RADARSEMARANG.ID, Semarang - Aktivitas belajar mengajar di SMKN 6 Semarang kembali berjalan normal, Senin (3/8).
Namun, program Makanan Bergizi Gratis (MBG) masih dihentikan sementara menyusul dugaan gangguan kesehatan yang dialami ratusan siswa dan sejumlah guru setelah menyantap menu MBG pada pekan lalu.
Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, aktivitas sekolah terlihat kembali berjalan seperti biasa. Siswa mengikuti pembelajaran di kelas, sementara sejumlah guru menjalankan kegiatan mengajar. Meski demikian, tidak seluruh siswa hadir. Sekolah mencatat sekitar 19 siswa tidak masuk karena sakit.
Baca Juga: 10 Siswa SMKN 6 Semarang Masih Dirawat, Sekolah Minta MBG Disetop Sementara
Kepala SMKN 6 Semarang, Berti Sagendra, mengatakan kondisi siswa dan guru secara umum mulai membaik. Sebagian siswa yang sebelumnya menjalani perawatan intensif di rumah sakit juga mulai diperbolehkan pulang.
"Untuk kondisi saat ini, baik murid maupun guru alhamdulillah mulai membaik. Pembelajaran juga berjalan normal. Ada beberapa murid yang izin, tadi saya cek sekitar kurang dari 20, sekitar 19 yang izin tidak masuk," ujar Berti saat ditemui di sekolah, Senin (3/8).
Berti menyebut, pada Sabtu (1/8), masih terdapat sekitar 10 siswa yang menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit. Namun, sebagian besar dijadwalkan sudah dapat pulang pada Senin.
"Anak-anak yang dirawat intensif di rumah sakit insyaallah hari ini sudah mulai diperbolehkan pulang. Kemarin saat kami menjenguk hari Sabtu masih ada sekitar 10 anak yang dirawat dan sebagian besar Senin diperbolehkan pulang," katanya.
Baca Juga: BGN Suspend Dapur MBG Karangturi Buntut Dugaan Keracunan Siswa SMKN 6 Semarang
Meski begitu, sekolah belum memperbarui secara keseluruhan jumlah siswa yang masih menjalani perawatan. Pendataan akan kembali dilakukan pada Senin sore untuk memastikan jumlah siswa yang sudah pulang maupun yang masih mendapat penanganan medis.
Terkait ketidakhadiran siswa, Berti mengatakan pihak sekolah belum dapat memastikan seluruhnya berkaitan langsung dengan kejadian sebelumnya. Dari sistem presensi, tercatat 19 siswa tidak masuk dengan keterangan sakit.
"Yang jelas dari daftar presensi anak yang masuk ke sistem ada 19 anak tidak masuk karena sakit. Kemungkinan ada yang masih dirawat di rumah sakit, yang lainnya mungkin sakit karena kemarin atau kecapekan," jelasnya.
Di tengah pemulihan siswa, sekolah mengambil langkah tegas terhadap distribusi MBG. Untuk Senin, tidak ada pembagian MBG kepada siswa.
Berti mengatakan keputusan tersebut telah disampaikan kepada orang tua. Sekolah juga telah melayangkan permintaan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk menghentikan sementara distribusi makanan sembari menunggu evaluasi.
"Distribusi MBG hari ini off dulu. Hari Minggu kami sudah berkabar ke orang tua bahwa sekolah sudah melayangkan permintaan ke SPPG untuk menghentikan dulu sementara sambil evaluasi kejadian ini," ujarnya.
Penghentian sementara tersebut berlaku mulai 1 Agustus 2026 hingga batas waktu yang belum ditentukan. Sekolah akan berkoordinasi dengan orang tua dan komite sekolah sebelum menentukan langkah berikutnya.
Menurut Berti, sekolah tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan terkait keberlanjutan maupun pergantian penyedia MBG. Evaluasi dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, Badan Gizi Nasional (BGN), serta masukan orang tua menjadi pertimbangan utama.
"Kalau untuk request ganti SPPG nanti menunggu hasil evaluasi dan rekomendasi dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, BGN, kemudian internal kami. Dari orang tua nanti kami minta pendapat dan sarannya," katanya.
Jika MBG kembali dilanjutkan, sekolah berharap makanan yang diberikan benar-benar memenuhi standar keamanan dan gizi. Tidak hanya soal kandungan nutrisi, aspek sanitasi dapur penyedia juga menjadi perhatian.
"Kami ingin makanan yang dikirim itu layak saji, menyehatkan, tidak menimbulkan sakit dan bergizi. Harapan kami dapurnya memenuhi standar sanitasi," tegas Berti.
Sekolah juga berharap BGN melakukan pengawasan secara berkala terhadap dapur penyedia MBG. Mulai dari kondisi dapur, prosedur pengolahan makanan hingga bahan yang diperbolehkan digunakan.
"Harapannya BGN bisa secara periodik turun untuk mengecek kondisi dapur, prosedur pengolahan makanan, kemudian bahan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan," harapnya.
Sementara itu, pantauan di depan Dapur SPPG Karangturi terlihat sepi. Pintu gerbang dapur tampak terbuka sedikit. Hanya satu orang yang terlihat keluar masuk area dapur. Sebuah mobil SPPG juga terparkir di dalam gedung.
Lokasi dapur SPPG tersebut berada tidak jauh dari SMKN 6 Semarang. Keduanya masih berada di kawasan Jalan Sidodadi Barat. Aktivitas di sekitar dapur tampak minim, seiring penghentian sementara distribusi MBG ke sekolah.
Sementara itu, Kepala BGN Sudaryono disebut telah datang ke Semarang untuk melihat kondisi siswa yang terdampak. Namun, kunjungan tersebut tidak dilakukan ke sekolah. Sudaryono langsung mendatangi sejumlah siswa yang masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Berti mengaku bertemu dengan Sudaryono saat menjenguk siswa di RST sekitar pukul 18.00. Dalam kesempatan itu, Sudaryono menyampaikan keprihatinan dan meminta sekolah memastikan kondisi siswa terus dijaga.
"Beliau berpesan, titip anak-anak, Pak, dijaga. Beliau juga menyampaikan prihatin atas kejadian ini dan komitmen akan mengevaluasi SPPG dan dapur untuk dilakukan investigasi dan evaluasi," ungkapnya.
Sudaryono, kata dia, juga menyampaikan komitmen untuk memperbaiki layanan MBG serta memberikan santunan kepada siswa yang terdampak.
Baca Juga: 690 Siswa SMKN 6 Semarang Laporkan Keluhan Usai Santap MBG, Empat Dirujuk ke Rumah Sakit
Selain dari BGN, pihak SPPG juga disebut telah mendatangi sekolah. Berti mengatakan pihak penyedia menunjukkan itikad baik dengan menjenguk siswa di rumah sakit dan datang ke sekolah untuk menyampaikan permintaan maaf.
"SPPG kemarin beritikad baik. Bersama kami beberapa juga menengok murid di rumah sakit. Mereka juga datang ke sekolah menyampaikan permintaan maaf dan komitmen memberikan ganti rugi biaya perawatan anak, baik di rumah sakit maupun puskesmas," tuturnya.
Untuk memulihkan kondisi psikologis siswa, sekolah juga melakukan trauma healing secara internal. Guru, guru bimbingan konseling (BK) dan tim kesiswaan dilibatkan dalam pendampingan.
"Trauma healing dilakukan dari tim internal. Bapak ibu guru, BK, kesiswaan melakukan trauma healing. Dari eksternal belum ada," katanya.
Sementara itu, koordinasi dengan Dinas Pendidikan terus dilakukan sejak kejadian pertama dilaporkan pada Jumat (31/7). Sekolah menyampaikan perkembangan kondisi siswa, termasuk data perawatan dan pemulihan.
Menurut Berti, Dinas Pendidikan juga mendorong agar evaluasi dilakukan sebelum program MBG kembali berjalan.
"Dinas juga menyarankan tetap mengevaluasi program ini dan menghentikan sementara sambil menunggu evaluasi dari dapur dan rekomendasi Dinas Kesehatan. Intinya kami masih menunggu hasil evaluasi," pungkasnya.
Hingga Senin (3/8), penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami siswa dan guru SMKN 6 Semarang belum diumumkan. Sekolah memilih menghentikan sementara distribusi MBG sembari menunggu hasil investigasi dan rekomendasi dari pihak berwenang. Di sisi lain, aktivitas pembelajaran kembali berjalan normal dengan kondisi siswa yang secara umum berangsur pulih. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi