Niken, dan Agus Riadi.

Putusnya akses membuat aktivitas warga berubah total. Sepeda motor milik warga yang tinggal di atas bukit tak lagi bisa dibawa sampai rumah. Kendaraan terpaksa diparkir di bawah dan dititipkan kepada warga.

"Untuk kendaraan, sepeda motor dari atas terpaksa kami parkir di bawah. Kami tumpangkan di warga yang di bawah," katanya.

Enam bulan bukan waktu singkat untuk hidup dengan akses terbatas. Warga harus beradaptasi dengan jalan darurat yang jauh dari kata nyaman.

Diceritakan, perjuangan warga adalah ketika harus membawa kebutuhan sehari-hari dari bawah menuju rumah di atas bukit. Tidak ada lagi akses kendaraan yang bisa digunakan. Barang belanjaan, air, maupun kebutuhan rumah tangga harus dibawa secara manual melewati jalur yang tersisa.

Kondisi tersebut menjadi semakin berat bagi warga lanjut usia. Untuk keluar maupun masuk rumah, mereka harus berjalan perlahan dan berhati-hati. Bahkan, ketika membawa barang dalam jumlah banyak, warga harus saling membantu agar bisa sampai ke rumah.

Warga juga tak tinggal diam. Mereka bergotong royong membersihkan material tanah yang menutup sebagian kawasan. Sedikit demi sedikit tanah dipindahkan secara manual."Warga sedikit-sedikit membantu membersihkan lahan itu, walaupun belum bisa maksimal," ungkapnya.

Baca Juga: Segera Daftarkan Diri Untuk Ikut Upacara 17 Agustus, Cek Linknya Disini

Bagi warga, perjuangan tersebut dilakukan agar kehidupan tetap berjalan. Sebab, jalan yang hilang bukan sekadar akses fisik, melainkan jalur utama menuju rumah dan aktivitas sehari-hari.

Persoalan lain muncul terkait status tanah warga yang berada di atas. Bangun menyebut status sebagian tanah masih belum jelas karena belum memiliki dokumen resmi kepemilikan.

Karena itu, warga berharap ada solusi jangka panjang. Jika kawasan tersebut memang dinilai terlalu berisiko, mereka berharap pemerintah mempertimbangkan relokasi.

"Kalau memang direlokasi, kami minta relokasi. Banyak warga yang tinggal di atas. Sekitar delapan KK dengan 15 sampai 20 jiwa," katanya.

Ketua RW 03 Kelurahan Bojongsalaman, Sugeng Aprito Lestariadi, mengatakan wilayahnya memiliki kontur perbukitan. Dari tujuh RT, tiga RT berada di kawasan kaki bukit pemakaman Dapi, yakni RT 05, RT 06, dan RT 07.

Ketiga wilayah tersebut memiliki potensi longsor. Namun, RT 05 menjadi titik yang paling mengkhawatirkan."RT 5, RT 6, RT 7 kena longsor semua. Tetapi yang paling parah memang RT 5. Kerusakannya cukup berat dan mengkhawatirkan warga yang di atas," jelasnya.

Ia menambahkan, sejumlah bagian tebing memang sudah diperkuat talut. Namun, masih terdapat area yang belum memiliki penguatan. Kondisi itu menjadi ancaman ketika hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut.

"Akses jalan yang selama ini ada, baik kendaraan maupun jalan kaki, hilang. Ini menjadi keresahan warga karena aktivitas mereka terganggu," katanya.

Ia berharap Pemkot Semarang memberikan perhatian lebih terhadap kawasan tersebut. Upaya pencegahan dinilai penting karena kontur perbukitan dan curah hujan tinggi dapat sewaktu-waktu memicu longsor kembali.

Sementara itu, Lurah Bojongsalaman, Suryono, mengatakan penanganan longsor telah diajukan sejak kejadian pertama. Pihak kelurahan berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah dan stakeholder terkait.

Nota dinas pengajuan bantuan pembangunan talut telah disampaikan kepada Wali Kota Semarang sejak Januari. Koordinasi juga dilakukan dengan pihak kecamatan. Kini, pengajuan tersebut mulai membuahkan hasil. Pembangunan talut di RT 05 RW 03 mulai dikerjakan pada Agustus ini.

Baca Juga: Kawasaki Ninja 2026: Desain Makin Agresif, Teknologi Semakin Canggih, Apa Saja yang Berubah?

"Alhamdulillah, saya mewakili warga masyarakat Kelurahan Bojongsalaman, khususnya RT 05 RW 03, mengucapkan terima kasih kepada Ibu Wali Kota, Wakil Wali Kota, Pak Sekda, dan OPD terkait yang sigap membantu warga. Langsung ditangani dan mulai ada pembangunan talut," katanya.

Dikatakan, pembangunan dilakukan bertahap. Prioritas pertama adalah memperkuat tebing melalui pembangunan talut. Setelah talut selesai, pekerjaan akan dilanjutkan dengan perbaikan akses jalan warga.

"Dari informasi Disperkim, sementara pembangunan talut dulu. Setelah talut selesai baru jalan, karena akses masyarakat sangat sulit," jelasnya.

Pekerjaan pembangunan talut diperkirakan berlangsung dua hingga tiga bulan. Pemerintah berharap penguatan tebing tersebut dapat mengurangi risiko longsor sekaligus memberikan rasa aman bagi warga yang tinggal di bawah maupun di atas tebing.

Suryono juga mengingatkan warga untuk bersama-sama menjaga lingkungan, terutama kebersihan dan kondisi saluran air.

"Untuk warga yang di atas, saya berharap menjaga kebersihan dan keselamatan. Warga yang di bawah juga harus mengantisipasi saat musim hujan. Semoga sebelum hujan, talut sudah selesai sehingga masyarakat di bawah lebih aman," harapnya. (fgr)

Editor : Baskoro Septiadi
Kecamatan Semarang Barat Semarang Barat LONGSOR Kelurahan Bojong Salaman