Dinkes Sebut MBG di SMKN 6 Semarang Dimasak Jam 21.00 Malam, Diduga Jadi Sumber Masalah Keracunan

Adennyar Wicaksono • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 19:05 WIB
Suasana SMKN 6 Semarang pasca tumbang keracunan MBG, Jumat (31/7) siang. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG 
Suasana SMKN 6 Semarang pasca tumbang keracunan MBG, Jumat (31/7) siang. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Hasil investigasi dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membuat siswa SMKN 6 Semarang, membeberkan fakta mencengangkan. Salah satunya menu yang dimasak pukul 21.00 malam.

Untuk hasil penyebab keracunan saat ini Dinas Kesehatan (Dinkes) masih menunggu hasil laboratorium, karena sampel makanan masih menjalani proses kultur bakteri yang membutuhkan waktu sekitar 7 hingga 14 hari.

"Kalau hasil pastinya belum selesai karena sampelnya harus dibiakkan dulu untuk menemukan apakah positif kuman atau bakteri. Pemeriksaan kultur bakteri membutuhkan waktu sekitar 7 sampai 14 hari," kata Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam, Senin (3/8) petang.

Baca Juga: Buntut Dugaan Keracunan Ratusan Siswa, SMKN 6 Semarang Setop Sementara MBG hingga Evaluasi Rampung

Sampel makanan yang diambil, lanjut Hakam adalah ayam bumbu rendang, daun singkong, tahu, dan telur puyuh yang sebelumnya disajikan ke siswa SMKN 6 Semarang.

Hakam menjelaskan, hasil investigasi awal melalui wawancara terhadap siswa yang mengalami gejala, menu ayam bumbu rendang menjadi makanan yang paling banyak dicurigai.

"Dugaan juga mengarah pada telur puyuh dan daun singkong, meski kepastiannya masih menunggu hasil laboratorium," tambah dia.

Dari hasil pemeriksaan lapangan, Dinkes juga menemukan dugaan pelanggaran serius terhadap standar operasional prosedur (SOP) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Baca Juga: 10 Siswa SMKN 6 Semarang Masih Dirawat, Sekolah Minta MBG Disetop Sementara

"Secara garis besar dari 19 SOP yang harus ditaati SPPG, tapi hanya tiga yang terpenuhi. Berarti ada 16 SOP yang tidak terpenuhi," ungkapnya.

Tiga SOP yang dinilai telah dipenuhi meliputi penggunaan bahan baku, proses distribusi makanan, serta prosedur penyajian kepada siswa.

Sementara itu, salah satu temuan penting dalam investigasi adalah makanan diduga dimasak sejak pukul 21.00 WIB pada malam sebelum didistribusikan.

Idealnya kata dia, makanan MBG seharusnya dimasak mendekati waktu distribusi agar kualitasnya tetap terjaga.

"Idealnya makanan yang dibagikan pagi hari mulai dimasak sekitar pukul 04.00 atau 05.00 pagi. Setelah matang sebaiknya tidak lebih dari dua jam langsung didistribusikan dan dikonsumsi," jelasnya.

Dinkes menduga bakteri yang berpotensi menyebabkan keracunan antara lain E. coli, Staphylococcus, atau Salmonella, namun kepastiannya masih menunggu hasil kultur laboratorium.

Baca Juga: Kronologi Dugaan Keracunan MBG di SMKN 6 Semarang, Keluhan Muncul Sejak Malam hingga Ratusan Siswa Ditangani Medis

Saat ini, lanjut Hakam, masih siswa yang menjalani perawatan di RSUD KRMT Wongsonegoro, RS Panti Wilasa Citarum, lalu Puskesmas Banget Ayu.

Sebagian besar pasien mengalami gejala mual, muntah, dan diare, namun kondisinya terus membaik.

Dia menerangkan,Hasil investigasi lengkap nantinya akan diserahkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bahan evaluasi.

"Alhamdulillah perbaikan semua. Hanya ada satu pasien yang dirujuk karena kondisinya lemas dan perlu pemeriksaan elektrolit," pungkasnya. (den)

Editor : Baskoro Septiadi
keracunan mbg semarang Makan Bergizi Gratis SMKN 6 Semarang